- Kitagaruda.id
Irak Mempertimbangkan Mundur, Timnas Indonesia Bisa Gapai Mimpi Merumput di Piala Dunia 2026?
tvOnenews.com - Panggung sepak bola dunia saat ini sedang berada dalam situasi genting. Setelah kabar mengejutkan mengenai mundurnya Iran dari putaran final Piala Dunia 2026, kini giliran Irak yang dikabarkan siap mengambil langkah ekstrem serupa.
Krisis geopolitik ini memicu kekhawatiran besar bahwa turnamen yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko tersebut bisa goyah sebelum peluit pertama dibunyikan.
Kabar mengenai potensi mundurnya Singa Mesopotamia ini pertama kali diledakkan oleh Topskills Sports UK melalui platform X.
Federasi Sepak Bola Irak (IFA) dilaporkan tengah menimbang serius untuk menarik diri mengikuti jejak tetangga mereka, Iran.
Irak yang awalnya diprediksi bisa mengambil keuntungan dari mundurnya Iran, justru merasa perjalanan menuju Amerika Serikat terlalu berisiko.
Tensi politik yang membara antara Zionis-Washington dan wilayah Timur Tengah menjadi alasan utama di balik kekhawatiran terhadap jaminan keamanan para pemain mereka.
Peluang emas bagi Skuad Garuda?
- AFC
Jika Irak benar-benar angkat kaki, secara hierarki posisi mereka seharusnya digantikan oleh Uni Emirat Arab (UEA).
Namun, mengingat situasi kawasan yang kian memanas, bukan tidak mungkin UEA akan mengambil sikap yang sama demi alasan keamanan.
Di sinilah nama Timnas Indonesia mulai muncul ke permukaan. Jika terjadi pengunduran diri massal dari wakil-wakil Asia di peringkat atas, FIFA mau tidak mau harus menunjuk tim pengganti berdasarkan peringkat terbaik dari putaran kualifikasi sebelumnya untuk memenuhi kuota 48 tim.
Secara teknis, Indonesia yang telah berjuang hingga Putaran Keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia berada dalam radar "pemanggilan darurat" jika slot tersebut kosong.
Mimpi siang bolong yang bisa jadi kenyataan
- Instagram Elkan Baggott
Bagi suporter fanatik Skuad Garuda, situasi ini bak mendapatkan "durian runtuh". Harapan yang sempat terkubur setelah gagal di Putaran Keempat mendadak hidup kembali karena celah administratif.
Meski demikian, hingga saat ini belum ada pernyataan resmi dari IFA maupun federasi UEA mengenai keputusan akhir mereka.
Di satu sisi, publik Indonesia mungkin berharap pada mukjizat, namun di sisi lain, fenomena ini menjadi pengingat pahit bagi dunia sepak bola, yakni tanpa jaminan keamanan yang merata, turnamen sebesar Piala Dunia terancam kehilangan marwah dan para peserta terbaiknya. (ism)