news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ilustrasi Literasi Film Indonesia Tertinggal Kampus Didorong Perbaiki Literasi Film Nasional, Jadi Garda Edukasi Baru.
Sumber :
  • Gambar ilustrasi AI

Literasi Film Indonesia Tertinggal? Kampus Didorong Perbaiki Literasi Film Nasional, Jadi Garda Edukasi Baru

Kampus sebagai pusat intelektual memiliki peran strategis dalam menanamkan kesadaran tersebut. Perguruan tinggi dituntut mengintegrasikan literasi film ke dalam kurikulum
Rabu, 29 April 2026 - 23:47 WIB
Reporter:
Editor :

tvOnenews.com - Di tengah derasnya arus konten digital, literasi film tidak lagi sekadar kemampuan menikmati karya visual, tetapi juga memahami konteks, nilai, dan batasan usia penonton. 

Kampus sebagai pusat intelektual memiliki peran strategis dalam menanamkan kesadaran tersebut. Tidak cukup hanya menjalin kerja sama formal, perguruan tinggi dituntut mengintegrasikan literasi film ke dalam kurikulum, riset, dan pengabdian masyarakat.

Di negara maju, pendekatan ini sudah menjadi standar. Inggris melalui British Board of Film Classification (BBFC) aktif bekerja sama dengan institusi pendidikan untuk mengedukasi publik soal klasifikasi usia. 

Sementara di Amerika Serikat, sistem rating oleh Motion Picture Association (MPA) tidak hanya berlaku di industri, tetapi juga menjadi materi pembelajaran di sekolah dan universitas. 

Data menunjukkan, lebih dari 70 persen orang tua di negara-negara tersebut mempertimbangkan rating usia sebelum memilih tontonan, jauh di atas rata-rata di banyak negara berkembang.

Indonesia masih menghadapi tantangan serupa. Survei nasional menunjukkan hanya sekitar 46 persen masyarakat yang memperhatikan klasifikasi usia dalam memilih tontonan. 

Di sinilah peran kampus menjadi krusial: bukan hanya sebagai penghasil lulusan, tetapi juga agen perubahan budaya menonton yang lebih bertanggung jawab.

Melansir dari laman resmi, langkah konkret terlihat dari kolaborasi antara Universitas Mercu Buana dan Lembaga Sensor Film Republik Indonesia (LSF RI) yang memperbarui Nota Kesepahaman (MoU) di Jakarta, Senin (27/4). Kerja sama ini menegaskan bahwa literasi film dan klasifikasi usia penonton menjadi bagian dari tanggung jawab akademik, bukan sekadar formalitas kelembagaan.

Rektor UMB, Andi Adriansyah, menegaskan bahwa kolaborasi ini berlandaskan Tridharma Perguruan Tinggi. Dalam bidang pengajaran, literasi film akan diintegrasikan ke dalam kurikulum, khususnya di Program Studi Ilmu Komunikasi.

“Kami mewajibkan seluruh dosen melaksanakan penelitian dengan tema-tema yang berhubungan dengan lembaga mitra, dan hasilnya harus dipublikasikan serta diseminasikan kepada masyarakat,” ujarnya.

Pendekatan ini mencerminkan praktik di negara maju, di mana literasi media menjadi bagian penting dalam pendidikan tinggi. Mahasiswa tidak hanya diajarkan teori komunikasi, tetapi juga bagaimana memahami dampak konten visual terhadap masyarakat.

Riset, Data Film, dan Peluang Magang Mahasiswa

Kolaborasi ini juga membuka akses luas bagi mahasiswa dan dosen terhadap basis data perfilman nasional milik LSF RI. Data tersebut dapat dimanfaatkan untuk penelitian akademik, termasuk penyusunan disertasi dan publikasi ilmiah bereputasi.

Ketua LSF RI, Naswardi, menekankan pentingnya keterlibatan kampus dalam edukasi publik. “Literasi menonton tidak mungkin hanya LSF RI yang menyosialisasikan kepada masyarakat. Kami ingin kolaborasi Tridharma agar kampus menjadi garda terdepan edukasi klasifikasi usia penonton,” ujarnya.

Selain itu, mahasiswa kini memiliki peluang magang di LSF RI dengan sistem honorarium. Ini menjadi nilai tambah karena memberikan pengalaman praktis sekaligus apresiasi terhadap kontribusi mahasiswa.

Sebelumnya, kerja sama ini telah menghasilkan riset konkret, seperti kajian desain narasi visual dokumenter kuliner “Kisarasa” di platform YouTube. Ini menunjukkan bahwa literasi film tidak hanya teoritis, tetapi juga aplikatif dalam konteks industri kreatif digital.

Salah satu fokus penting dalam kolaborasi ini adalah penguatan budaya sensor mandiri di masyarakat. Melalui program pengabdian, UMB akan bersinergi dengan komunitas Sahabat Sensor Mandiri binaan LSF RI untuk memperluas edukasi hingga ke tingkat akar rumput.

Pendekatan ini sejalan dengan tren global. Di negara seperti Australia dan Kanada, kampanye literasi media berbasis komunitas terbukti efektif meningkatkan kesadaran publik terhadap konten yang sesuai usia.

Di Indonesia, langkah ini menjadi semakin relevan mengingat rendahnya kesadaran masyarakat terhadap klasifikasi usia. Kampus diharapkan menjadi pusat edukasi yang mampu menjembatani kesenjangan tersebut.

Dengan pembaruan ini, kampus tidak lagi sekadar mitra administratif, tetapi bertransformasi menjadi aktor aktif dalam membentuk generasi yang kritis, selektif, dan bertanggung jawab dalam mengonsumsi film.

Kolaborasi dengan Lembaga Sensor Film Republik Indonesia pun menjadi contoh bahwa literasi film bukan hanya isu industri, melainkan bagian dari ekosistem pendidikan yang lebih luas, membentuk budaya menonton yang sehat di era digital. (udn)
 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

02:54
06:32
01:03
01:19
02:05
05:39

Viral