- Tangkapan layar instagram beritasemaranghariini
Viral Atlet Silat Kejang Usai Dibanting di Porprov Jateng, Mengapa Penanganan Medis Jadi Sorotan?
tvOnenews.com - Sebuah video pertandingan pencak silat di Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Tengah 2026 viral dan menjadi sorotan setelah memperlihatkan seorang atlet mengalami kejang usai dibanting lawannya.
Rekaman yang beredar di media sosial itu memunculkan kekhawatiran, terutama karena atlet tersebut terlihat tidak mampu berdiri, sementara wasit melakukan penghitungan sebelum tim medis memberikan pertolongan.
Peristiwa tersebut mengundang pertanyaan tentang prosedur keselamatan dalam olahraga kontak fisik. Ketika seorang atlet terjatuh dengan benturan di kepala dan kemudian mengalami kejang, setiap detik penanganan menjadi perhatian.
Publik pun mempertanyakan alasan pertandingan tidak langsung dihentikan sepenuhnya untuk memberikan pertolongan medis.
Namun, potongan video yang beredar belum cukup untuk menjelaskan keseluruhan prosedur di arena ataupun kondisi kesehatan atlet. Penilaian mengenai tindakan wasit, kewenangan dokter pertandingan, dan penanganan cedera perlu merujuk pada keterangan pihak terkait.
Di sisi lain, insiden ini menjadi pengingat bahwa benturan kepala dalam olahraga tidak boleh dianggap sepele, terlebih ketika disertai gejala neurologis seperti kejang.
Kronologi Atlet Silat Kejang Setelah Dibanting di Porprov Jateng
Video yang diunggah akun Instagram @beritasemaranghariini memperlihatkan pertandingan antara atlet dari sudut merah dan sudut biru.
Dalam rekaman tersebut, atlet sudut biru melancarkan tendangan yang kemudian ditangkap oleh lawannya. Atlet sudut merah lalu melakukan bantingan hingga pesilat sudut biru terjatuh ke matras.
- Tangkapan layar Youtube Pencak SIlat
Setelah kejadian itu, wasit mendatangi kedua atlet dan meminta pesilat sudut merah menjauh. Wasit kemudian melakukan penghitungan, sementara atlet sudut biru terlihat tidak dapat berdiri dan mengalami kejang. Setelah hitungan selesai, tim medis dipanggil untuk memberikan pertolongan.
Atlet tersebut kemudian ditandu keluar dari arena. Takarir unggahan Instagram @beritasemaranghariini, yang dilansir pada Jumat (30/10/26), turut mempertanyakan prosedur penghitungan tersebut dan menyoroti pentingnya penanganan cepat ketika atlet mengalami kondisi yang mengkhawatirkan.
Ketua KONI Jawa Tengah, Sujarwanto Dwiatmoko, menjelaskan bahwa insiden itu berlangsung pada Selasa (27/10/2026), dalam pertandingan perempat final pencak silat kelas D putra. Laga tersebut mempertemukan Ginting, atlet asal Kota Surakarta, dengan Kukuh Angga W dari Kabupaten Blora.
Berdasarkan keterangan technical delegate pencak silat, Ginting melakukan teknik serang bela berupa bantingan terhadap Kukuh.
"Pertandingan pada babak perempat final kelas D Putra antara Ginting melawan Kukuh Angga W terjadi teknik serang bela atau bantingan dan dihentikan wasit," jelas Sujarwanto.
Menurut penjelasan tersebut, wasit menghentikan pertandingan setelah kejadian itu. Namun, mekanisme penghitungan sebelum pertolongan medis diberikan kemudian menjadi salah satu persoalan yang mendapat perhatian publik.
Penjelasan KONI dan Tim Medis soal Prosedur Penanganan
Sujarwanto menerangkan bahwa wasit melakukan penghitungan sampai sepuluh karena kejadian tersebut dinilai bukan pelanggaran berdasarkan peraturan pertandingan Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI). Setelah hitungan selesai, tenaga medis memberikan pertolongan pertama kepada Kukuh.
"Karena bukan pelanggaran, di dalam peraturan pertandingan IPSI, harus dihitung sampai sepuluh baru setelah itu medis melakukan pertolongan pertama pada cedera atlet tersebut," bebernya.
Penjelasan tersebut menggambarkan dasar prosedural yang disampaikan pihak KONI. Meski demikian, penerapan aturan pertandingan dan kebutuhan pertolongan medis merupakan dua hal yang perlu dipahami secara cermat, terutama ketika atlet menunjukkan gejala yang berpotensi menandakan kondisi darurat.
