- Istimewa
Batik Tulis Kutai Barat Mulai Mendunia, Karya Perajin Lokal Lampaui Ekspektasi
Jakarta, tvOnenews.com - Batik Tulis Kutai Barat yang sarat dengan motif flora, fauna, budaya, serta kekayaan alam dan menjadi identitas daerah, kini mulai mendunia.
Dalam waktu kurang dari setahun, para perajin lokal mulai menghasilkan karya yang merepresentasikan karakter Kutai Barat, Kalimantan Timur.
Salah satu yang menyokong kemajuan reputasi batik tulis Kutai Barat adalah program pelatihan yang digagas PT Bharinto Ekatama (PT BEK).
BEK sempat menggelar pelatihan berlangsung selama tiga bulan dan diikuti puluhan peserta. Hasilnya, sekitar 12 perajin masih bertahan dan terus mengasah kemampuan melalui pendampingan secara berkelanjutan.
Community Development Head BEK, Kristinawati, mengatakan program tersebut tidak berhenti pada pelatihan. Para perajin juga mendapat pembinaan untuk meningkatkan kemampuan dan menghasilkan inovasi baru.
"Program Batik Tulis Kutai Barat ini sudah berjalan hampir satu tahun. Setelah pelatihan selama tiga bulan, sekitar 12 orang pengrajin terus melanjutkan program ini. Karena mereka memiliki minat yang besar, kami terus membina dan mendampingi mereka. Program ini juga kami jalankan bersama pemerintah daerah melalui kerja sama dengan Dekranasda," katanya dalam keterangan tertulis, Selasa (25/8/2026).
Menurut Kristinawati, perusahaan berperan sebagai pendukung melalui penyediaan program, pembinaan, serta peningkatan wawasan para perajin. Pendampingan juga diarahkan untuk mendorong lahirnya motif yang dapat menggambarkan kekayaan budaya Kutai Barat.
Batik memang bukan bagian dari tradisi asli masyarakat Kutai Barat. Namun, media tersebut dinilai dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan identitas daerah melalui motif yang bersumber dari alam dan budaya setempat.
Kristinawati menilai perkembangan para perajin selama hampir satu tahun telah melampaui target yang diperkirakan perusahaan.
"Menurut saya, apa yang sudah mereka capai selama hampir satu tahun ini sangat baik, bahkan di luar ekspektasi. Saya katakan demikian karena batik bukan budaya asli Kutai Barat, tetapi para perajin mampu mengembangkan motif-motif yang memiliki ciri khas daerah dan terus menunjukkan kreativitas mereka," ucapnya.
Ia menjelaskan, pemilihan batik bukan didasarkan pada statusnya sebagai budaya asli Kutai Barat. Batik digunakan sebagai media untuk memperkenalkan kekayaan daerah melalui motif yang diambil dari alam, tradisi, dan budaya masyarakat setempat.
"Kutai Barat memiliki banyak warisan budaya yang menjadi ciri khas daerah. Sementara batik kami gunakan sebagai media untuk mengangkat kekayaan budaya Kutai Barat melalui motif-motif yang diadaptasi dari flora, fauna, budaya, hingga kekayaan alam daerah. Karena itu, motif Batik Kutai Barat memiliki karakter yang berbeda," tuturnya.
Kemampuan para perajin juga terus berkembang sejak mengikuti pelatihan. Pada tahap awal, mereka menghadapi sejumlah kendala, terutama dalam teknik pewarnaan. Kini, kualitas karya yang dihasilkan semakin baik.
Tembus Pameran di Belanda
Keistimewaan batik tulis Kutai Barat disebut terletak pada proses pembuatannya yang dikerjakan secara manual. Detail motif digoreskan menggunakan tangan sehingga setiap kain memiliki karakter tersendiri.
Perbedaan kecil pada setiap lembar kain justru menjadi bagian dari keunikan batik tulis. Karakter tersebut membedakannya dari batik printing yang dibuat secara massal.
Keberadaan perajin lokal yang mampu menghasilkan batik dengan identitas Kutai Barat menjadi capaian tersendiri. Produk yang dibuat pun tidak hanya berupa kain, tetapi telah berkembang menjadi seragam, tas, dan pouch yang dapat digunakan sebagai suvenir.
Karya para perajin juga dimanfaatkan sebagai cendera mata bagi tamu dan pemangku kepentingan perusahaan. Selain itu, produk Batik Tulis Kutai Barat dipromosikan melalui berbagai pameran bersama Dekranasda Kutai Barat.
"Yang terakhir kami mengikuti pameran di Belanda. Kesempatan itu difasilitasi oleh ESDM sehingga Batik Tulis Kutai Barat bisa dipamerkan di luar negeri. Tentu kami bersyukur jika produknya dibeli, tetapi yang lebih penting bagi kami adalah Batik Tulis Kutai Barat sudah berhasil diperkenalkan hingga ke luar negeri," ujarnya.
"Kami mengirim produk seperti pouch, tas, dan kain batik sehingga masyarakat internasional mulai melihat hasil karya pengrajin Kutai Barat, selain itu harapannya program ini dapat berkelanjutan dan diserahkan kepada pemerintah daerah agar tetap berlanjut ke depannya. Tanpa kerjasama dan dunkungan dari pemerintah kami tidak akan bisa berjalan sendiri." tambahnya.
