- Istimewa
Pemerintah Daerah Diminta Jadi Penggerak Calon Pemimpin dari Generasi Muda
Depok, tvOnenews.com - Gubernur Sumatera Barat (Sumbar), Mahyeldi Ansharullah menilai daerah memiliki posisi strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) unggul sekaligus melahirkan calon pemimpin masa depan Indonesia.
Ia menekankan kepemimpinan daerah tidak semestinya hanya berorientasi pada pelaksanaan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi melainkan pemerintah daerah juga harus menjadi penggerak pembinaan manusia, pembentukan karakter, serta penciptaan ruang bagi generasi muda untuk berkembang.
Hal itu disampaikan Mahyeldi saat menjadi keynote speaker dalam kuliah umum bertajuk 'Memimpin Manusia, Menyiapkan Peradaban: Kepemimpinan Nasional sebagai Kunci Pembinaan SDM Unggul Bangsa” di Institute SEBI, Depok, Jawa Barat, Senin (31/8/2026) yang turut dirangkai dengan peluncuran dan bedah buku 40 Petunjuk Langit untuk Pemimpin dan Penguasa.
“Masa depan bangsa tidak dimenangkan oleh teknologi semata, tetapi oleh manusia yang mampu memberinya arah,” kata Mahyeldi, Rabu (2/9/2026).
Mahyeldi mengatakan Indonesia saat ini memiliki jumlah penduduk usia produktif yang besar hingga dapat menopang pembangunan yang tengah berjalan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Mei 2026 angkatan kerja Indonesia mencapai 155,41 juta orang. Dari jumlah tersebut, 148,19 juta orang tercatat bekerja, sedangkan Tingkat Pengangguran Terbuka mencapai 4,65 persen.
Menuruntya pemerintah di tingkat nasional maupun daerah perlu memperluas akses peningkatan keterampilan, memperkuat keterhubungan antara pendidikan dan kebutuhan dunia kerja, serta meningkatkan literasi digital dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
“Kepemimpinan nasional pada akhirnya juga dibangun dari daerah. Daerah harus menjadi tempat lahirnya manusia yang kompeten, berkarakter, berani mengambil tanggung jawab, dan mampu bekerja untuk kepentingan yang lebih luas,” ujar Mahyeldi.
Mahyeldi juga menyoroti perubahan dunia kerja akibat perkembangan teknologi dan AI yang diperkirakan sekitar 39 persen keterampilan inti pekerja akan mengalami perubahan hingga 2030.
Menurut dia tantangan yang lebih mendesak adalah perubahan tugas dan kebutuhan kompetensi. Masyarakat harus dipersiapkan agar mampu terus belajar, meningkatkan keterampilan, serta beradaptasi ketika kebutuhan dunia kerja berubah.(raa)