news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ilustrasi Ketika Pedagang Pasar Tradisional Bali Mulai Pakai QRIS, Ini Dampak QRIS bagi UMKM dan Ekonomi Daerah.
Sumber :
  • Gambar ilustrasi AI / Gemini

Ketika Pedagang Pasar Tradisional Bali Mulai Pakai QRIS, Ini Dampak QRIS bagi UMKM dan Ekonomi Daerah

Digitalisasi QRIS mulai memperluas transaksi nontunai di pasar rakyat Bali. Simak dampaknya bagi UMKM, pencatatan usaha, hingga perputaran ekonomi daerah
Rabu, 2 September 2026 - 17:56 WIB
Reporter:
Editor :

tvOnenews.com - Selama ini, pasar tradisional identik dengan transaksi tunai. Uang berpindah dari tangan pembeli ke pedagang, sementara pencatatan hasil penjualan sering kali masih dilakukan secara sederhana. 

Namun, kebiasaan tersebut perlahan berubah seiring semakin luasnya penggunaan teknologi pembayaran digital, termasuk Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).

Edukasi digitalisasi yang memperkenalkan penggunaan QRIS di kalangan pelaku usaha mikro dan kecil menjadi salah satu agenda yang terus didorong pemerintah dan otoritas keuangan dalam beberapa tahun terakhir. 

Bagi pedagang, sistem pembayaran ini bukan hanya menawarkan alternatif ketika konsumen tidak membawa uang tunai, tetapi juga dapat membantu membuat transaksi lebih mudah dilacak dan dicatat.

Perubahan tersebut turut menyentuh pasar-pasar rakyat di Bali. Digitalisasi pembayaran dinilai dapat memperlancar transaksi antara pedagang dan konsumen sekaligus membuka peluang bagi pelaku usaha kecil untuk memiliki pencatatan keuangan yang lebih teratur. 

Dalam skala lebih luas, semakin banyak transaksi yang tercatat secara digital juga dapat mendukung aktivitas ekonomi, memperluas inklusi keuangan, dan membantu pelaku UMKM membaca pola penjualan mereka.

QRIS Masuk ke Pasar Rakyat, Pedagang Mulai Beradaptasi

Upaya memperluas penggunaan pembayaran digital di pasar rakyat Bali dilakukan melalui sejumlah kegiatan edukasi dan pendampingan. Salah satunya berlangsung melalui program Pasar Rakyat Bali Go Digital di Pasar Bebandem, Karangasem.

Dalam rangkaian program tersebut,Bank Indonesia bersama Karvelo (PT Artha Jaya Wisata) dan Bank Nationalnobu (Bank Nobu) berkomitmen mendorong edukasi serta perluasan transaksi digital bagi pelaku UMKM di Bali. Kegiatan serupa juga menjadi bagian dari rangkaian aktivitas digitalisasi pasar rakyat yang digelar di sejumlah wilayah sepanjang 2026.

Di Pasar Bebandem, Karangasem, program Pasar Rakyat Bali Go Digital diwujudkan antara lain melalui perluasan transaksi nontunai dan penggunaan perangkat QRIS Soundbox bagi pedagang UMKM. Kehadiran perangkat tersebut membantu pedagang mengenali pemberitahuan transaksi yang masuk melalui sistem pembayaran digital.

Bagi pasar tradisional, perubahan tersebut bukan sekadar persoalan mengganti uang tunai dengan kode QR. Edukasi menjadi bagian penting karena sebagian pedagang perlu memahami cara menerima pembayaran, mengecek transaksi, sekaligus menjaga keamanan ketika menggunakan sistem pembayaran digital.

Kepala Pasar Bebandem I Nengah Sunandiasa melihat kemudahan transaksi sebagai salah satu manfaat yang bisa langsung dirasakan pedagang maupun pembeli.

"Mudah-mudahan perputaran dagang di pasar bisa lebih lancar, nggak ada lagi yang batal belanja gara-gara masalah receh,” ujar I Nengah Sunandiasa, Kepala Pasar Bebandem, dalam keterangannya, Rabu (2/9/2026).

Penerapan pembayaran digital juga menunjukkan bahwa transformasi pasar rakyat tidak hanya bergantung pada ketersediaan teknologi. Kemampuan pedagang memahami sistem dan menggunakannya secara aman menjadi faktor penting agar digitalisasi benar-benar memberikan manfaat.

Dari Sukawati hingga Denpasar, Transaksi Digital Makin Didorong

Digitalisasi pembayaran juga menyasar Pasar Seni Sukawati, Gianyar, melalui program Pasar Rakyat Bali Go Digital yang menjadi bagian dari Baligivation (Bali Digital Innovation Festival) 2026.

