- Gambar ilustrasi AI / Gemini
AI Mulai Masuk Desa, UMKM Bojong Rangkas Didorong Manfaatkan Teknologi untuk Kembangkan Usaha
tvOnenews.com - Kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) tidak lagi hanya digunakan perusahaan teknologi, pekerja kreatif, atau masyarakat di kota besar.
Teknologi ini mulai diperkenalkan kepada masyarakat desa untuk kebutuhan yang lebih dekat dengan aktivitas sehari-hari, termasuk membantu pelaku usaha kecil mengembangkan bisnis.
Di Desa Bojong Rangkas, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, pemanfaatan AI diarahkan untuk mendukung pelaku UMKM agar lebih mudah membuat materi komunikasi, mengembangkan promosi, hingga memperluas jangkauan pemasaran.
Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya mengenalkan teknologi digital bukan sekadar sebagai alat untuk mengakses informasi, tetapi sebagai sarana meningkatkan produktivitas.
Persoalannya, memiliki akses internet belum otomatis membuat masyarakat mampu memanfaatkannya untuk kegiatan ekonomi.
Karena itu, kemampuan menggunakan teknologi, memahami media sosial, membuat konten, serta mengenali fungsi AI menjadi keterampilan yang semakin penting bagi pelaku usaha kecil yang ingin beradaptasi dengan perubahan pasar.
AI dan Media Sosial Diperkenalkan untuk Mendukung UMKM
Program Kampung Digital Binaan di Bojong Rangkas menghadirkan pelatihan dan pendampingan yang dirancang berdasarkan kebutuhan serta potensi masyarakat setempat.
Program tersebut dijadwalkan berlangsung selama 6–12 bulan dengan fokus pada penguatan kapasitas UMKM dan kemampuan menggunakan teknologi digital secara produktif.
Salah satu materi yang diperkenalkan adalah pemanfaatan AI, media sosial, serta pembuatan desain secara praktis. Bagi pelaku UMKM, teknologi tersebut dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan sederhana, mulai dari menyusun ide konten, membuat materi komunikasi, membantu penulisan promosi, hingga mendukung pengenalan produk kepada calon konsumen.
Pelatihan juga diarahkan agar masyarakat mampu mengembangkan produk dan mengelola usaha dengan lebih baik. Potensi yang tersedia di lingkungan sekitar diharapkan dapat diolah menjadi produk bernilai tambah sekaligus memiliki peluang pemasaran yang lebih luas.
Dengan demikian, literasi digital dalam program ini tidak berhenti pada kemampuan menggunakan perangkat atau aplikasi. Masyarakat didorong memahami bagaimana teknologi dapat digunakan untuk menunjang aktivitas ekonomi dan membantu UMKM beradaptasi dengan perubahan kebutuhan pasar.
Dari Pengguna Internet Menjadi Pelaku Ekonomi Digital
Kehadiran AI di lingkungan desa juga menunjukkan bahwa kesenjangan digital tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan jaringan internet. Ada persoalan lain yang tidak kalah penting, yakni kemampuan masyarakat mengubah akses teknologi menjadi keterampilan dan peluang ekonomi.
Pengembangan ekosistem digital perlu diikuti dengan peningkatan kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan teknologi.
“Membangun ekosistem digital yang inklusif berarti memastikan teknologi memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat akar rumput. Di Kampung Digital Binaan ini, kami menghubungkan konektivitas dengan kapabilitas digital warga. Melalui pelatihan pemanfaatan Kecerdasan Artifisial (AI) dan kreasi konten, kami ingin memastikan para pelaku UMKM lokal dan masyarakat Desa Bojong Rangkas dapat beradaptasi dan semakin produktif,” ujar Swandi Tjia, EVP Head of Circle Jakarta Raya, Indosat Ooredoo Hutchison.
Akses konektivitas juga diharapkan dapat mendukung aktivitas digital masyarakat, baik melalui perangkat pribadi maupun kebutuhan koneksi di rumah dan tempat usaha.
