news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Lemahnya Rupiah Berimbas ke Perajin Tahu dan Tempe

Selasa, 9 Juni 2026 - 13:08 WIB
Reporter:

Jakarta, tvOnenews.com - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai dirasakan para perajin tahu dan tempe yang masih bergantung pada bahan baku kedelai impor.

Kondisi ini membuat biaya produksi meningkat dan memaksa pelaku usaha mencari berbagai cara agar tetap bertahan tanpa menaikkan harga jual.

Rahono, seorang perajin tempe di kawasan Bangka, Jakarta Selatan, mengaku kenaikan harga kedelai akibat melemahnya rupiah memberikan tekanan besar terhadap usahanya. 

Menurutnya, bahan baku utama pembuatan tempe tersebut masih didominasi kedelai impor sehingga sangat sensitif terhadap pergerakan kurs mata uang.

“Kesulitan juga ya. Jualnya juga enggak bisa naik. Bertahan saja,” ujar Rahono.

Untuk menyiasati lonjakan biaya produksi, Rahono memilih mengecilkan ukuran tempe yang dijual kepada konsumen. Langkah tersebut dilakukan agar harga jual tetap terjangkau di tengah daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.

Selain kenaikan harga kedelai, Rahono juga menghadapi lonjakan biaya kemasan. Ia mengungkapkan harga plastik yang digunakan untuk membungkus tempe mengalami kenaikan hampir 100 persen dibandingkan sebelumnya.

Kondisi ini menambah beban pelaku usaha kecil yang harus menghadapi kenaikan biaya dari berbagai sisi produksi. Meski demikian, banyak perajin memilih mempertahankan harga jual demi menjaga pelanggan dan menghindari penurunan permintaan.

Pelemahan rupiah dalam beberapa waktu terakhir tidak hanya berdampak pada sektor industri besar, tetapi juga dirasakan langsung oleh usaha mikro dan kecil yang bergantung pada bahan baku impor. 

Para perajin berharap stabilitas nilai tukar dapat segera terjaga agar biaya produksi tidak terus meningkat dan usaha mereka tetap dapat bertahan.

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

06:35
02:22
00:51
00:54
00:47
06:54

Viral