Program tersebut berlangsung dalam periode 22 Juni hingga 22 Agustus 2026, dengan puncak kegiatan pada 12 Agustus 2026. Selain memperkenalkan transaksi nontunai, kegiatan tersebut turut memberikan edukasi kepada pedagang mengenai keamanan dan kenyamanan dalam menggunakan pembayaran digital.

Rangkaian kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperluas pemanfaatan pembayaran digital di pasar rakyat dan sentra usaha masyarakat. Sasaran utamanya bukan hanya meningkatkan jumlah transaksi nontunai, tetapi juga membantu pelaku usaha memahami perubahan pola pembayaran konsumen.

Bagi pedagang yang sehari-hari berhadapan langsung dengan wisatawan maupun konsumen lokal, keberadaan metode pembayaran digital dapat menjadi alternatif ketika pembeli tidak membawa uang tunai.

Putu Wardani, pedagang aksesori di Pasar Seni Sukawati, merasakan perubahan perilaku konsumen tersebut.

"Sejak orang juga banyak belanja online, ternyata yang datang langsung ke toko pun makin jarang pegang uang cash. Untung sekarang dengan digitalisasi ini, jadi saya nggak kehilangan pembeli cuma gara-gara mereka lupa bawa dompet," jelas Putu Wardani, pedagang aksesoris di Pasar Seni Sukawati.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa digitalisasi pembayaran tidak hanya berkaitan dengan teknologi. Perubahan perilaku konsumen juga membuat pelaku usaha kecil perlu menyesuaikan diri agar tidak kehilangan transaksi hanya karena metode pembayaran yang tersedia terbatas.

Apa Dampaknya bagi UMKM dan Ekonomi Bali?

Perluasan QRIS berpotensi memberikan dampak yang lebih luas dibanding sekadar mempermudah pembayaran. Bagi UMKM, transaksi digital dapat membantu membangun jejak transaksi yang lebih rapi sehingga pemasukan dan aktivitas penjualan lebih mudah dipantau.

Pencatatan tersebut pada akhirnya dapat membantu pelaku usaha mengevaluasi bisnis, memperkirakan kebutuhan modal, dan memahami perkembangan omzet. 

Dalam jangka panjang, data transaksi yang lebih tertata juga berpotensi memperkuat akses pelaku UMKM terhadap layanan keuangan formal, meski keputusan pemberian pembiayaan tetap bergantung pada penilaian masing-masing lembaga keuangan.

Dari sisi ekonomi daerah, semakin banyak transaksi UMKM yang masuk ke dalam ekosistem pembayaran digital dapat mendukung aktivitas ekonomi yang lebih terukur. 

Transaksi yang tercatat juga dapat membantu menggambarkan aktivitas perdagangan secara lebih baik, terutama di sektor usaha kecil dan pasar rakyat.

Bagi konsumen, pilihan pembayaran yang lebih beragam juga dapat membuat transaksi menjadi lebih praktis. Sementara bagi pedagang, berkurangnya ketergantungan terhadap uang tunai dapat membantu mengurangi persoalan seperti kebutuhan menyediakan uang kembalian dan pengelolaan kas secara manual.

Namun, digitalisasi bukan berarti seluruh persoalan UMKM otomatis selesai. Pedagang tetap membutuhkan literasi keuangan, pemahaman keamanan digital, serta kemampuan mengelola pendapatan dan pengeluaran. Risiko penipuan, salah transfer, hingga penyalahgunaan informasi juga perlu dipahami.

Karena itu, edukasi menjadi bagian penting dalam memperluas penggunaan QRIS. Pelaku usaha tidak cukup hanya diberikan fasilitas pembayaran digital, tetapi juga perlu mengetahui cara menggunakannya dengan aman dan memahami manfaatnya bagi pengelolaan usaha.

Keterlibatan Bank Indonesia bersama Karvelo (PT Artha Jaya Wisata) dan Bank Nationalnobu (Bank Nobu) dalam rangkaian kegiatan tersebut menempatkan edukasi sebagai salah satu bagian dari proses digitalisasi pasar rakyat Bali.

Pada akhirnya, keberhasilan transformasi digital di pasar tradisional tidak hanya diukur dari berapa banyak pedagang yang memiliki QRIS. Yang lebih penting adalah apakah teknologi tersebut benar-benar membantu pedagang mempertahankan pelanggan, mengelola transaksi dengan lebih baik, dan mengembangkan usahanya.

Jika literasi, infrastruktur, dan keamanan berjalan beriringan, digitalisasi pasar rakyat berpotensi menjadi salah satu fondasi bagi UMKM untuk beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumen sekaligus ikut memperkuat aktivitas ekonomi daerah. (udn)

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

02:28
02:43
05:51
04:43
02:08
01:14

Viral