- Istimea
Muktamar ke-35 NU Turut Perkenalkan Aplikasi Dukung Pertumbuhan Pelaku UMKM
Jombang, tvOnenews.com - Kegiatan Muktamar ke-35 NU yang berlangsung di Jombang, Jawa Timur beberapa waktu lalu turut mendorong transformasi digital dalam pertumbuhan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Langkah itu terealisasi dengan hadirnya teknologi karya anak bangsa yakni ZARFIX Marketplace dalam mendukung pertumbuhan pelaku usaha khususnya UMKM.
Founder & Visionary Chairman ZARFIX, Muhammad Ayyash Nahdi ekosistem teknologi yang dirancang pihaknya turut memanfaatkan Artificial Intelligence (AI) dan blockchain.
Ekosistem tersebut dirancang untuk membuka akses teknologi yang lebih luas bagi pelaku usaha, khususnya UMKM di pasar berkembang.
Ayyas yang pernah menempuh pendidikan di Istanbul, Turki sebagai penerima beasiswa di Kapten Ahmed Erdogan International Imam Hatip School memilih membangun dan mengembangkan inovasi teknologi dengan Indonesia sebagai basis utama.
Bagi Ayyash membangun perusahaan teknologi bukan sekadar menghadirkan aplikasi atau marketplace baru.
Ia melihat UMKM dan dunia usaha masih menghadapi berbagai tantangan mulai dari proses bisnis yang belum terintegrasi, pemanfaatan teknologi yang belum optimal hingga kebutuhan meningkatkan efisiensi dan daya saing.
“Sejak awal, ZARFIX tidak kami bangun hanya untuk menjadi sebuah marketplace. Ada visi yang lebih besar, yaitu bagaimana teknologi bisa menjadi alat bagi pelaku usaha Indonesia untuk tumbuh, menjadi lebih produktif, dan mempunyai daya saing yang semakin kuat,” ujar Muhammad Ayyash Nahdi.
Di tengah percepatan transformasi digital global, Ayyash menilai isu kedaulatan digital menjadi perhatian penting bagi Indonesia.
Menurutnya Indonesia yang memiliki jumlah pengguna digital besar dan potensi ekonomi yang kuat tidak seharusnya hanya menjadi konsumen teknologi yang dikembangkan negara lain.
Kedaulatan digital, kata Ayyash, juga berarti membangun kemampuan nasional untuk menciptakan, mengembangkan, dan menguasai teknologi serta ekosistem digital sendiri.
“Indonesia tidak boleh selamanya hanya dikenal sebagai pasar yang besar bagi teknologi dunia. Kita juga harus berani menjadi pencipta. Kita punya talenta, kebutuhan pasar, dan kemampuan untuk membangun teknologi sendiri. Tantangannya adalah bagaimana kita memberikan ruang agar inovasi anak bangsa dapat tumbuh dan memiliki daya saing global,” kata Ayyas.
“Saya percaya Indonesia punya inovator dengan kemampuan yang tidak kalah dengan negara lain. Yang harus kita bangun adalah kepercayaan diri untuk tidak berhenti sebagai pengguna teknologi. Kita harus punya produk yang lahir dari Indonesia, menyelesaikan masalah Indonesia, tetapi sejak awal memiliki standar dan visi untuk bersaing secara internasional,” sambungnya.
Ayyash Nahdi mengaku momentum Muktamar NU tak hanya menjadi kesempatan memperkenalkan teknologi buatannya itu tetapi juga mempertemukan inovasi digital dengan kekuatan komunitas serta pelaku ekonomi masyarakat.
“Harapan saya sederhana tetapi besar. Suatu saat ketika dunia berbicara mengenai perkembangan teknologi, Indonesia tidak hanya dikenal karena jumlah pengguna digitalnya. Kita juga harus dikenal sebagai bangsa yang melahirkan inovasi dan teknologi yang digunakan oleh masyarakat dunia,” tutup Ayyash.(raa)