- Antara / Timnas Indonesia
Gagal Lolos ke Piala Dunia 2026, Legenda Persib Bandung dan Eks Timnas Indonesia Berani Jujur: Indonesia Minimal Juara Dulu di Piala AFF baru....
tvOnenews.com - Setelah gagal melangkah lebih jauh di putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026, sepak bola Indonesia kini menatap dua agenda besar yang tak kalah penting: Piala AFF 2026 dan Piala Dunia U-17 2025 di Qatar.
Meski kegagalan di bawah asuhan Patrick Kluivert masih membekas di benak publik, semangat kebangkitan mulai digaungkan.
Para pemain senior dan junior tengah bersiap menghadapi tantangan baru demi mengembalikan kepercayaan diri sekaligus membuktikan bahwa Garuda masih layak disegani di kancah internasional.
Timnas senior fokus membangun kekompakan dan strategi baru menjelang Piala AFF yang digelar pada akhir Juli hingga akhir Agustus 2026, sementara di level junior, pasukan Nova Arianto juga mempersiapkan diri menatap Piala Dunia U-17 dengan optimisme tinggi.
Kedua ajang tersebut menjadi momentum penting bagi kebangkitan sepak bola nasional setelah perjalanan panjang dan melelahkan di kualifikasi Piala Dunia.
Meski gagal lolos, perjuangan Garuda Nusantara patut diapresiasi karena Indonesia menjadi satu-satunya tim Asia Tenggara yang mampu menembus babak keempat kualifikasi, setelah memulai perjalanan dari fase pertama.
Namun, publik berharap pencapaian itu tak berhenti hanya sebagai “sejarah manis tanpa hasil”. Piala AFF dinilai sebagai ajang paling realistis untuk menebus kekecewaan dan mengukur kembali kualitas tim yang kini tengah dalam masa transisi pasca-Kluivert.
- Facebook - Fédération Ivoirienne de Football
Sementara itu, di kelompok usia muda, Timnas U-17 akan menjadi simbol masa depan sepak bola Indonesia, tempat munculnya generasi penerus yang diharapkan bisa membawa kejayaan di masa mendatang.
Di tengah sorotan publik tersebut, mantan pemain Timnas Indonesia Atep Rizal memberikan pandangannya mengenai arah perjalanan Garuda.
Ia menilai, sebelum berbicara banyak soal Piala Asia atau tiket ke Piala Dunia, Indonesia sebaiknya fokus menjuarai Kejuaraan ASEAN (Piala AFF) lebih dulu.
“Karena sejak dahulu Indonesia belum pernah juara (Kejuaraan ASEAN), dan itu untuk mengobati kekecewaan. Setelah juara Piala AFF baru Piala Asia, seperti itu,” ujar Atep dilansir dari Antara.
Menurutnya, target realistis ini penting untuk menjaga momentum dan memulihkan rasa percaya diri para pemain setelah kegagalan di kualifikasi Piala Dunia.
Legenda Persib Bandung itu optimistis dengan potensi skuad Garuda saat ini. Ia menilai bahwa secara kualitas, Timnas sudah menunjukkan perkembangan signifikan.
“Secara kualitas tim kita sudah teruji. Bagaimana kita mampu lolos di ronde keempat kualifikasi Piala Dunia 2026. Tapi yang paling penting sekarang adalah kita minimal targetkan dahulu Piala AFF,” ucap Atep.
Ia percaya dengan pengalaman para pemain muda seperti Marselino Ferdinan dan Pratama Arhan yang telah mencicipi level internasional, ditambah pemain naturalisasi yang semakin matang, Indonesia punya peluang besar mengangkat trofi ASEAN untuk pertama kalinya di level senior.
Namun, di tengah euforia dan tekanan tinggi dari publik, Atep juga menyoroti sisi lain yang kerap terlupakan: dukungan moral terhadap pemain.
Ia mencontohkan dua pemain Persib, Marc Klok dan Beckham Putra, yang sempat mendapat kritik keras usai kekalahan 2-3 dari Arab Saudi pada laga perdana babak keempat kualifikasi. Menurutnya, kritik wajar diberikan bila bertujuan membangun, tetapi jangan sampai berubah menjadi perundungan.
“Menurut saya jangan sampai mem-bully pemain karena setiap pemain tentunya ingin menampilkan yang terbaik. Dan pemain juga tidak ujug-ujug ingin bermain. Pastinya ada perintah dari pelatih. Pelatih yang melihat,” ujar Atep menegaskan.
Ia juga menambahkan, kegagalan di lapangan seharusnya dipandang sebagai bagian dari proses pembelajaran, bukan alasan untuk menjatuhkan.
“Kalau pun tidak sesuai harapan, mungkin itu bagian dari sebuah risiko. Tapi, kalau mem-bully, saya tidak setuju. Tapi kalau mengkritik untuk membangun, sah-sah saja. Jadi, lebih ke membangkitkan semangatnya lagi untuk kembali lagi mentalnya. Kalau mem-bully itu jadi membuat pemain down,” tutupnya.
Dengan semangat pembenahan dan refleksi dari pengalaman pahit di kualifikasi Piala Dunia 2026, baik tim senior maupun junior kini berada di jalur yang sama: membangun kembali kepercayaan publik dan memperkuat fondasi prestasi.
Piala AFF dan Piala Dunia U-17 bukan hanya sekadar ajang pertandingan, tetapi juga simbol arah baru sepak bola Indonesia, sebuah tekad kolektif untuk membuktikan bahwa Garuda mampu bangkit, belajar dari kegagalan, dan terbang lebih tinggi menuju masa depan yang gemilang. (udn)