AS Mengalami Kenaikan Harga Bahan Bakar Minyak
Jakarta, tvOnenews.com - Gelombang demonstrasi menolak operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran masih terus berlangsung di sejumlah kota besar, seperti New York, Washington DC, San Francisco, Philadelphia, hingga Los Angeles.
Aksi yang digelar kelompok anti-perang ini terjadi sejak hari pertama serangan dan terus berlanjut, terutama pada akhir pekan. Massa menuntut Presiden Donald Trump menghentikan operasi militer dan sebagian bahkan meminta dirinya mundur dari jabatan.
Di sisi lain, dampak konflik mulai dirasakan langsung oleh masyarakat Amerika Serikat, salah satunya melalui kenaikan harga bahan bakar.
Harga bensin dilaporkan mengalami kenaikan signifikan dalam beberapa pekan terakhir, dipicu terganggunya distribusi energi global, termasuk di kawasan Selat Hormuz.
Selain itu, perdebatan tajam juga terjadi di parlemen Amerika Serikat. Anggota Kongres dari Partai Demokrat dan Republik terbelah dalam menyikapi kebijakan militer tersebut.
Upaya untuk membatasi kewenangan presiden melalui rancangan War Powers Resolution sempat diajukan, namun gagal disahkan.
Penolakan juga datang dari sebagian sekutu Amerika Serikat. Di dalam negeri, survei menunjukkan hanya sekitar 20 hingga 30 persen warga yang mendukung operasi militer, sementara mayoritas lainnya menolak.
Dampak konflik tidak hanya pada ekonomi, tetapi juga pada korban jiwa di pihak militer. Dilaporkan sejumlah tentara Amerika Serikat tewas dan ratusan lainnya mengalami luka-luka.
Pemerintah bahkan telah mengerahkan tambahan sekitar 2.500 pasukan marinir untuk memperkuat operasi.
Meski mendapat tekanan dari publik dan politik, hingga saat ini pemerintah Amerika Serikat belum menunjukkan tanda-tanda akan menghentikan operasi militer. Upaya diplomasi pun masih belum terlihat, sementara eskalasi konflik terus meningkat.