- Gambar ilustrasi AI
Karier di Bidang Industri Kreatif Kian Menjanjikan, Jurusan Desain Kini Tak Lagi Dipandang Sebelah Mata
tvOnenews.com - Industri kreatif Indonesia sedang mengalami perubahan besar dalam beberapa tahun terakhir. Jika dulu profesi desainer identik dengan pekerjaan artistik semata, kini perannya berkembang menjadi bagian penting dalam strategi bisnis modern.
Di berbagai negara maju seperti Korea Selatan, Jepang, hingga Amerika Serikat, desain bahkan menjadi faktor utama dalam membangun identitas produk, pengalaman digital, dan loyalitas konsumen.
Perusahaan teknologi global seperti Apple, Samsung, hingga Airbnb dikenal menjadikan desain sebagai inti pengembangan bisnis mereka.
Transformasi digital juga mempercepat kebutuhan terhadap talenta kreatif. Kemunculan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membuat proses produksi visual menjadi lebih cepat, tetapi justru meningkatkan kebutuhan terhadap desainer yang mampu berpikir strategis.
Dunia industri kini tidak hanya mencari orang yang bisa membuat desain menarik, melainkan sosok yang mampu memahami perilaku pengguna, membaca kebutuhan pasar, dan menerjemahkan ide menjadi solusi bisnis nyata.
Indonesia sendiri mulai menikmati pertumbuhan besar di sektor ekonomi kreatif. Data menunjukkan industri kreatif nasional tumbuh 6,57 persen pada 2024, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional.
Nilai ekspor produk kreatif Indonesia bahkan mencapai USD 26,68 miliar dalam 10 bulan pertama 2025. Tren ini memperlihatkan bahwa sektor kreatif bukan lagi industri pelengkap, melainkan salah satu motor ekonomi masa depan yang membutuhkan lebih banyak desainer bertalenta dan siap kerja.
Perubahan cara pandang terhadap desain menjadi salah satu fenomena paling menarik dalam industri modern. Dalam satu dekade terakhir, desain tidak lagi dipahami sekadar urusan estetika atau visualisasi produk.
Riset McKinsey selama lima tahun terhadap ratusan perusahaan global menemukan bahwa perusahaan yang menempatkan desain sebagai inti bisnis mampu tumbuh 32 persen lebih cepat dibanding rata-rata industri. Bahkan, perusahaan tersebut menghasilkan pengembalian bagi pemegang saham hingga 56 persen lebih tinggi.
Temuan ini menunjukkan bahwa desain kini berkaitan erat dengan strategi bisnis, pengalaman pengguna, hingga kemampuan perusahaan memenangkan persaingan pasar.
Perubahan semakin terasa setelah hadirnya AI generatif. Mesin kini mampu membantu membuat aset visual dalam hitungan detik.
Namun di balik itu, nilai utama seorang desainer justru bergeser pada kemampuan berpikir kreatif, menyusun strategi, serta mengambil keputusan yang berdampak terhadap bisnis.
Karena itu, kebutuhan industri terhadap desainer modern menjadi jauh lebih kompleks. Dunia kerja kini mencari talenta yang tidak hanya menguasai software desain.
Akan tetapi juga mampu melakukan riset pengguna, bekerja lintas disiplin dengan pengembang teknologi dan tim pemasaran, hingga menyampaikan ide kreatif secara argumentatif.
Kebutuhan Talenta Kreatif Indonesia Terus Meningkat
Pertumbuhan industri kreatif Indonesia ikut mendorong tingginya kebutuhan terhadap sumber daya manusia berkualitas. Bidang seperti desain komunikasi visual, UI/UX, animasi, film, hingga desain produk menjadi profesi yang semakin dicari.
Pasar platform pengalaman digital bahkan diproyeksikan tumbuh dengan compound annual growth rate (CAGR) sebesar 25,05 persen hingga 2032. Angka ini memperlihatkan bagaimana kebutuhan terhadap layanan kreatif digital diperkirakan terus meningkat dalam beberapa tahun mendatang.
Di tengah perkembangan tersebut, dunia pendidikan mulai menyesuaikan kurikulum agar lebih relevan dengan kebutuhan industri. Salah satu pendekatan yang kini banyak diterapkan adalah project-based learning atau pembelajaran berbasis proyek nyata.
Mahasiswa tidak hanya belajar teori di ruang kelas, tetapi juga menghadapi simulasi dunia kerja sejak awal perkuliahan. Mereka dilatih mengerjakan proyek dari klien sesungguhnya, membangun identitas visual brand, membuat antarmuka digital, hingga terlibat dalam produksi karya kreatif yang benar-benar masuk ke pasar.
Pendekatan ini dinilai penting karena industri kreatif bergerak sangat cepat. Lulusan desain dituntut mampu beradaptasi dengan teknologi baru sekaligus memiliki kemampuan komunikasi dan problem solving yang kuat.
Kebutuhan terhadap lulusan desain yang siap kerja juga tercermin dari meningkatnya perhatian industri terhadap kualitas pendidikan kreatif di Indonesia. Dalam QS World University Rankings by Subject 2026 bidang Art & Design, School of Design Binus University menempati posisi kedua di Indonesia pada indikator Employer Reputation.
Penilaian ini mengukur tingkat kepercayaan perusahaan dan rekruter terhadap kualitas lulusan berdasarkan survei global yang melibatkan ribuan pemberi kerja.
- Ist
Capaian tersebut menunjukkan bahwa industri kini lebih menghargai lulusan yang mampu langsung beradaptasi dengan kebutuhan kerja kreatif modern. Dean School of Design Binus University, Danendro Adi, S.Sn., M.Arts, menjelaskan bahwa pendidikan desain saat ini tidak cukup hanya menghasilkan karya visual yang menarik.
Mahasiswa juga harus mampu menjelaskan alasan di balik setiap keputusan kreatif yang mereka buat serta memahami dampaknya terhadap penyelesaian masalah bisnis. Selain itu, integrasi AI dalam proses pembelajaran juga mulai menjadi kebutuhan penting agar mahasiswa terbiasa dengan standar industri kreatif global.
Kekhawatiran orang tua terhadap prospek karier jurusan desain pun perlahan mulai berubah. Saat ini, banyak lulusan industri kreatif justru berhasil bekerja di perusahaan global, startup teknologi, agensi kreatif, hingga membangun bisnis mandiri berbasis ekonomi digital.
Perkembangan ini menjadi sinyal bahwa industri kreatif Indonesia sedang memasuki fase baru. Desainer tidak lagi dipandang sebagai pelengkap visual, tetapi menjadi bagian penting dalam membangun inovasi, pengalaman pengguna, dan daya saing bisnis di era digital. (udn)