- Antara/BPBD Garut
Deretan Peristiwa Kebakaran Gunung Cikuray Garut dalam 7 Tahun Terakhir, Terbaru 5 Hektare Terbakar
Garut, tvOnenews.com - Tim gabungan berupaya mengatasi kebakaran lahan di kawasan Gunung Cikuray, Kecamatan Cikajang, Garut. Selain itu, peristiwa ini juga terjadi di kaki Gunung Guntur di Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut, Jawa Barat.
Kebakaran di kawasan Gunung Cikuray seluas sekitar 5 hektare. Peristiwa ini terjadi pada Sabtu, 5 September 2026 malam hari.
Lokasi titik api kebakaran melanda area lereng dan hutan di sekitar Kecamatan Cikajang dan Desa Mulyajaya, Kecamatan Banjarwangi. Beruntungnya petugas gabungan dari BPBD, pemadam kebakaran (damkar), TNI, Polri, Perhutani, dan relawan berhasil mengendalikan peristiwa tersebut.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Garut Aah Anwar Saefuloh mengatakan, kini pihaknya menyiagakan sejumlah personel. Hal ini bertujuan untuk memantau sekaligus antisipasi serta penanganan cepat apabila terjadi kebakaran di kawasan lahan Gunung Cikuray dan Gunung Guntur.
"Anggota kami dengan Damkar di sana ya, waktu pemadaman, situasi sudah aman, dan kami masih melihat, karena di sana kan ada rumput kering dan banyaknya bambu kering yang mudah terbakar," ujar Aah dilansir dari Antara, Selasa (8/9/2026).
Kebakaran Gunung Cikuray pada kali ini tentu menambah catatan kejadian kebakaran lahan di kawasan pegunungan Garut. Berikut daftar kejadian terdokumentasi dalam sekitar tujuh tahun terakhir yang dirangkum tvOnenews.com.
1. Kebakaran Gunung Cikuray Periode 2019
Gunung Cikuray pernah mengalami kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Peristiwa ini cukup besar yang terjadi pada Minggu, 13 Oktober 2019, sekitar pukul 17.10 WIB.
Kabar ini pernah diungkap oleh Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Garut saat itu, Tubagus Agus Sofyan. Ia mengatakan bahwa, peristiwa tersebut menimpa wilayah Kecamatan Bayongbong.
"Kebakaran di Gunung Cikuray masuk ke wilayah Kecamatan Bayongbong. Kebakaran mulai terjadi sejak pukul 17.10 WIB," ujar Tubagus saat itu.
Kobaran api saat itu bahkan terlihat jelas oleh warga dari pemukiman sekitar. Pada malam harinya, petugas gabungan bersama warga langsung menuju lokasi sebagai langkah penanganan darurat.
Luas lahan dan hutan Perhutani yang terbakar di area Gunung Cikuray diperkirakan mencapai sekitar 6-7 hektare. Menjelang tengah malam hingga Senin, 14 Oktober 2019, petugas gabungan berhasil melokalisir api.
Petugas menggunakan cara membuat penyekatan atau batas menggunakan tanah di sekitar sisi kobaran api. Hal tersebut bertujuan agar tidak semakin meluas.
Proses pemadaman sempat mengalami kendala lantaran jarak lokasi kebakaran jauh dari pemukiman. Bahkan titik apinya sulit dijangkau menggunakan kendaraan membuat proses pemadaman secara manual dengan berjalan kaki.
2. Periode 2020-2025
Untuk periode 2020 hingga 2025, tidak tercatat pada laporan resmi mengenai kejadian kebakaran besar di kawasan Gunung Cikuray. Berdasarkan pantauan tim tvOnenews.com di lokasi pada 2023, peristiwa kebakaran hanya terjadi kecil-kecilan dan tidak begitu besar.
3. Periode 2026
Peristiwa kebakaran kembali terjadi di Gunung Cikuray pada Sabtu, 5 September 2026. Kasi Humas Polres Garut Ipda Susilo Adhi mengatakan, lokasi kebakaran lahan berdampak di enam titik, mulai dari wilayah Desa Rancabango, Kecamatan Tarogong Kaler pada Sabtu siang harinya.
Kebakaran meluas ke kawasan kaki Gunung Cikuray, Desa Mekarjaya, Kecamatan Cikajang, Garut pada Sabtu malam. Hal ini membuat si jago merah masuk kawasan Perhutani sekitar lima hektare.
Ia menegaskan, api berhasil dikendalikan menjelang Sabtu siang. Meski begitu, tim gabungan tetap memonitoring seluruh titik sebagai antisipasi munculnya kembali titik api dan meluas ke area lainnya.
Sementara, Kepala Seksi Konservasi Wilayah V Garut Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat, Vitriana Yulalita mengatakan bahwa, kebakaran di Gunung Cikuray pada kali ini tidak masuk kawasan Cagar Alam (CA).
"Alhamdulillah aman (tidak masuk kawasan CA)," ujar Vitriana di Garut, Minggu (6/9/2026).
Ia mengimbau warga maupun masyarakat agar semakin sadar mendukung lingkungan dan hutan. Setidaknya tidak perlu melakukan pembakaran kebun secara sembarangan.
"Situasi panas ekstrem, dan angin membuat api berpotensi menjadi kebakaran hutan dan lahan yang tidak terkendali," tukasnya.
(hap)