news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Waspada! Lima Gunung Api Erupsi, Pahami Mitigasi

Selasa, 8 September 2026 - 11:05 WIB
Reporter:

Jakarta, tvOnenews.com - Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyatakan erupsi menerus Gunung Anak Krakatau yang berlangsung sekitar 25 jam telah berhenti. Aktivitas vulkanik masih terjadi, tetapi erupsi yang tercatat setelahnya berlangsung singkat dengan energi lebih rendah.

Kepala PVMBG Siti Sumilah Rita Susilawati menjelaskan, setelah erupsi menerus berhenti, pihaknya mencatat lima kali erupsi. Dua erupsi terbaru terjadi pada Selasa pagi dan hanya berlangsung selama beberapa detik.

Menurut Rita, pola tersebut lebih menyerupai karakter erupsi Strombolian, yakni letusan eksplosif berdurasi singkat dengan energi relatif rendah.

Rita mengatakan kondisi tersebut berbeda dengan erupsi besar Gunung Krakatau pada 1883 yang memiliki energi sangat besar hingga menghancurkan tubuh gunung. Material vulkanik kemudian kembali membentuk Gunung Anak Krakatau yang terus bertumbuh hingga saat ini.

Rita juga menjelaskan potensi tsunami akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau. Ia mengatakan tsunami pada 2018 terjadi setelah sebagian tubuh Anak Krakatau runtuh ke laut ketika gunung tersebut sudah memiliki tubuh yang cukup besar dan lereng yang relatif curam.

Saat ini, tubuh Anak Krakatau disebut masih berukuran sekitar 150 meter. Material pembentuk gunung juga belum sebanyak kondisi sebelum tsunami 2018.

Meski demikian, Rita menegaskan tidak ada jaminan mutlak bahwa tsunami tidak akan terjadi. PVMBG terus memantau pertumbuhan dan aktivitas gunung tersebut.

Pertumbuhan Anak Krakatau masih berlangsung, termasuk melalui aliran lava yang mencapai laut. Ketika lava mendingin dan mengeras, material tersebut akan menambah lebar sekaligus ketinggian tubuh gunung.

Berdasarkan kajian yang dipaparkan Rita, untuk kembali mencapai ukuran sekitar 300 meter seperti sebelum runtuh pada 2018 dibutuhkan waktu bertahun-tahun. Sementara untuk mencapai ketinggian Krakatau sebelum 1883 yang mencapai sekitar 800 meter, prosesnya diperkirakan membutuhkan waktu hingga ribuan tahun.

Meski erupsi menerus telah berhenti, PVMBG meminta masyarakat tidak mendekati Gunung Anak Krakatau. Zona bahaya ditetapkan dalam radius 3 kilometer dari kawah.

Rita mengatakan ancaman masih berupa lontaran batu pijar dari erupsi yang terjadi secara sporadis. Karena itu, nelayan maupun wisatawan diminta tidak mendekati kawasan tersebut hanya untuk melihat letusan dari jarak dekat.

"Yang paling penting untuk Krakatau, walaupun ancaman langsung erupsinya sudah berkurang, masih ada lontaran batu pijar yang berbahaya," katanya.

PVMBG juga mengimbau masyarakat yang tinggal di sekitar gunung api aktif untuk mengetahui status gunung dan radius bahaya melalui kanal resmi, termasuk Magma Indonesia.

Dampak abu vulkanik Anak Krakatau sebelumnya juga mengganggu penerbangan. Bandara Radin Inten II Lampung kembali melayani penerbangan mulai pukul 10.00 WIB setelah sempat ditutup sejak Sabtu malam.

Selama penutupan, lebih dari 29 penerbangan dibatalkan dan sedikitnya 5.220 penumpang terdampak. Setelah operasional kembali dibuka, penumpang mulai berdatangan untuk melakukan perjalanan ke Soekarno-Hatta maupun sejumlah tujuan lain.

Rita mengingatkan masyarakat agar tidak lengah meski aktivitas erupsi mulai melemah. Apabila status gunung meningkat dan BPBD mengeluarkan perintah evakuasi, warga diminta segera meninggalkan zona bahaya.

"Keselamatan adalah yang paling utama. Kita berharap tidak ada korban jiwa, zero victim," ujar Rita.

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

01:03
05:19
01:23
01:28
05:57
03:18

Viral