Salah satu perajin, Ungan, telah menetap di Kampung Sumber Sari selama lebih dari dua dekade. Ia mengatakan usia tidak menjadi alasan untuk berhenti berkarya.
"Saya bersyukur karena masih bisa naik motor, jadi masih bisa ke mana-mana dan bekerja sendiri. Saya juga nyaman ikut membatik karena mendapat pengalaman baru. Daripada di rumah tidak ada kegiatan, lebih baik ikut bergabung di sini," jelasnya.
Ungan merupakan warga asal Tabang, Kabupaten Kutai Kartanegara. Setelah berpisah dengan suaminya, ia menjalani kehidupan sehari-hari dengan mengandalkan pekerjaan sebagai perajin batik.
Tangannya turut menghidupkan sejumlah motif khas Kutai Barat di atas kain. Di antaranya motif Kriong, Embun ke7, Tanah Purai, enam etnis Kubar, serta berbagai corak yang terinspirasi dari budaya dan kekayaan alam daerah.
Menurut Ungan, motif yang mengangkat karakter daerah menjadi salah satu jenis yang banyak diminati pembeli. Namun, proses pembuatan batik tulis membutuhkan waktu dan ketelitian.
Setiap bagian motif harus dibuat secara manual. Karena itu, perajin membutuhkan kesabaran untuk menyelesaikan setiap lembar kain.
Untuk kain dengan motif yang kompleks, proses pengerjaannya dapat memakan waktu dua hingga tiga hari. Harga jualnya berkisar Rp500.000 hingga Rp1 juta per lembar, tergantung tingkat kerumitan dan proses pembuatannya.
Meski memiliki nilai jual, batik tulis tidak selalu memberikan pendapatan yang tetap. Waktu produksinya lebih panjang dibandingkan batik cap yang dapat dibuat dalam jumlah lebih banyak.
Ungan menilai program pendampingan PT Bharinto Ekatama menjadi salah satu faktor yang membantu keberlangsungan para perajin.
"Manfaatnya bisa menambah penghasilan keluarga. Bagi saya pribadi, program ini sangat membantu kebutuhan keluarga. Harapan saya semoga terus didampingi, sehingga kami bisa mandiri, tetap bekerja bersama dalam kelompok, dan usaha ini semakin maju, bukan hanya untuk saya tetapi juga untuk ibu-ibu yang lain," imbuhnya.
Perajin lainnya, Sutrianingsih, mengatakan kegiatan membatik memberikan pengalaman baru sekaligus kesempatan untuk meningkatkan keterampilan. Perempuan asal Jawa itu menilai membatik tidak sekadar menjadi pekerjaan tambahan.
"Kalau perbedaannya tentu ada. Di batik kami jadi bisa mengenal dunia luar, mengembangkan keahlian, belajar membuat kain dan baju batik. Kalau dari sisi pendapatan, menurut saya kurang lebih sama. Tetapi pengalaman yang didapat jauh lebih banyak," tambahnya.
Sutrianingsih mengaku sebelumnya tidak mengenal motif khas Kutai Barat. Setelah mengikuti pelatihan, ia mulai memahami teknik membatik dan ikut menghasilkan kain dengan motif yang terinspirasi dari budaya daerah.
Bersama kelompoknya, Sutrianingsih bekerja dari Senin hingga Jumat. Dalam satu pekan, kelompok tersebut dapat menghasilkan sekitar lima hingga tujuh lembar batik tulis.
Sementara itu, produksi batik cap jauh lebih tinggi. Dalam periode yang sama, kelompok perajin mampu menghasilkan sekitar 50 lembar kain batik cap.
Menurut Sutrianingsih, batik tulis dan batik cap memiliki karakter serta proses produksi yang berbeda. Batik tulis membutuhkan waktu dan ketelitian lebih tinggi sehingga harga jualnya juga lebih mahal.
Batik tulis dijual sekitar Rp500.000 hingga Rp1 juta per lembar, bergantung pada tingkat kerumitan motif. Sementara batik cap dibanderol mulai Rp300.000 hingga Rp350.000 untuk kain berukuran dua meter.
Produk hasil kerja kelompok tersebut kini telah dipasarkan dan mulai dikenal masyarakat. Bagi para perajin, perkembangan itu menunjukkan bahwa keterampilan yang mereka pelajari memiliki nilai ekonomi.
Bekerja dalam kelompok memang menghadirkan tantangan tersendiri. Namun, Sutrianingsih menilai kebersamaan menjadi modal penting untuk menjaga keberlangsungan usaha batik.
"Alhamdulillah, menurut saya program ini bisa mengangkat ibu-ibu agar memiliki kesempatan menuju kehidupan yang lebih baik. Dulu banyak yang hanya di rumah. Sekarang kami punya kegiatan, punya keterampilan, dan hasil karya kami mulai dikenal masyarakat luas. Sampai sekarang kami juga masih didampingi setiap hari, sehingga semangat untuk terus berkembang tetap terjaga," jelasnya.
Ia berharap pendampingan bagi para perajin dapat terus dilakukan. Menurutnya, program tersebut memberi ruang bagi ibu rumah tangga untuk mengembangkan keterampilan sekaligus mendapatkan tambahan penghasilan. (rpi)