news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Son Heung-min usai laga Afrika Selatan vs Korea Selatan di Piala Dunia 2026.
Sumber :
  • REUTERS/Eloisa Sanchez

Piala Asia 2027 Terancam Mundur, AFC Tiba-tiba Soroti Misi Terakhir Son Heung-min

AFC menyoroti Son Heung-min sebagai tumpuan Korea Selatan untuk mengakhiri puasa gelar Piala Asia selama 66 tahun pada edisi 2027. Namun, di tengah meningkat.
Minggu, 18 Oktober 2026 - 21:12 WIB
Reporter:
Editor :

tvOnenews.com - Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) menyoroti ambisi terakhir Son Heung-min untuk membawa Korea Selatan mengakhiri penantian panjang meraih gelar juara Piala Asia.

Kapten timnas Korea Selatan itu dinilai menjadi sosok penting yang berpeluang memutus puasa gelar selama 66 tahun. Namun, meningkatnya ketegangan militer di kawasan Timur Tengah, khususnya di sekitar Arab Saudi sebagai tuan rumah, menimbulkan tanda tanya mengenai kepastian penyelenggaraan turnamen sesuai jadwal.

Pada 16 Oktober waktu setempat, AFC melalui situs resminya menunjuk Son Heung-min sebagai salah satu pemain Korea Selatan yang patut mendapat perhatian di Piala Asia 2027 yang akan berlangsung di Arab Saudi.

Kapten Timnas Korea Selatan, Son Heung-min
Sumber :
  • REUTERS/Paul Childs

AFC menyebut, "Son Heung-min telah membuktikan dirinya sebagai salah satu pemain terhebat di sepak bola Asia." Mereka juga memperkirakan, "Turnamen ini akan menjadi tantangan kelima dan terakhirnya untuk memimpin Korea Selatan meraih gelar juara pertama sejak 1960."

Perjalanan Son Heung-min di Piala Asia dimulai pada edisi 2011 yang berlangsung di Qatar. Saat itu, ia baru berusia 19 tahun dan mulai mencuri perhatian setelah mencetak gol internasional pertamanya dalam pertandingan fase grup melawan India.

Sejak debut tersebut, Son telah mengikuti empat edisi Piala Asia secara beruntun. Ia kembali memperkuat Korea Selatan pada turnamen 2015 di Australia, edisi 2019 di Uni Emirat Arab (UEA), dan Piala Asia 2023 yang juga digelar di Qatar.

Meski memiliki rekam jejak panjang bersama tim nasional, Son belum berhasil mengangkat trofi Piala Asia. Peluang terbesarnya datang pada edisi 2015 di Australia ketika Korea Selatan melaju hingga partai final menghadapi tuan rumah.

Dalam pertandingan tersebut, Son mencetak gol penyeimbang dramatis pada masa tambahan waktu babak kedua. Gol itu membuat pertandingan berlanjut ke babak perpanjangan waktu setelah Korea Selatan sempat tertinggal.

Namun, harapan untuk meraih gelar juara akhirnya pupus. Australia berhasil mencetak gol penentu kemenangan pada babak perpanjangan waktu dan mengakhiri pertandingan dengan skor 2-1. Kekalahan menyakitkan itu membuat Son tak kuasa menahan air mata.

Empat tahun kemudian, Korea Selatan kembali gagal memenuhi ambisinya. Pada Piala Asia 2019 di UEA, mereka harus tersingkir di babak perempat final setelah kalah dari Qatar.

Kegagalan kembali menghantui Son dan rekan-rekannya pada Piala Asia 2023. Korea Selatan sempat melewati pertandingan dramatis melawan Arab Saudi dan Australia untuk memastikan tempat di semifinal. Akan tetapi, langkah mereka terhenti setelah kalah 0-2 dari Yordania.

Kekalahan tersebut semakin memperburuk situasi karena terjadi di tengah kontroversi mengenai kepemimpinan pelatih Jürgen Klinsmann serta konflik internal di dalam skuad. Korea Selatan pun kembali gagal mengakhiri penantian panjang mereka untuk menjadi juara Asia.

