Kepala BGN Sampaikan Permohonan Maaf
Sidoarjo, tvOnenews.com - Badan Gizi Nasional (BGN) mengakui adanya kelalaian dalam kasus keracunan makanan bergizi gratis atau Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dialami ratusan siswa dan santri di wilayah Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur.
Kepala BGN Sudarsono menyampaikan permintaan maaf atas insiden yang menyebabkan para penerima manfaat mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan MBG.
"Saya menyampaikan permohonan maaf sebagai Kepala Badan Gizi Nasional atas kelalaian dan keadaan yang menyebabkan gangguan kesehatan atau keracunan makanan di Sidoarjo," ujar Sudarsono.
BGN masih melakukan pendataan dan pemantauan terhadap penerima manfaat yang terdampak. Selain mendata mereka yang menjalani perawatan dan telah diperbolehkan pulang, petugas juga melakukan penyisiran untuk memastikan tidak ada penerima MBG yang mengalami gejala keracunan tetapi belum mendatangi puskesmas atau rumah sakit.
Sudarsono mengatakan, pihaknya telah memeriksa kronologi kejadian serta sistem pemantauan MBG. Dari pemeriksaan awal ditemukan adanya persoalan dalam pelabelan wadah makanan.
Nutrisionis dan pengelola dapur disebut tidak memberikan label pada setiap wadah makanan yang dikirimkan. Label hanya diberikan pada satu wadah sebagai penanda untuk penanggung jawab.
"Kalau dikirim misalnya 400, hanya ada satu label. Mulai hari ini saya perintahkan dan wajibkan setiap wadah harus ada label," tegas Sudarsono.
Menurut dia, label tersebut tidak boleh dibuat secara sembarangan. Informasi waktu yang tercantum dalam label juga harus sesuai dengan waktu makanan diproduksi dan batas aman konsumsi.
Hasil pemeriksaan sementara menunjukkan makanan telah selesai disiapkan sekitar pukul 05.00. Dengan waktu tersebut, makanan seharusnya dikonsumsi sebelum pukul 09.00.
Namun, label yang digunakan mencantumkan batas waktu konsumsi hingga pukul 10.00. Perbedaan waktu tersebut kini menjadi bagian dari evaluasi BGN dalam penyelidikan kasus keracunan.
BGN masih mendalami seluruh rangkaian proses pengolahan, pengemasan, hingga distribusi makanan untuk memastikan penyebab keracunan dan mencegah kejadian serupa kembali terjadi.