“Kami berharap seluruh warga dapat mengandalkan solusi di setiap langkahnya, mulai dari kemudahan akses internet di genggaman (smartphone) menggunakan kartu perdana IM3 atau Tri, hingga konektivitas untuk seluruh keluarga di rumah dan tempat usaha melalui layanan HiFi Air,” ujar Swandi.
Dalam konteks UMKM, kemampuan tersebut dapat menjadi bagian dari proses transformasi usaha. Pelaku usaha yang sebelumnya hanya mengandalkan pemasaran dari mulut ke mulut, misalnya, dapat mulai mengenalkan produknya melalui media sosial. Sementara itu, AI dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk menghasilkan ide, menyusun materi komunikasi, atau mempercepat pekerjaan tertentu.
Namun, penggunaan AI tetap membutuhkan kemampuan dasar untuk memeriksa informasi dan menyesuaikan hasil teknologi dengan kebutuhan usaha. Artinya, teknologi berfungsi sebagai alat bantu, sementara keputusan mengenai produk, strategi usaha, dan komunikasi dengan konsumen tetap berada di tangan pelaku UMKM.
Pendampingan 6–12 Bulan Jadi Bagian Penting Program
Program Kampung Digital Binaan tidak hanya mengandalkan kegiatan pelatihan satu kali. Pendampingan selama 6–12 bulan menjadi bagian dari rancangan program untuk membantu masyarakat mengembangkan kemampuan secara bertahap. Durasi tersebut juga memberi ruang untuk menyesuaikan materi dengan kebutuhan dan potensi lokal.
Dalam pelaksanaannya, PT Inovasi Daya Solusi (IDS) berperan sebagai agregator yang memberikan dukungan sistem dan operasional agar rangkaian kegiatan dapat berjalan secara terintegrasi. Program Kampung Digital diarahkan agar masyarakat tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga dapat memanfaatkannya untuk kegiatan ekonomi.
“Bagi kami, Kampung Digital bukan sekadar membawa teknologi ke desa, tetapi membawa peluang baru bagi masyarakat. Kami ingin masyarakat tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu memanfaatkannya untuk mengembangkan usaha, menciptakan sumber penghasilan baru, dan membangun kemandirian ekonomi,” ujar Chieka Ramadhani, VP of Business Development PT Inovasi Daya Solusi.
Penguatan literasi digital dan pemanfaatan AI perlu berjalan bersama dengan pengembangan UMKM agar teknologi dapat memberikan manfaat yang lebih konkret bagi masyarakat.
“Melalui penguatan literasi digital, pemanfaatan AI, pengembangan UMKM, serta akses terhadap peluang bisnis, kami ingin menghadirkan transformasi digital yang benar-benar memberikan dampak positif. Di mana teknologi tidak berhenti sebagai solusi, tetapi menjadi penggerak peluang, produktivitas, dan pertumbuhan ekonomi masyarakat,” ujar Rani Wijaya, General Manager Corporate Communication Alfamart.
- ist
“Kami mengapresiasi inisiatif Indosat Ooredoo Hutchison yang menghadirkan konektivitas dan literasi digital secara langsung kepada masyarakat. Bagi kami, semangat keberlanjutan dalam Green Retail juga kami maknai sebagai upaya untuk membangun masyarakat yang lebih mandiri, adaptif, dan memiliki peluang ekonomi yang lebih baik. Kami berharap kolaborasi ini dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat Desa Bojong Rangkas dan terus berkembang secara berkelanjutan,” tambahnya.
Pada akhirnya, Kampung Digital Binaan di Desa Bojong Rangkas merupakan kolaborasi Indosat Ooredoo Hutchison, Alfamart, dan PT Inovasi Daya Solusi yang menggabungkan pengembangan UMKM, literasi digital, pemanfaatan AI, serta pendampingan masyarakat.
Program yang berlangsung 6–12 bulan ini diarahkan agar teknologi tidak berhenti pada akses internet, tetapi dapat digunakan masyarakat untuk meningkatkan keterampilan, produktivitas, dan peluang ekonomi dari potensi lokal yang mereka miliki. (udn)