Karier Gemilang Son Heung-min di Level Klub

Walaupun belum berhasil mempersembahkan gelar Piala Asia bagi negaranya, Son Heung-min memiliki perjalanan karier yang cemerlang di level klub. AFC turut menyoroti kiprahnya di Eropa, terutama saat memperkuat sejumlah klub Jerman sebelum bergabung dengan Tottenham Hotspur pada 2015.

Son sebelumnya membela Hamburg dan Bayer Leverkusen. Setelah pindah ke Tottenham, ia berkembang menjadi salah satu pemain andalan di Liga Primer Inggris dan menghabiskan sekitar satu dekade bersama klub asal London tersebut.

Pada musim 2018-2019, Son membantu Tottenham mencapai final Liga Champions UEFA. Setahun kemudian, ia meraih Penghargaan FIFA Puskás berkat gol solo spektakuler yang dicetaknya saat menghadapi Burnley pada musim 2019-2020.

Prestasi individu lainnya hadir pada musim 2021-2022. Son mencetak 23 gol di Liga Primer Inggris dan menjadi pemain Asia pertama yang meraih Sepatu Emas bersama Mohamed Salah sebagai pencetak gol terbanyak kompetisi tersebut.

Pencapaian penting lainnya datang pada musim 2024-2025. Sebagai kapten Tottenham, Son turut memimpin tim meraih gelar Liga Europa UEFA. Keberhasilan itu sekaligus mengakhiri penantian panjang Tottenham untuk kembali mengangkat trofi utama.

Perjalanan karier Son kemudian berlanjut ke Amerika Serikat setelah ia bergabung dengan Los Angeles FC (LAFC) di Major League Soccer (MLS) pada musim panas 2025.

Performa impresifnya tetap terjaga bersama klub barunya. Son mencatatkan tujuh gol dan 15 assist di MLS musim ini. Jika penampilannya di Piala Champions CONCACAF turut diperhitungkan, ia telah mengumpulkan sembilan gol dan 22 assist.

Dalam pertandingan melawan Austin FC pada 15 Oktober, Son kembali menunjukkan kontribusi besarnya dengan mencetak satu gol dan menyumbangkan dua assist. Penampilan tersebut membantu LAFC meraih kemenangan 3-1.

Berkat performa itu, Son kembali masuk dalam daftar 'Tim Terbaik Pertandingan' MLS untuk ketiga kalinya pada musim ini.

Tetap Menjadi Tumpuan Timnas Korea Selatan

Kontribusi Son Heung-min bagi tim nasional juga masih sangat besar. Pada 6 Oktober, ia mencetak gol melalui tendangan bebas dalam pertandingan persahabatan melawan Uzbekistan.

Gol tersebut menambah koleksi gol internasionalnya menjadi 59, sekaligus mencatatkan rekor sebagai pencetak gol terbanyak dalam sejarah pertandingan internasional kategori A untuk pemain sepak bola pria Korea Selatan, sebagaimana disebutkan dalam laporan tersebut.

Son juga tetap dipercaya memimpin tim sebagai kapten dalam persiapan menuju Piala Dunia 2026. Di bawah arahan pelatih sementara Robert Moreno, ia masih menjadi salah satu tumpuan utama dalam membangun serangan Korea Selatan.

AFC menilai kontribusi Son belum berkurang meskipun sang pemain semakin mendekati penghujung karier profesionalnya.

"Meskipun Son Heung-min mendekati akhir karier bermainnya, pengaruhnya pada tim nasional Korea Selatan tetap signifikan," demikian penilaian AFC.

Mereka juga menegaskan bahwa "ia akan memainkan peran kunci dalam tantangan Taegeuk Warriors untuk meraih gelar Piala Asia sekali lagi."

