- YouTube/KANG DEDI MULYADI CHANNEL
Kabar Gembira untuk Wali Murid di Jabar, Dedi Mulyadi Sebut Banyak Sekolah Negeri Sepi Peminat pada SPMB 2026
tvOnenews.com – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengimbau para wali murid dan calon peserta didik baru untuk tetap tenang dan tidak panik dalam menghadapi proses Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026.
Orang nomor satu di Jabar tersebut memastikan bahwa loket pendaftaran resmi telah dibuka mulai tanggal 15 Juni hingga 14 Juli 2026 mendatang.
Pada tahun ini, pemerintah provinsi menerapkan mekanisme pendaftaran yang jauh lebih praktis dan sederhana dibandingkan periode sebelumnya.
- instagram Dedimulyadi71
Dedi menjelaskan, para orang tua kini tidak perlu lagi meraba-raba atau repot menginput data dari titik nol.
Pasalnya, basis data siswa yang akan melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA dan SMK secara otomatis telah terintegrasi dan terdaftar di dalam sistem internal panitia.
“Ayo seluruh orang tua siswa, pagi hari ini tidak usah lagi repot untuk daftar karena hari ini SPMB dibuka tanggal 15 Juni sampai 14 Juli 2026. Siswa-siswa kita yang masuk SMA dan SMK sudah terdaftar di SPMB,” ujar Dedi Mulyadi dalam keterangan resminya.
Mantan Bupati Purwakarta itu menambahkan, tugas utama para calon peserta didik saat ini hanyalah melakukan kroscek untuk memastikan seluruh berkas dokumen persyaratan telah lengkap.
Langkah selanjutnya, pemohon tinggal mengikuti petunjuk teknis yang sudah tersaji secara gamblang di dalam aplikasi SPMB Jabar.
“Persyaratannya sudah lengkap. Di SPMB ini nanti tinggal klik saja sesuai dengan petunjuk teknis yang ada di aplikasi,” imbuhnya taktis.
Menyikapi riak keresahan dan kekhawatiran sebagian orang tua yang takut anaknya terlempar dari persaingan masuk sekolah negeri, Dedi memberikan jawaban berbasis data.
Berdasarkan peta pemantauan terkini milik Pemerintah Provinsi Jawa Barat, sejatinya masih ada deretan sekolah negeri yang kuota tampung siswanya belum terpenuhi.
Oleh karena itu, ia meminta masyarakat luas untuk mengubah pola pikir dan tidak sekadar bertumpu atau memaksakan diri pada sekolah-sekolah tertentu yang telah mengalami penumpukan pendaftar.
“Berdasarkan pemetaan data yang kita miliki, ternyata masih banyak sekolah-sekolah negeri yang belum cukup peminatnya. Manfaatkan ruang ini dengan baik, jangan kekeh di sekolah yang sudah numpuk pesertanya,” tutur Dedi mengingatkan.
- Antara
Khusus bagi calon siswa yang bertempat tinggal di wilayah administrasi perbatasan, Dedi menyarankan agar mengoptimalkan keberadaan jaringan sekolah penyangga yang telah disiapkan secara matang oleh pemerintah daerah.
“Sekolah penyangga itu bisa dimanfaatkan. Yang penting anak-anak kita sekolah,” tegasnya.
Sebagai langkah antisipasi bagi siswa yang terkendala mobilitas geografis atau memiliki keterbatasan untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka secara reguler setiap hari, Dedi menyodorkan SMA Terbuka sebagai opsi alternatif yang tidak kalah mentereng.
“Bagi mereka yang anak-anaknya tidak bisa tiap hari ke sekolah, manfaatkan SMA Terbuka. Ini juga sekolah negeri,” terangnya.
Ia memberikan garansi penuh bahwa para lulusan SMA Terbuka akan tetap mengantongi dokumen ijazah negeri dengan legalitas yang sah dan setara dengan sekolah reguler lainnya.
Bahkan, fasilitas pembelajaran yang digunakan juga terafiliasi dengan sekolah-sekolah yang dinilai bergengsi.
Di sisi lain, apabila jatah bangku di sekolah negeri pada akhirnya tetap tidak mencukupi, Pemprov Jabar dipastikan tidak akan menelantarkan hak pendidikan anak-anak.
- jabarprov.go.id
Dinas Pendidikan Jabar dilaporkan telah sukses mengunci kerja sama taktis dengan 700 sekolah swasta di seluruh wilayah Jawa Barat.
Agar tidak membebani isi dompet wali murid, kehadiran sekolah swasta mitra ini akan disokong penuh oleh skema pendanaan dari program Beasiswa Pancawaluya.
Lewat subsidi ini, siswa yang bersekolah di swasta mitra tidak akan dipungut biaya operasional pendidikan sepeser pun.
“Kita nanti memasuki era di mana anak-anak sekolah negeri dan sekolah swasta yang bekerja sama dengan pemerintah provinsi tidak dipungut biaya oleh sekolah karena biayanya sudah diberikan dalam bentuk Beasiswa Pancawaluya,” papar Dedi menjamin transparansi anggaran.
Di penghujung arahannya, Dedi Mulyadi menegaskan esensi penting kehadiran negara di tengah masyarakat, khususnya dalam sektor pendidikan dasar dan menengah.
Pemprov Jabar berkomitmen menghadirkan iklim pendidikan yang menjamin hak belajar anak bangsa tanpa perlu terganjal masalah finansial.
“Kita memasuki sebuah era di mana negara bertanggung jawab terhadap pendidikan warganya. Semoga sehat, berkah, dan penuh semangat untuk menyekolahkan anak-anak kita,” pungkas Dedi menyuntikkan motivasi.