- Miftakhul Erfan
Warga Madiun Sukses Ciptakan Biodiesel Ramah Lingkungan dari Limbah MBG, Minyak Bekas, dan Ampas Tebu
Madiun, tvOnenews.com – Sebuah terobosan luar biasa hadir dari Kota Madiun. Seorang warga lokal berhasil mengolah limbah dapur sisa Program Makan Bergizi Gratis (MBG), ampas tebu, tepung ketela, hingga minyak jelantah menjadi bahan bakar minyak (BBM) jenis biodiesel berkualitas tinggi dan ramah lingkungan.
Keunggulan inovasi ini bahkan sudah dilirik oleh negara Nigeria, serta direncanakan diproduksi massal oleh Kementerian Pertanian untuk mendukung ketahanan pangan nasional.
Inovator tersebut adalah Cahya Yudi Widianto, pemilik PT Marolis Cahaya Internasional yang beralamat di Jalan Sawahan, Kelurahan-Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun.
Ia berhasil menyulap sampah organik menjadi sumber energi bernilai jual tinggi yang diberi nama Biodiesel Marolis (BM-100), dengan kualitas yang mendekati BBM jenis Dexlite.
Prestasi ini pun memancing perhatian pihak berwenang. Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian Jakarta mengutus Ir. Yuris Tiyanto untuk datang langsung ke lokasi pabrik di Madiun guna memverifikasi proses produksi dan uji coba produk secara nyata.
Menurut penuturan Cahya Yudi Widianto saat ditemui di pabriknya, Sabtu (25/7) bahan baku utama biodiesel ini berasal dari limbah dapur MBG yang ditampung lalu difermentasi untuk menghasilkan biomassa.
Tak hanya itu, limbah minyak jelantah, ampas tebu, dan tepung ketela yang kaya akan karbon juga dicampurkan sebagai bahan pendukung.
“Proses pembuatan BBM Biodiesel ini menggunakan bahan dari limbah MBG, minyak bekas, ampas tebu, dan tepung ketela. Semua bahan tersebut banyak ditemukan dilingkungan kita dan gratis,”kata Cahya.
Setelah itu, sambung Cahya hasil fermentasi diproses kembali dengan campuran biomassa dipanaskan dengan suhu tertentu melalui metode de novo dan ex novo hingga menghasilkan biodiesel berkualitas tinggi yang dinamai BM-100.
“Prosesnya dari pupuk organik hasil fermentasi itu kitau ubah menjadi biosolar, caranya kita proses dengan de novo dan eksnovo,” imbuhnya.
“Jadi bahan limbah tadi kita fermentasi untuk dapatkan biomasa, lalu kita proses sehingga bakteri yang ada di limbah tadi saling menghasilkan karbon,” terang Cahya.
Dari satu liter jelantah atau minyak goreng bekas bisa menghasilkan satu liter biodiesel. Itu juga berlaku prosesnya untuk limbah dapur MBG.