Ketua Seksi Kesehatan PB Porprov Jateng, Elhamangto Zuhdan, mengatakan kejang yang dialami Kukuh berkaitan dengan benturan kepala yang memengaruhi aktivitas listrik otak.
"Akibat benturan kepala sehingga memengaruhi aktivitas listrik otak pada atlet tersebut sehingga mengalami kejang-kejang. Ini merupakan gangguan neurologis," kata Elhamangto dalam konferensi pers di lobi kantor Gubernur Jawa Tengah, Kamis (29/10/2026).
Elhamangto menyebut evaluasi terhadap durasi kejang dan pemeriksaan tanda-tanda vital menunjukkan kondisi atlet tidak memperlihatkan gangguan serius. Ia juga menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak termasuk stroke.
Meski begitu, penilaian itu tidak berarti semua kejang setelah benturan kepala dapat dianggap ringan. Terkait penghentian pertandingan, Elhamangto menjelaskan bahwa keputusan berada dalam kewenangan dokter pertandingan sesuai ketentuan masing-masing cabang olahraga.
"Kalau menurut kedokteran, apabila ada tanda-tanda mengancam jiwa atau kegawatdaruratan yang mengancam jiwa, tentu harus segera dilakukan tindakan penyelamatan," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa tim kesehatan bertugas memberikan penanganan setelah mendapat sinyal dari dokter pertandingan.
"Dalam pertandingan tersebut juga ada dokter pertandingan. Jadi pada setiap pertandingan yang mempunyai risiko body contact memang di situ nanti yang memutuskan adalah dokter pertandingan. Kami tim medis hanya melaksanakan tugas setelah diberikan sinyal oleh teman-teman dokter pertandingan," jelasnya.
Mengapa Kejang Setelah Benturan Kepala Tidak Boleh Diabaikan?
Dalam olahraga dengan kontak fisik, benturan kepala dapat menimbulkan cedera yang tingkat keparahannya tidak selalu terlihat dari luar. Kejang setelah benturan merupakan gejala yang memerlukan evaluasi medis segera.
Kondisi seseorang tidak cukup dinilai hanya dari kesadaran sesaat atau penampilan fisiknya setelah kejadian.
Pertolongan awal perlu mengutamakan keselamatan atlet, termasuk memastikan lingkungan sekitar aman, tidak menahan gerakan kejang secara paksa, dan tidak memasukkan benda ke mulut.
Atlet juga tidak seharusnya langsung dibangunkan untuk melanjutkan pertandingan. Penilaian tenaga medis diperlukan untuk menentukan pemeriksaan dan pemantauan berikutnya.
- Tangkapan layar instagram beritasemaranghariini
Dalam kasus Kukuh, Sujarwanto mengatakan atlet tersebut dibawa ke Rumah Sakit Primaya untuk mendapatkan perawatan. Ia juga menjenguk Kukuh pada Rabu (28/10/2026).
"Atlet tersebut dalam perawatan di Rumah Sakit Primaya. Saat kemarin saya besuk, kondisi sudah sehat dan kami meminta tetap diobservasi," ucapnya.
Sujarwanto kemudian menyampaikan bahwa Kukuh telah diizinkan pulang pada Kamis siang (29/10/2026).
"Siang ini sudah diizinkan pulang dari RS," pungkasnya.
Perkembangan kondisi Kukuh menjadi kabar penting setelah video insiden tersebut menyebar luas. Namun, kepulangannya dari rumah sakit tidak menghapus pentingnya evaluasi terhadap prosedur keselamatan dalam pertandingan.
Insiden ini memperlihatkan bahwa keselamatan atlet bukan hanya bergantung pada aturan teknis pertandingan, tetapi juga pada koordinasi antara wasit, dokter pertandingan, dan tim medis. Ketika muncul tanda yang berpotensi mengancam keselamatan, penilaian medis harus menjadi pertimbangan utama dalam menentukan langkah selanjutnya.
Penjelasan KONI dan tim kesehatan memberikan gambaran mengenai prosedur yang diterapkan serta kondisi Kukuh setelah kejadian.
Sementara itu, pertanyaan publik tentang respons di arena menegaskan pentingnya memastikan setiap pihak memahami kewenangan dan protokol darurat. Dalam olahraga kontak fisik, kemenangan dan kelancaran kompetisi tetap harus berjalan seiring dengan perlindungan terhadap keselamatan atlet. (udn)