Korea Selatan sendiri terakhir kali menjadi juara Piala Asia pada 1960. Sebelumnya, mereka juga menjuarai edisi perdana turnamen tersebut pada 1956, sehingga berhasil meraih gelar secara beruntun.

Sejak keberhasilan tersebut, Korea Selatan belum pernah kembali menempati posisi tertinggi di kompetisi sepak bola paling bergengsi di Asia itu. Penantian yang telah berlangsung selama 66 tahun membuat Piala Asia 2027 berpotensi menjadi kesempatan penting bagi Son untuk menorehkan sejarah bersama negaranya.

Jika tampil di Arab Saudi sesuai jadwal, Son akan menjalani penampilan kelimanya di Piala Asia. Ia pun berpeluang menutup perjalanan panjangnya di turnamen tersebut dengan mengangkat trofi yang selama ini belum berhasil diraihnya.

Ketegangan di Timur Tengah Timbulkan Ketidakpastian

Di tengah ambisi besar Son dan timnas Korea Selatan, situasi keamanan di negara tuan rumah justru menimbulkan kekhawatiran baru. Piala Asia 2027 dijadwalkan berlangsung pada 7 Januari hingga 5 Februari 2027 di tiga kota di Arab Saudi, yakni Riyadh, Jeddah, dan Al Khobar.

Namun, serangkaian laporan mengenai serangan yang menargetkan wilayah Arab Saudi memunculkan pertanyaan tentang jaminan keselamatan bagi pemain, ofisial, dan penonton yang akan menghadiri turnamen tersebut.

Ketegangan semakin meningkat setelah muncul laporan mengenai kerusakan pada sejumlah fasilitas penting, termasuk bandara dan infrastruktur energi, akibat serangan yang dikaitkan dengan kelompok pemberontak Houthi dari Yaman.

Sejumlah laporan menyebutkan bahwa Bandara Internasional King Khalid di Riyadh menjadi sasaran serangan rudal pada 10 Oktober. Insiden tersebut dilaporkan diikuti serangkaian serangan lanjutan yang menimbulkan korban jiwa.

Situasi ini memicu perhatian terhadap dampaknya bagi penyelenggaraan ajang olahraga internasional. Bandara dan infrastruktur transportasi merupakan fasilitas penting yang menunjang mobilitas tim peserta, ofisial, media, serta suporter dari berbagai negara.

Dengan meningkatnya kekhawatiran terhadap keamanan kawasan, kepastian penyelenggaraan Piala Asia 2027 sesuai jadwal pun menjadi sorotan. AFC dan pihak terkait perlu mempertimbangkan berbagai faktor, terutama keselamatan seluruh pihak yang terlibat dalam turnamen.

Di sisi lain, pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, terus memantau potensi pemain diaspora baru untuk memperkuat skuad Garuda menjelang Piala Asia 2027.

Pelatih Timnas Indonesia John Herdman
Sumber :
  • tvOnenews-Ilham Giovani

Turnamen tersebut akan menjadi ajang penting bagi Herdman dalam melanjutkan kiprahnya bersama Timnas Indonesia. Tantangan yang dihadapi pun tidak mudah karena skuad Garuda tergabung dalam grup berat bersama Jepang, Qatar, dan Thailand.

Meski berhasil membawa Indonesia menjuarai FIFA ASEAN Cup 2026, Herdman menyadari bahwa timnya masih perlu melakukan pembenahan untuk menghadapi persaingan di level Asia.

Karena itu, pelatih asal Kanada tersebut terus membuka peluang bagi pemain diaspora untuk memperkuat Timnas Indonesia. Salah satu nama yang belakangan mencuat adalah Demiane Agustien.

Gelandang muda Arsenal tersebut disebut memiliki garis keturunan Indonesia-Mesir dari pihak ibu. Neneknya juga dikabarkan lahir di Jakarta, sehingga namanya mulai menjadi sorotan dalam pembahasan mengenai potensi pemain diaspora yang bisa memperkuat skuad Garuda.
 

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

04:56
08:50
02:47
06:54
06:16
06:20

Viral