- Gambar ilustrasi AI / Gemini
Ketika Pedagang Pasar Tradisional Bali Mulai Pakai QRIS, Ini Dampak QRIS bagi UMKM dan Ekonomi Daerah
Perluasan QRIS berpotensi memberikan dampak yang lebih luas dibanding sekadar mempermudah pembayaran. Bagi UMKM, transaksi digital dapat membantu membangun jejak transaksi yang lebih rapi sehingga pemasukan dan aktivitas penjualan lebih mudah dipantau.
Pencatatan tersebut pada akhirnya dapat membantu pelaku usaha mengevaluasi bisnis, memperkirakan kebutuhan modal, dan memahami perkembangan omzet.
Dalam jangka panjang, data transaksi yang lebih tertata juga berpotensi memperkuat akses pelaku UMKM terhadap layanan keuangan formal, meski keputusan pemberian pembiayaan tetap bergantung pada penilaian masing-masing lembaga keuangan.
Dari sisi ekonomi daerah, semakin banyak transaksi UMKM yang masuk ke dalam ekosistem pembayaran digital dapat mendukung aktivitas ekonomi yang lebih terukur.
Transaksi yang tercatat juga dapat membantu menggambarkan aktivitas perdagangan secara lebih baik, terutama di sektor usaha kecil dan pasar rakyat.
Bagi konsumen, pilihan pembayaran yang lebih beragam juga dapat membuat transaksi menjadi lebih praktis. Sementara bagi pedagang, berkurangnya ketergantungan terhadap uang tunai dapat membantu mengurangi persoalan seperti kebutuhan menyediakan uang kembalian dan pengelolaan kas secara manual.
Namun, digitalisasi bukan berarti seluruh persoalan UMKM otomatis selesai. Pedagang tetap membutuhkan literasi keuangan, pemahaman keamanan digital, serta kemampuan mengelola pendapatan dan pengeluaran. Risiko penipuan, salah transfer, hingga penyalahgunaan informasi juga perlu dipahami.
Karena itu, edukasi menjadi bagian penting dalam memperluas penggunaan QRIS. Pelaku usaha tidak cukup hanya diberikan fasilitas pembayaran digital, tetapi juga perlu mengetahui cara menggunakannya dengan aman dan memahami manfaatnya bagi pengelolaan usaha.
Keterlibatan Bank Indonesia bersama Karvelo (PT Artha Jaya Wisata) dan Bank Nationalnobu (Bank Nobu) dalam rangkaian kegiatan tersebut menempatkan edukasi sebagai salah satu bagian dari proses digitalisasi pasar rakyat Bali.
Pada akhirnya, keberhasilan transformasi digital di pasar tradisional tidak hanya diukur dari berapa banyak pedagang yang memiliki QRIS. Yang lebih penting adalah apakah teknologi tersebut benar-benar membantu pedagang mempertahankan pelanggan, mengelola transaksi dengan lebih baik, dan mengembangkan usahanya.
Jika literasi, infrastruktur, dan keamanan berjalan beriringan, digitalisasi pasar rakyat berpotensi menjadi salah satu fondasi bagi UMKM untuk beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumen sekaligus ikut memperkuat aktivitas ekonomi daerah. (udn)