Bencana, Krisis Geopolitik dan Ekonomi: dan Antara Waspada dan Kecemasan Massal
Jakarta, tvOnenews.com - Di tengah tingginya curah hujan, angin kencang, serta bayang-bayang krisis ekonomi dan geopolitik global, kesiapsiagaan publik kian terasa terusik. Media sosial dipenuhi beragam konten mulai dari tas siaga bencana, panduan bertahan hidup, hingga simulasi menghadapi kondisi darurat.
Fenomena ini memunculkan dua sikap yang berjalan beriringan di tengah masyarakat, yakni rasa cemas sekaligus waspada terhadap potensi bencana alam dan dampak ketidakstabilan geopolitik dunia.
Tidak sedikit warga yang mulai melakukan langkah mitigasi mandiri dengan menyusun rencana bertahan hidup (survival plan) serta menyiapkan tas bencana berisi kebutuhan dasar.
Namun, muncul pertanyaan di ruang publik: apakah perilaku tersebut merupakan bentuk naluri bertahan hidup (survival instinct) yang wajar, atau justru didorong oleh kecemasan berlebihan akibat paparan informasi yang masif?
Pengamat menilai, kesiapsiagaan merupakan respons rasional terhadap risiko nyata, terutama di negara rawan bencana seperti Indonesia.
Penyusunan tas siaga dan perencanaan darurat dapat membantu masyarakat lebih siap menghadapi situasi krisis.
Namun, ketika informasi yang dikonsumsi bersifat sensasional, berulang, dan tidak disertai konteks yang memadai, hal itu berpotensi memicu kecemasan kolektif.
Media sosial dalam kondisi ini berperan ganda. Di satu sisi, ia menjadi sarana edukasi mitigasi bencana. Di sisi lain, arus konten yang menekankan ancaman tanpa penjelasan proporsional dapat memperbesar rasa takut dan menciptakan persepsi risiko yang berlebihan.
Karena itu, masyarakat diimbau untuk tetap bersikap kritis dan seimbang dalam menyerap informasi. Kewaspadaan dinilai penting, namun perlu dibedakan antara kesiapan yang berbasis pengetahuan dengan kecemasan yang lahir dari ketidakpastian dan informasi yang tidak tervalidasi.