- Istimewa
Pelajar Asal Bandung Bawa Suara Pemuda Indonesia ke Forum PBB
Bandung, tvOnenews.com - Pelajar kelas 12 asal Bandung, Michael Vincent Junaidi menjadi delegasi muda Indonesia dalam High Level Political Forum (HLPF) 2026 di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), New York, Amerika Serikat.
Ia hadir untuk membawa perspektif anak muda dalam pembahasan pembangunan berkelanjutan global.
Forum ini menjadi ajang resmi negara-negara anggota PBB untuk meninjau kemajuan pelaksanaan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals.
Michael mengaku harus melewati sejumlah tahapan penyaringan untuk dapat hadir di HLPF 2026.
Menurutnya pihak panitia turut mempertimbangkan rekam jejak keterlibatan sosial dan aktivitas kepemudaan.
“Saya harus melakukan registrasi dan melalui proses seleksi yang ketat sampai akhirnya terpilih menjadi delegasi muda di HLPF 2026,” kata Michael, Kamis (20/8/2026).
Salah satu rekam jejak yang menjadi pertimbangan adalah kiprahnya di bidang sosial.
Michael mendirikan Synapse merupakan lembaga nirlaba yang bergerak di bidang edukasi publik mengenai gangguan belajar.
Lembaga ini menjalankan program untuk meningkatkan kesadaran mengenai penyandang gangguan belajar.
Michael mengaku dalam forum tersebut mendapat gambaran bahwa pembangunan di berbagai negara menghadapi persoalan yang tidak sederhana.
Ia mencatat sejumlah negara memiliki ide dan kebutuhan yang jelas tetapi terhambat pendanaan, infrastruktur, dan kapasitas pelaksanaan proyek.
Kerumitan itu membuatnya melihat bahwa penyelesaian besar tidak selalu bisa langsung dijalankan.
Dalam situasi seperti itu, langkah kecil dari komunitas menjadi jalan yang lebih mungkin ditempuh.
Pandangan tersebut ia perkuat setelah bertemu dengan peserta dari berbagai latar belakang.
“Ternyata perubahan tidak selalu harus dimulai dari yang di atas. Solusi dari masalah kecil juga bisa dicari dari bawah, oleh suatu komunitas itu sendiri, baru nanti perlahan-lahan diperluas dampaknya. Itu yang saya simpulkan setelah mendengar kemajuan yang dicapai beberapa delegasi,” terang Michael.
Selain mengikuti sesi dan berdiskusi dengan peserta lain, Michael juga menghadapi tantangan pribadi.
Sebagai pelajar berusia 17 tahun yang baru pertama kali berada di forum internasional, ia sempat ragu untuk berbicara di hadapan para profesional dan akademisi.
Namun, keraguan itu berkurang setelah ia mencoba bertanya dan menyampaikan pendapat.
Dalam salah satu forum diskusi, ia mengemukakan pandangannya mengenai pertumbuhan berkelanjutan di Indonesia.
“Awalnya saya ragu terutama untuk menyampaikan pendapat karena saya tidak yakin pendapat saya akan didengar. Tetapi ternyata sambutannya positif,” ujarnya.
Selain HLPF, Michael juga diundang menghadiri acara PBB bertajuk 'One World, One Game, One Goal: Football as a Catalyst for Youth Mental Health and Well-Being' pada Juli 2026 lalu.
Setelah kembali ke Indonesia, Michael berencana menggunakan jejaring yang telah dibangunnya selama berpartisipasi dalam forum PBB untuk memperluas kerja sama lembaga nirlaba gagasannya dengan sekolah dan orang tua, baik di dalam maupun luar negeri.
Ia juga berharap pengalaman ini dapat mendorong anak muda Indonesia untuk berani memulai inisiatif sejak dini.
“Jangan takut untuk memulai sebuah inisiatif meskipun kita masih muda. Justru sebaliknya, karena masih muda, kita bisa memulai lebih awal,” pungkasnya.(raa)