- ANTARA FOTO/Fauzan
Timnas Indonesia Terpopuler: Bulgaria Sebut Garuda Lebih Oke, Media Vietnam Heran, Starting XI Disorot
tvOnenews.com - Timnas Indonesia kembali menjadi sorotan publik usai tampil di final FIFA Series 2026.
Meski harus mengakui keunggulan Bulgaria dengan skor tipis, performa Skuad Garuda justru menuai banyak pujian.
Tak hanya dari dalam negeri, apresiasi datang dari pelatih lawan hingga media asing.
Permainan disiplin dan penuh keberanian membuat Indonesia tampil jauh dari sekadar tim pelengkap.
Berikut tiga berita terpopuler Timnas Indonesia yang paling menyita perhatian.
Bulgaria Akui Garuda Lebih Oke
- X @timnasindonesia
Kekalahan tipis 0-1 dari Bulgaria di final FIFA Series 2026 ternyata tidak sepenuhnya mencerminkan jalannya pertandingan.
Bermain di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senin (30/3/2026), Indonesia justru tampil lebih agresif dan dominan dalam penguasaan bola.
Gol semata wayang Bulgaria dicetak oleh Marin Petkov melalui penalti pada menit ke-38. Namun setelah itu, Indonesia tampil menekan dan terus menggempur pertahanan lawan sepanjang pertandingan.
Media Bulgaria, Top Sport, bahkan mengakui bahwa Indonesia memberikan perlawanan sengit dan lebih unggul dalam penguasaan bola.
Mereka juga menyoroti dua momen krusial ketika peluang emas Indonesia hanya membentur mistar gawang di babak kedua.
Tim asuhan John Herdman menunjukkan peningkatan signifikan, terutama dalam hal keberanian menyerang dan intensitas permainan.
Peluang dari Ole Romeny dan Rizky Ridho hampir saja mengubah jalannya laga.
Di sisi lain, performa Emil Audero di bawah mistar juga patut diapresiasi setelah menggagalkan peluang emas lawan dalam situasi satu lawan satu.
Meski harus puas sebagai runner-up, laga ini menjadi bukti bahwa Timnas Indonesia kini mampu bersaing secara kualitas dengan tim-tim Eropa.
Jika penyelesaian akhir lebih maksimal, hasil pertandingan bisa saja berbeda.
Media Vietnam Heran
- FIFA.com
Penampilan Timnas Indonesia di final juga menarik perhatian media Vietnam, TheThao247. Mereka menyoroti bagaimana Indonesia tampil percaya diri dan mampu mengontrol permainan, meski berstatus sebagai underdog.
Sejak awal pertandingan, Indonesia langsung mengambil inisiatif serangan dan menguasai bola.
Permainan cepat dari sektor sayap menjadi salah satu senjata utama yang kerap merepotkan pertahanan Bulgaria.
“Indonesia mengejutkan semua orang dengan memulai pertandingan dengan percaya diri dan mengendalikan permainan di menit-menit awal,” tulis media tersebut.
Sayangnya, dominasi tersebut belum mampu dikonversi menjadi gol.
Beberapa peluang emas, termasuk tendangan cungkil Ole Romeny yang membentur mistar, menjadi bukti bahwa Indonesia sebenarnya punya kesempatan besar untuk menyamakan kedudukan.
Meski kalah, performa agresif dan proaktif ini menjadi catatan positif yang menunjukkan perkembangan signifikan dari Skuad Garuda.
Starting Eleven Disorot
- Kitagaruda.id
Sebelum laga dimulai, perhatian publik sudah tertuju pada susunan pemain yang dirilis. Keputusan John Herdman melakukan rotasi besar langsung memicu perdebatan di media sosial.
Sejumlah nama seperti Maarten Paes, Elkan Baggott, hingga Jordi Amat harus memulai pertandingan dari bangku cadangan.
Sebagai gantinya, Herdman menurunkan kombinasi pemain berbeda termasuk Emil Audero, Justin Hubner, dan Joey Pelupessy.
Namun, sorotan utama tertuju pada keputusan tetap memainkan Ramadhan Sananta sebagai ujung tombak. Hal ini memicu beragam komentar dari netizen yang mempertanyakan pilihan tersebut.
Komentar seperti “sananta lagi” hingga “pria nomor 9 itu lagi” ramai menghiasi lini masa, mencerminkan tingginya ekspektasi publik terhadap lini depan Garuda.
Meski begitu, Herdman memiliki alasan taktis di balik pilihannya. Ia menginginkan keseimbangan antara kekuatan fisik dan mobilitas untuk menghadapi Bulgaria yang dikenal disiplin dan kuat dalam transisi cepat.
Selain itu, fleksibilitas pemain seperti Kevin Diks juga menjadi bagian penting dari strategi yang diterapkan. Diks sendiri menegaskan kesiapannya bermain di berbagai posisi demi kebutuhan tim.
Laga ini pun tak hanya menjadi ujian strategi, tetapi juga panggung pembuktian bagi para pemain—terutama Sananta yang berada di bawah tekanan besar publik.
(ism/tsy)