- tvonenews.com - Julio Tri Saputra
Pengakuan Jujur Maarten Paes kepada Media Belanda soal Keputusan Dinaturalisasi demi Bela Timnas Indonesia
Jakarta, tvOnenews.com - Kiper Timnas Indonesia, Maarten Paes, membuat pengakuan soal keputusannya dinaturalisasi. Sang penjaga gawang memutuskan untuk menanggalkan kewarganegaraan Belanda-nya.
Paes telah menjadi andalan untuk skuad Garuda sejak dinaturalisasi pada pertengahan tahun 2024 silam. Sang penjaga gawang berusia 27 tahun kini telah mengemas total 11 caps bersama skuad Garuda.
Pada saat dinaturalisasi, Paes merupakan kiper andalan FC Dallas, sebuah klub yang berlaga di kasta tertinggi sepak bola Amerika Serikat. Kini, dia membela Ajax Amsterdam di negara asalnya, Belanda.
Maarten Paes lahir dan besar di Nijmegen, Belanda. Dia sempat membela klub kasta tertinggi Liga Belanda, FC Utrecht, sebelum berangkat ke Amerika Serikat pada 2022.
Kini kembali ke Belanda, Paes ditanyakan oleh media setempat, NU, mengenai keputusannya untuk menukar kewarganegaraan. Sang kiper berusia 27 tahun mengaku mengambil keputusan itu demi mendiang neneknya.
“Ketika saya diminta untuk membela Indonesia, nenek saya sudah berada di akhir masa hidupnya,” kata Paes kepada media Belanda, NU.
Paes mengungkap bagaimana neneknya menjadi penyebab dirinya memilih Timnas Indonesia. Jauh sebelum dinaturalisasi, sang kiper sudah diperkenalkan kepada kebudayaan Indonesia berkat nenek.
“Saya bersyukur untuk warisannya. Saya memiliki ikatan spesial dengannya. Dia memperkenalkan saya kepada negara [Indonesia]. Kami sering memasak makanan Indonesia bersama-sama,” tambahnya.
Paes juga berbicara bagaimana perjuangan neneknya di masa perang dunia kedua. Pada saat itu, Indonesia dijajah oleh Jepang dan sang nenek bersama keluarganya ikut terdampak.
"Di Hindia Belanda, keheningan adalah konsep kunci. Tapi nenek menceritakan kepada saya hal-hal yang belum pernah dia ceritakan kepada orang lain. Saya rasa nenek setidaknya pernah mengalami dua belas kali pengalaman nyaris mati,” tandasnya.
“Sebagai seorang anak di Hindia Belanda, dia selamat dari Perang Dunia Kedua. Dia baru berusia lima tahun ketika ibunya meninggal di kamp interniran Jepang," sambungnya.
Sang nenek kemudian pergi ke Belanda setelah Indonesia merdeka. Paes mengenang bahwa sang nenek merasakan kehidupan yang sepenuhnya berbeda di Belanda.
"Di sana ia berdiri, mengenakan gaun tipis, melihat salju untuk pertama kalinya dalam hidupnya. Ia memasuki dunia yang sama sekali berbeda. Setelah itu, ia mencoba menyatukan kedua budaya tersebut," tukasnya. (rda)