news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Aramco Saudi dan Fasilitas Minyak Qatar Jadi Sasaran Rudal Perang Iran-AS Israel

Jumat, 20 Maret 2026 - 09:31 WIB
Reporter:

Jakarta, tvOnenews.com - Konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel kini memasuki babak baru setelah serangan mulai menyasar fasilitas energi di kawasan Timur Tengah. Kondisi ini dinilai berpotensi memperluas konflik dan meningkatkan dampak global.

Analis politik Hasibullah Satrawi menilai, perubahan pola serangan ini menunjukkan adanya eskalasi signifikan dibanding fase awal perang yang lebih berfokus pada target militer.

Menurutnya, serangan terhadap fasilitas energi, termasuk di negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, justru memperbesar risiko konflik melebar ke kawasan yang lebih luas.

Ia menilai langkah tersebut lebih banyak didorong oleh kepentingan Israel yang ingin memperdalam keterlibatan Amerika Serikat dalam konflik.

Hasibullah menyebut, strategi ini berpotensi menjebak Amerika Serikat agar semakin sulit keluar dari konflik, sekaligus meningkatkan tekanan terhadap Iran.

Di sisi lain, Iran sejak awal dinilai menggunakan strategi serangan berlapis, baik melalui serangan langsung seperti rudal jarak jauh maupun tekanan tidak langsung melalui jalur strategis seperti Selat Hormuz.

Jika jalur energi global terganggu, dampaknya tidak hanya dirasakan negara-negara di kawasan, tetapi juga ekonomi dunia, mengingat pentingnya pasokan minyak dari Timur Tengah.

Lebih lanjut, ia melihat adanya tanda-tanda perubahan sikap dari negara-negara Teluk. Pernyataan yang semakin tegas dari Arab Saudi serta langkah Qatar yang mengusir pejabat Iran dinilai sebagai sinyal meningkatnya ketegangan.

Namun, keterlibatan langsung negara-negara Teluk dalam konflik dinilai masih menjadi dilema. Di satu sisi, mereka menghadapi ancaman keamanan, namun di sisi lain keterlibatan dalam perang berisiko memicu reaksi negatif di dunia Islam.

Selain itu, meningkatnya korban jiwa, termasuk dari kalangan pejabat Iran, serta meluasnya target serangan diperkirakan akan memperpanjang konflik.

Dengan kondisi tersebut, analis memperkirakan perang berpotensi berlangsung lebih lama dan semakin kompleks, terutama jika serangan terhadap fasilitas energi terus berlanjut dan menyeret lebih banyak negara ke dalam konflik.

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

00:47
01:46
05:08
05:08
05:09
05:05

Viral