- tim tvOnenews
TNI AL dan Pemkab Banyuwangi Optimalkan 1.200 Hektar Lahan untuk Tanam Kedelai
Banyuwangi, tvOnenews.com – Dukungan untuk ketahanan pangan nasional terus digulirkan. Seperti sinergi yang dilakukan TNI Angkatan Laut (TNI AL) bersama Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dan Kementerian Pertanian. Langkah strategis ini diwujudkan melalui Gerakan Penanaman Kedelai seluas 1.200 hektar yang dipusatkan di Kecamatan Tegaldlimo dan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi, Jumat (31/7).
Selain penanaman kedelai secara simbolis, kegiatan bakti sosial juga dilakukan berupa pelayanan kesehatan gratis dan pembagian paket sembako kepada ratusan warga sekitar.
Wakil Komandan Kodaeral V TNI AL Brigjen Marinir Suwandi mengatakan keterlibatan TNI AL merupakan bentuk dukungan riil terhadap program pemerintah dalam mewujudkan kemandirian pangan nasional.
“TNI AL bekerja sama dengan Kementerian Pertanian, pemerintah daerah Banyuwangi, serta sejumlah stakeholder lainnya di bidang kedelai untuk mendukung program pemerintah menuju Indonesia mandiri di bidang ketahanan pangan," ujar Brigjen Mar Suwandi.
Program penanaman kedelai ini juga dilakukan di seluruh jajaran Kodaeral di Indonesia. Pemilihan Banyuwangi didasarkan pada pertimbangan cuaca yang saat ini sangat mendukung untuk budidaya kedelai. Total lahan seluas 1.200 hektar tersebut terbagi di dua wilayah kecamatan, yakni Tegaldlimo dan Purwoharjo.
Guna melindungi kesejahteraan petani, TNI AL tidak sekadar memberikan pendampingan teknis tetapi juga memastikan kepastian pasar dan harga jual.
“Harapan kami dengan penanaman ini hasil panen kedelai meningkat dan petani semakin sejahtera karena kami tidak hanya mendampingi tetapi juga memberikan jaminan penetapan harga Rp10.000 per kilogram," tambahnya.
Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono menyampaikan apresiasi atas dipilihnya Banyuwangi sebagai pilot project nasional penanaman kedelai seluas 1.200 hektar. Menurutnya, sektor pertanian memegang peran krusial sebagai pondasi utama perekonomian daerah.
“Sektor pertanian masih menjadi penopang utama perekonomian daerah dengan kontribusi mencapai 26 persen dari Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB). Produksi kedelai kita pada tahun 2025 terus meningkat mencapai sekitar 8.600 ton," ungkap Mujiono.
Keberhasilan Banyuwangi, tambah Mujiono, ini didukung oleh ketekunan para petani lokal yang sebagian besar merupakan perantau asal wilayah Mataraman (Solo, Jogja, dan sekitarnya). Dalam program ini, pemerintah mendistribusikan sekitar 60 ton benih unggul yang dikelola oleh 55 kelompok tani.
Mujiono menilai langkah ini sangat selaras dengan visi Asta Cita Presiden Republik Indonesia untuk mencapai swasembada pangan yang berdikari. Terlebih, kedelai merupakan bahan baku utama komoditas konsumsi harian masyarakat seperti tahu dan tempe.
“Kebutuhan kedelai nasional telah mencapai lebih dari 3 juta ton per tahun, sementara produksi dalam negeri belum sepenuhnya mampu memenuhi. Artinya, setiap hektar kedelai yang kita tanam hari ini adalah kontribusi nyata untuk mengurangi ketergantungan impor sekaligus memperkuat kemandirian bangsa," pungkas Mujiono.
Melalui sinergi lintas instansi ini diharapkan Banyuwangi mampu menjadi salah satu lumbung kedelai unggulan yang tidak hanya mendongkrak kesejahteraan petani lokal, tetapi juga memperkuat kedaulatan pangan regional Jawa Timur hingga nasional. (timtvOne)