Pemprov DKI Jakarta Percepat Pembersihan Tuntas Sampah Di Pasar Induk Kramat Jati
Jakarta, tvOnenews.com - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mempercepat penanganan persoalan Sampah di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, dengan mendorong pengolahan sampah mandiri berbasis organik.
Langkah tersebut dilakukan menyusul tingginya volume sampah yang menumpuk akibat gangguan operasional di TPST Bantargebang.
Hingga April 2026, tercatat sekitar 6.970 ton sampah sempat menumpuk di sejumlah wilayah Jakarta. Untuk mengatasi kondisi tersebut, Pemprov DKI menambah armada pengangkut sampah menuju Bantargebang sekaligus mempercepat penerapan sistem pengolahan sampah dari sumbernya.
Pasar Induk Kramat Jati menjadi salah satu lokasi prioritas karena merupakan pasar terbesar di Jakarta dan menghasilkan volume sampah cukup tinggi setiap hari. Aktivitas perdagangan sayur, buah, dan kebutuhan pangan harian membuat timbulan sampah di pasar tersebut mencapai sekitar 200 ton per hari.
Perumda Pasar Jaya kini tengah menyiapkan fasilitas pengolahan sampah mandiri yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2027.Â
Program ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pengiriman sampah ke TPST Bantargebang yang selama ini menjadi lokasi utama pembuangan akhir sampah ibu kota.
Di kawasan pasar, pengelola mulai menerapkan pemilahan sampah menjadi empat kategori, yakni sampah organik, anorganik, bahan berbahaya dan beracun (B3), serta residu. Sampah organik seperti daun dan sisa bahan pangan akan diolah langsung di area pasar, sementara sampah residu, anorganik tertentu, dan B3 tetap dikirim ke Bantargebang.
Divisi Operasional Pasar Jaya, Yohanes, mengatakan langkah tersebut merupakan tindak lanjut Instruksi Gubernur DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2026 tentang pemilahan sampah dari hulu. Menurutnya, Pasar Jaya telah melakukan sosialisasi dan edukasi kepada pedagang agar memilah sampah sesuai jenisnya sejak dari sumber.
Ia menjelaskan mulai 1 Agustus 2026, sampah yang diperbolehkan dibuang ke Bantargebang hanya sampah residu dan B3. Karena itu, pengolahan sampah organik secara mandiri menjadi fokus utama untuk mengurangi beban tempat pembuangan akhir.
Selain pengolahan sampah organik, Pasar Jaya juga mengembangkan bank sampah untuk memilah dan mendaur ulang sampah plastik seperti botol kemasan.Â
Pengelola menilai keberhasilan program tersebut tidak hanya bergantung pada teknologi pengolahan, tetapi juga kesadaran pedagang dan masyarakat dalam memilah sampah secara mandiri.
Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, volume sampah Jakarta mencapai sekitar 8.000 ton per hari dan sebagian besar masih bergantung pada TPST Bantargebang.Â
Kondisi tersebut membuat kapasitas Bantargebang semakin terbebani sehingga pemerintah daerah mulai memperluas strategi pengolahan sampah berbasis kawasan dan sumber sampah.