news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ilustrasi Advertising Tak Lagi Cukup Jual Awareness, AI Kini Jadi Mesin Baru Pendongkrak Revenue.
Sumber :
  • Gambar ilustrasi AI

Mengapa Advertising Tradisional Mulai Tertinggal di Era AI-Driven Growth?

Banyak bisnis masih memisahkan fungsi advertising dengan sistem operasional yang menangani pelanggan setelah iklan berjalan. Akibatnya, banyak potensi transaksi hilang
Senin, 11 Mei 2026 - 23:06 WIB
Reporter:
Editor :

tvOnenews.com - Industri advertising global tengah mengalami perubahan besar dalam beberapa tahun terakhir. Jika sebelumnya iklan berfokus membangun awareness dan menjangkau audiens sebanyak mungkin, kini perusahaan mulai menuntut hasil yang lebih konkret: peningkatan revenue dan konversi bisnis secara langsung. 

Pergeseran ini terjadi seiring semakin berkembangnya teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam sistem pemasaran digital.

Di negara maju seperti Amerika Serikat dan Korea Selatan, AI tidak lagi hanya digunakan untuk menganalisis data pelanggan, tetapi juga mengelola interaksi konsumen secara otomatis dan real-time. 

Perusahaan teknologi seperti Amazon dan Meta telah mengintegrasikan AI dalam sistem rekomendasi produk, customer service, hingga optimasi iklan digital. 

Bahkan laporan McKinsey & Company menyebut penggunaan AI generatif dalam marketing dan sales berpotensi meningkatkan produktivitas global hingga ratusan miliar dolar per tahun.

Fenomena serupa mulai terlihat di Indonesia. Brand dan advertiser kini menghadapi tantangan baru: bagaimana memastikan iklan yang sudah menjangkau audiens benar-benar berujung pada transaksi dan loyalitas pelanggan. 

Di tengah customer journey yang semakin kompleks dan cepat, banyak perusahaan mulai menyadari bahwa advertising saja tidak cukup tanpa sistem operasional berbasis AI yang mampu merespons pelanggan secara instan dan personal.

Advertising Modern Kini Dituntut Menghasilkan Revenue

Perubahan pola konsumsi digital membuat strategi advertising tradisional semakin sulit bertahan. Konsumen saat ini tidak hanya melihat iklan di satu platform, tetapi berpindah-pindah antara WhatsApp, Instagram, TikTok, hingga marketplace dalam waktu singkat.

Masalahnya, banyak bisnis masih memisahkan fungsi advertising dengan sistem operasional yang menangani pelanggan setelah iklan berjalan. 

Akibatnya, banyak potensi transaksi hilang di tengah perjalanan customer journey karena respons yang lambat atau pengalaman pelanggan yang tidak terintegrasi.

Melansir dari laman resmi, fenomena ini menjadi salah satu sorotan dalam langkah Laode Hartanto yang resmi bergabung dengan Cekat.AI sebagai Chief Growth Officer, dengan pengalaman lebih dari satu dekade di sejumlah perusahaan global seperti Gojek, Emtek Group, Facebook, hingga Dentsu Indonesia. 

Selama kariernya, ia banyak terlibat dalam pengembangan strategi pertumbuhan berbasis advertising, media, data, dan teknologi. Pertumbuhan bisnis di era digital tidak lagi hanya ditentukan oleh besarnya jangkauan iklan, tetapi bagaimana setiap interaksi pelanggan dapat direspons dan dikonversi secara efektif.

“Selama bertahun-tahun, kita fokus membangun sistem untuk menjangkau audiens secara masif. Namun ke depan, pertanyaannya bukan lagi reach, melainkan bagaimana setiap interaksi bisa dikonversi menjadi revenue,” ujarnya.

AI Agent Jadi Infrastruktur Baru Customer Engagement

Di tengah perubahan tersebut, teknologi AI Agent mulai berkembang sebagai salah satu solusi baru dalam operasional bisnis digital. Sistem ini memungkinkan perusahaan mengotomatisasi interaksi pelanggan di berbagai platform komunikasi secara bersamaan.

Ini adalah platform AI Agent yang dirancang untuk membantu bisnis mengelola interaksi pelanggan secara omnichannel, mulai dari WhatsApp, Instagram, TikTok, hingga Telegram dengan respons yang berjalan otomatis selama 24 jam.

Pendekatan ini mencerminkan tren global di mana AI tidak lagi hanya dipakai sebagai alat analitik, tetapi menjadi bagian langsung dari operasional bisnis sehari-hari. 

Di China misalnya, perusahaan e-commerce sudah menggunakan AI untuk menangani jutaan pertanyaan pelanggan secara real-time, sekaligus mendorong upselling dan rekomendasi produk secara otomatis.

Sementara di Amerika Serikat, AI kini banyak dipakai untuk mempersonalisasi pengalaman pelanggan berdasarkan perilaku dan histori interaksi mereka.

Dalam konteks bisnis modern, AI Agent dinilai mampu menjembatani kesenjangan antara aktivitas advertising dan proses konversi pelanggan.

AI akan menjadi infrastruktur baru dalam cara bisnis beroperasi. Advertising tetap penting sebagai driver demand, tetapi AI adalah engine yang memastikan demand tersebut tidak terbuang.

Indonesia Mulai Masuki Era AI-Driven Growth

Percepatan adopsi AI di sektor bisnis Indonesia diperkirakan akan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan.

Mengapa Advertising Tradisional Mulai Tertinggal di Era AI-Driven Growth
Sumber :
  • Ist

Tidak hanya perusahaan teknologi besar, brand di sektor retail, layanan pelanggan, hingga UMKM mulai mencari cara untuk memanfaatkan AI dalam meningkatkan efisiensi dan penjualan. Cekat.AI sendiri didirikan oleh dua anak muda Indonesia, Matthew Sebastian dan Nicholas Alden Liem, yang melakukan riset AI di Amerika Serikat sebelum mengembangkan platform tersebut.

Platform ini disebut telah digunakan berbagai bisnis untuk mempercepat customer engagement, mengelola leads, hingga meningkatkan conversion rate secara lebih efisien. Pengamat industri menilai konvergensi antara advertising, data, dan AI akan menjadi fondasi baru dalam persaingan bisnis digital.

Jika sebelumnya perusahaan berlomba mengejar exposure dan viralitas, kini fokus mulai bergeser pada bagaimana teknologi dapat mengubah perhatian konsumen menjadi transaksi nyata.

Perubahan ini sekaligus menunjukkan bahwa advertising modern tidak lagi berdiri sendiri sebagai alat promosi. 

Di era AI-driven growth, teknologi mulai mengambil peran lebih besar sebagai mesin penggerak revenue yang bekerja secara real-time di balik setiap interaksi pelanggan. (udn)

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

01:56
01:33
02:53
07:16
00:53
01:07

Viral