news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Pecahkan Rekor Terburuk Afrika, Kasus Ebola di Kongo Tembus 1.000 dalam Sebulan

Kamis, 25 Juni 2026 - 14:30 WIB
Reporter:

Jakarta, tvOnenews.com - Pejabat senior Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan wabah Ebola yang terjadi di Republik Demokratik Kongo (RDK) mencatat jumlah kasus terkonfirmasi tertinggi pada bulan pertama dibandingkan seluruh wabah Ebola yang pernah terjadi di Afrika.

Dalam pengarahan pada Selasa (23/6/2026), Direktur Operasi Kesiapsiagaan dan Respons Darurat Kesehatan WHO, Abdirahman Mahamud , mengungkapkan bahwa hingga 22 Juni telah terkonfirmasi lebih dari 1.000 kasus Ebola dengan 267 kematian akibat infeksi virus Ebola jenis Bundibugyo, salah satu varian yang tergolong langka.

Menurut Mahmud, angka tersebut merupakan rekor tertinggi untuk jumlah kasus terkonfirmasi selama bulan pertama sebuah wabah Ebola di benua Afrika.

Meski WHO baru secara resmi mengumumkan wabah tersebut pada 15 Mei, para ahli memperkirakan virus kemungkinan telah menyebar selama beberapa minggu hingga berbulan-bulan sebelum terdeteksi.

WHO menilai respons penanganan harus segera diperluas untuk mengejar laju penyebaran penyakit yang terus meningkat.

Upaya pengendalian kini tengah diperkuat, terutama setelah kasus baru ditemukan di sejumlah kamp pengungsian padat penduduk di wilayah timur Kongo yang masih dilanda konflik.

Dalam kesempatan yang sama, perwakilan Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM), Abdullahi Wone, menyampaikan bahwa sedikitnya 25 kasus Ebola telah dikonfirmasi di tiga kamp pengungsian, termasuk 14 kasus kematian.

Keberadaan wabah di kawasan pengungsian memicu kekhawatiran karena tingginya mobilitas penduduk dan keterbatasan akses layanan kesehatan yang dapat mempercepat penyebaran virus.

Sementara itu, perkembangan terkait wabah Ebola juga terjadi di negara tetangga, Kenya.

Menteri Kesehatan Kenya Aden Duale menyatakan telah memerintahkan penghentian pembangunan fasilitas karantina Ebola yang didukung Amerika Serikat di sebuah pangkalan udara di Kota Nanyuki, Kenya bagian tengah.

Keputusan tersebut diambil setelah muncul polemik hukum dan penolakan masyarakat. Sebelumnya, pengadilan setempat memerintahkan penghentian proyek sambil menunggu proses evaluasi lebih lanjut.

Fasilitas yang dirancang memiliki kapasitas sekitar 50 tempat tidur isolasi itu semula diproyeksikan menjadi pusat perawatan bagi warga negara Amerika Serikat yang bertugas di Republik Demokratik Kongo apabila terpapar Ebola. Fasilitas tersebut juga direncanakan dikelola oleh tenaga medis asal Amerika Serikat.

Namun, proyek tersebut memicu gelombang protes di Kenya. Masyarakat menyuarakan kekhawatiran terhadap kemungkinan masuknya pasien Ebola ke negara yang hingga kini belum pernah mencatat kasus penyakit tersebut.

Penolakan yang berkembang bahkan dilaporkan berujung kericuhan di sekitar lokasi proyek dan menyebabkan jatuhnya korban jiwa.

WHO terus mengingatkan pentingnya penguatan sistem deteksi dini, pelacakan kontak, dan peningkatan kapasitas layanan kesehatan guna mencegah wabah berkembang lebih luas di kawasan Afrika Timur dan Tengah.

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

05:05
02:00
01:02
01:42
05:02
02:28

Viral