- tim tvone - tim tvone
Peringatan Hari Pramuka Ke-65, Gubernur Khofifah Ajak Pramuka Jatim Jadi Penggerak Swasembada Pangan
“Ini semakin mempertegas posisi Jawa Timur sebagai penyangga utama industri gula nasional sekaligus daerah strategis dalam ikhtiar mewujudkan swasembada gula,” ungkapnya.
Memasuki 2026, Jawa Timur kembali mendapat kepercayaan untuk melaksanakan Program Bongkar Ratoon seluas 48.315 hektare dan Program Perluasan Areal Tebu seluas 6.582 hektare. Total target pengembangan tebu di Jawa Timur mencapai 54.897 hektare yang tersebar di 24 kabupaten sentra tebu.
Tidak hanya komoditas gula, kekuatan Jawa Timur dalam mendukung ketahanan pangan nasional juga ditopang sektor tanaman pangan, terutama padi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), luas panen padi Jawa Timur pada 2025 mencapai sekitar 1,84 juta hektare, meningkat 13,88 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Dari luasan tersebut, produksi padi mencapai sekitar 10,44 juta ton Gabah Kering Giling (GKG), meningkat 12,60 persen dibandingkan produksi 2024. Produksi tersebut setara dengan sekitar 6,03 juta ton beras untuk konsumsi penduduk.
Khofifah menilai capaian sektor pangan Jawa Timur harus berjalan beriringan dengan regenerasi pelaku pertanian. Sebab, keberlanjutan ketahanan pangan dalam jangka panjang sangat bergantung pada kemampuan Indonesia menyiapkan generasi muda yang mau dan mampu terlibat dalam sektor pertanian.
Ia melihat, Gerakan Pramuka dinilai dapat menjadi salah satu ruang strategis untuk menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap pertanian sekaligus membangun pemahaman bahwa kemandirian pangan merupakan bagian dari kedaulatan bangsa.
“Anak-anak muda harus melihat pertanian sebagai sektor masa depan. Pertanian hari ini bukan hanya tentang mencangkul dan menanam, tetapi juga teknologi, inovasi, digitalisasi, kewirausahaan, hingga bagaimana membangun rantai nilai pangan yang berkelanjutan. Disinilah Pramuka bisa mengambil peran strategis,” tuturnya.
Khofifah menambahkan, perkembangan teknologi justru membuka ruang yang semakin luas bagi generasi muda untuk masuk ke sektor pertanian. Pertanian modern membutuhkan inovasi dalam budidaya, pengelolaan data, mekanisasi, pemasaran, pengolahan hasil, hingga pengembangan usaha berbasis pangan.
Lebih lanjut, Khofifah menyebut nilai-nilai yang selama ini ditanamkan dalam Gerakan Pramuka. Seperti disiplin, gotong royong, kemandirian, kepedulian terhadap lingkungan, serta semangat pengabdian yang memiliki relevansi kuat dengan agenda membangun ketahanan bangsa.
Terlebih, tantangan yang dihadapi Indonesia ke depan semakin kompleks. Perubahan iklim, ancaman krisis pangan, dinamika geopolitik, perkembangan teknologi, serta perubahan pola kehidupan masyarakat membutuhkan generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga tangguh dan adaptif.