- tvOne - alfani syukri
Bali United Mulai Cari Bibit Pesepakbola Putri Lewat Women Development Festival 2026
Gianyar, tvOnenews.com - Untuk mencari pemain berbakat, khususnya pemain sepak bola putri, klub Bali United menggelar Bali United Women Development Festival 2026 di Bali United Training Center, Gianyar.
Langkah ini dilakukan pihak Bali United untuk melihat lebih jauh siswi yang memiliki potensi untuk terus menekuni sepak bola putri.
Pemandangan itu tersaji dalam Bali United Women Development Festival 2026, kegiatan yang untuk pertama kalinya digelar Bali United Academy untuk mengenalkan sepak bola kepada anak perempuan sejak usia sekolah dasar.
Festival tersebut merupakan lanjutan dari program latihan yang sudah berjalan sejak Juni 2026.
Ratusan siswi dari sejumlah sekolah di Gianyar, Denpasar, dan Karangasem sebelumnya mendapat kesempatan berlatih rutin bersama pelatih Bali United Academy.
Awalnya, jumlah peserta mencapai sekitar 259 siswi. Dalam perjalanannya, tidak semuanya bertahan.
Peserta yang aktif mengikuti latihan setiap pekan berada di kisaran 210 hingga 211 anak.
Dari proses tersebut, Bali United mulai melihat mana pemain yang sekadar mencoba sepak bola dan mana yang memiliki ketertarikan serta potensi untuk dikembangkan lebih jauh.
Head of Youth Development Bali United, I Gde Mahatma Dharma, mengatakan pengenalan menjadi tujuan utama program tersebut. Namun, proses pemantauan bakat juga sudah dilakukan sejak latihan pertama.
“Jadi ini pengenalan dan juga sekalian pemantauan. Talent itu lahiriah ya. Ada yang terlahir dengan talent yang bagus, ada yang talent-nya agak biasa dulu, tapi yang punya talent biasanya kan sudah kelihatan dari usia dini,” kata Mahatma.
Sebanyak 16 tim ambil bagian dalam festival perdana ini dan dibagi ke dalam empat grup. Menariknya, tim peserta tidak seluruhnya berasal dari satu sekolah.
Ada sekolah yang memiliki cukup banyak peserta, tetapi ada pula yang hanya mengirim satu atau beberapa siswi. Karena itu, beberapa tim merupakan gabungan dari sejumlah sekolah.
Format pertandingan dibuat sederhana. Setiap pertandingan berlangsung 1 x 15 menit dengan delapan pemain di masing-masing tim.
Bali United sengaja tidak terlalu kaku menerapkan aturan pertandingan. Maklum, sebagian besar peserta masih berada dalam tahap awal mengenal sepak bola.
“Yang pasti yang pertama bagaimana cara dikenalkan dulu kepada mereka permainan sepak bola ini, terus kemudian bagaimana mereka bisa menikmatinya. Jadi kita enggak terlalu strict dengan aturan-aturan yang sudah ada,” ujar Coach Dede.
Namun, di balik suasana festival yang dibuat menyenangkan itu, pelatih tetap melakukan pengamatan.
Pelatih-pelatih akademi ditempatkan di sejumlah lapangan untuk melihat kemampuan peserta.
Pemain yang dinilai memiliki potensi nantinya akan dikumpulkan dan mendapat pembinaan yang lebih terarah.
Mahatma mengatakan pemetaan bahkan sudah dilakukan selama program berlangsung. Peserta mulai dikelompokkan berdasarkan perkembangan dan kemampuan mereka.
“Sudah ada, ‘Oke, ini pemain yang sudah agak oke. Yang ini masih perlu develop,’ itu sudah dipisahin,” katanya.
Tidak semua peserta diharapkan langsung menjadi pemain sepak bola. Menurut Mahatma, apabila sekitar 20 persen dari peserta nantinya tetap bertahan dan melanjutkan perjalanan di sepak bola putri, itu sudah menjadi hasil yang bagus.
“Syukur-syukur bisa dapat 20 persen dari mereka, itu sudah bagus banget,” ujarnya.
Bali United juga tidak menjadikan festival ini sebagai garis akhir. Setelah pertandingan selesai, para peserta masih akan mendapat kesempatan mengikuti latihan selama tiga bulan berikutnya.
Program serupa kemudian direncanakan kembali digelar. Jangkauannya pun terbuka untuk diperluas ke kabupaten lain di Bali.
Selama mengikuti program latihan, setiap peserta mendapat satu bola untuk dibawa dan digunakan berlatih di rumah maupun sekolah.
Dengan begitu, anak-anak tidak hanya menyentuh bola ketika mengikuti latihan resmi bersama akademi.
Bali United juga mulai memikirkan bagaimana sekolah bisa ikut menjadi bagian dari pembinaan.
Salah satu rencana yang sedang disiapkan adalah mengembangkan kemampuan guru olahraga sekolah dasar agar dapat ikut membina sepak bola putri.
“Kami juga ingin meng-develop guru-guru olahraga tersebut untuk bisa menjadi pelatih. Nanti kita akan bikinkan untuk lisensi D dan C khusus guru-guru olahraga yang mengajar di sekolah dasar di sekitar sini,” kata Mahatma.
Ke depan, formatnya bahkan bisa berkembang menjadi turnamen antarsekolah, bukan hanya festival yang digelar oleh Bali United.
Bagi peserta, pengalaman tiga bulan tersebut tidak hanya soal belajar menendang dan bermain bola.
Ida Ayu Diana Sali, salah seorang peserta, mengaku justru mendapat pengalaman baru karena bisa bermain bersama anak-anak seusianya dari sekolah berbeda.
“Saya senang, saya suka, karena saya bisa melihat anak-anak atau yang seumuran saya bermain bola yang sangat bagus. Dan saya harus banyak belajar untuk terus berkembang,” kata Sali.
Ia juga senang karena program tersebut membuatnya memiliki lebih banyak teman.
“Saya juga sangat suka Women Development ini karena saya menemukan banyak teman dari SD-SD yang lain. Saya juga banyak memiliki teman dan saya bisa bergaul dengan teman yang lain,” ujarnya.
Sali berharap kegiatan semacam ini tidak berhenti pada satu edisi. Ia ingin semakin banyak anak perempuan mendapat kesempatan bermain sepak bola sejak usia dini.
“Harapannya terus bisa berkembang karena kalau ini terus berkembang, bisa meningkatkan level internasional untuk Timnas Indonesia yang putri,” tutupnya. (als/gol)