news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Pemain Timnas Indonesia, Ivar Jenner Resmi ke Dewa United.
Sumber :
  • dewaunited.com

Pantas Pemain Naturalisasi Timnas Indonesia Berbondong-bondong Pindah ke Super League, Bung Harpa Singgung soal Gaji

Bung Harpa mencoba menelusuri apa penyebab banyaknya pemain naturalisasi yang memutuskan untuk pindah ke Super League. Salah satu yang disorot soal gaji mereka.
Kamis, 19 Februari 2026 - 10:36 WIB
Reporter:
Editor :

tvOnenews.com - Saat ini pecinta sepak bola Tanah Air sedang dihebohkan dengan fenomena pemain naturalisasi Timnas Indonesia yang berbondong-bondong pindah ke Super League.

Padahal pemain tersebut sebelum dinaturalisasi aktif di liga luar negeri.

Namun sekarang satu per satu pemain tersebut pindah ke Super League.

Bukan hanya pemain yang sudah menginjak usia 30 tahun ke atas, melainkan juga pemain-pemain muda.

Fenomena ini membuat miris sebagian orang karena menganggap hal itu sebagai penurunan kualitas yang pada akhirnya berdampak ke Timnas Indonesia.

Di usia yang masih muda, para pemain tersebut diharapkan mengumpulkan banyak pengalaman di luar negeri, bukan malah ke Super League.

Menurut Bung Harpa, jika sudah bermain di Super League, maka akan sulit bagi mereka untuk kembali ke luar negeri lagi.

Bung Harpa coba menelusuri apa penyebab banyaknya pemain naturalisasi yang memilih untuk pindah ke Super League.

Salah satu faktor yang menurut Bung Harpa sangat berpengaruh adalah soal gaji yang ditawarkan kepada para pemain.

Bung Harpa mengungkapkan bahwa gaji Asnawi Mangkualam saat pertama kali main di Korea Selatan itu hanyalah sepertiga dari gaji di Super League.

"Dia kasih sampel itu di Korea Selatan, kalau lu baru main itu gajinya bisa sepertiga di Liga 1 saat itu," ungkap Bung Harpa, seperti dilansir tvOnenews.com dari kanal YouTube Ruang Publik.

Hal ini menunjukkan fakta bahwa gaji di Super League begitu besar dan menggiurkan dibanding di luar negeri.

Di sisi lain, tentunya pemain memiliki ambisi sendiri terkait finansial mereka.

"Kadang-kadang susah juga untuk beberapa orang mungkin dia punya keresahan, keresahan yang dari dulu mereka pikul misalnya mohon maaf dia belum punya rumah, mau naikin haji orang tuanya," ujar Bung Harpa.

"Nah tiba-tiba dia dapat tawaran gaji yang gede yang impian itu, keresahan itu bisa diselesaikan, ya susah juga menolak tawaran itu," lanjutnya.

Masyarakat pun tidak bisa memaksakan kehendak para pemain tersebut untuk tetap bermain di luar negeri.

"Sementara kita juga maksa-maksa lu main di luar dong," kata Bung Harpa.

Bung Harpa juga menceritakan betapa kerasnya perjuangan Marselino Ferdinan ketika bermain di luar negeri.

"Orangnya asing segala macem, gajinya kecil, coba balikin ke diri kita, emang susah juga," ujar Bung Harpa.

"Ini udah di Tanah Air, bisa makan sop kaki kambing setiap seminggu sekali, gaji gede, deket sama orang tua," lanjutnya.

Oleh sebab itulah agak sulit untuk menyikapi persoalan banyaknya pemain diaspora yang kini memilih pindah ke Super League.

"Agak susah juga untuk kita ngejudge mereka juga, tidak hitam-putih juga," kata Bung Harpa.

"Kalau kita pribadi sih ya pasti pengen mereka compete di sana kan, cuma ya ada benernya juga bahwa itu hak asasi mereka," lanjutnya.

Maka yang perlu diperhatikan adalah bagaimana agar para pemain diaspora tetap bisa mempertahankan kualitas mereka meski bermain di Super League.

Jangan sampai sudah pindah ke Super League malah minim menit bermain dan mengalami penurunan kualitas.

(far)

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

03:53
03:19
03:37
06:06
16:30
07:29

Viral