news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ilustrasi Teknologi Bikin Panen Cabai Rawit Naik 15 Persen, Begini Cara Pertanian Modern Mengubah Cara Petani Bekerja.
Sumber :
  • Gambar ilustrasi AI / Gemini

Teknologi Bikin Panen Cabai Rawit Naik 15 Persen, Begini Cara Pertanian Modern Mengubah Cara Petani Bekerja

Pertanian modern kini mengandalkan data, AI, dan pemupukan presisi. Program Pestani Rawit Groo Festival menunjukkan penerapannya pada petani cabai
Rabu, 19 Agustus 2026 - 18:35 WIB
Reporter:
Editor :

tvOnenews.com -  Pertanian dunia sedang memasuki fase baru. Jika dahulu keputusan petani sangat bergantung pada pengalaman membaca cuaca, kondisi tanah, dan pertumbuhan tanaman, kini semakin banyak keputusan budidaya dibantu data. 

Sensor, citra satelit, drone, kecerdasan buatan (AI), Internet of Things (IoT), hingga aplikasi digital mulai digunakan untuk menentukan kapan tanaman perlu diberi air, pupuk, atau perlakuan tertentu.

Perubahan tersebut terlihat di sejumlah negara maju. Di Amerika Serikat, misalnya, teknologi pertanian presisi semakin banyak digunakan di lahan skala besar. 

Data USDA menunjukkan pada 2023 sistem autosteer pada traktor dan mesin pertanian digunakan oleh 52 persen pertanian skala menengah dan 70 persen pertanian tanaman skala besar. Sementara teknologi pemantauan hasil dan pemetaan tanah digunakan oleh 68 persen pertanian tanaman skala besar.

Jepang juga mendorong smart farming dengan memanfaatkan robot, AI, IoT, drone, sistem pengelolaan air jarak jauh, hingga analisis data untuk membantu menghadapi berkurangnya tenaga kerja pertanian. 

Pemerintah Jepang bahkan mengembangkan berbagai proyek demonstrasi agar teknologi tersebut dapat diuji langsung di lapangan. 

Di tingkat global, FAO menyebut pertanian presisi dapat membantu meningkatkan produktivitas sekaligus membuat penggunaan air, pupuk, dan pestisida menjadi lebih efisien.

Pertanian Tak Lagi Sekadar Mengandalkan Perkiraan

Perubahan paling penting dari pertanian berbasis teknologi bukan sekadar penggunaan mesin canggih, melainkan bagaimana petani mengambil keputusan berdasarkan data.

Teknologi presisi memungkinkan kondisi tanah, cuaca, tanaman, hingga kebutuhan nutrisi dianalisis secara lebih terukur. Bahkan, penggunaan pupuk dapat diarahkan sesuai kondisi bagian tertentu dari lahan, bukan diberikan secara seragam.

FAO pada 2026 menyebut penerapan pemupukan spesifik lokasi yang memanfaatkan algoritma optimasi dan penginderaan jauh pada sistem produksi padi berpotensi mengurangi penggunaan pupuk hingga 40 persen, sembari mempertahankan atau meningkatkan potensi hasil gabah sekitar 15-20 persen dibandingkan aplikasi pupuk secara seragam.

Konsep tersebut menunjukkan bahwa teknologi pertanian bukan semata-mata tentang mengejar hasil panen sebanyak mungkin. Tujuan lainnya adalah menggunakan sumber daya secara lebih tepat sehingga biaya produksi, penggunaan input, dan dampak lingkungan dapat ditekan.

Pendekatan serupa mulai diterapkan di Jawa Timur melalui Program Pestani Rawit Groo Festival yang digelar PT Petrokimia Gresik. Program tersebut mengajak ratusan petani cabai rawit menerapkan pemupukan berimbang dan praktik budidaya berbasis teknologi langsung di lahan.

70 Petani Cabai Uji Budidaya Berbasis Teknologi

Program ini diikuti 270 petani dari Malang, Kediri, Mojokerto, Blitar, dan Probolinggo. Kepala Bidang Tanaman Hortikultura Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur, Pudjiati Ningsih, menilai kegiatan tersebut dapat memberikan manfaat langsung bagi petani sekaligus mendukung produktivitas cabai rawit.

Teknologi Bikin Panen Cabai Rawit Naik 15 Persen, Begini Cara Pertanian Modern Mengubah Cara Petani Bekerja
Sumber :
  • Istimewa

“Saya berharap kegiatan ini bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk menjaga ketahanan pangan. Melalui program ini kita bisa menjaga produktivitas dan kualitas cabai rawit,” ujar Pudjiati dalam keterangannya, Rabu (19/8/2026).

Jawa Timur sendiri memiliki posisi penting dalam produksi cabai rawit nasional. Menurut Petrokimia Gresik, sekitar 35 persen produksi cabai rawit Indonesia berasal dari provinsi tersebut dengan total produksi lebih dari 600 ribu ton.

Direktur Keuangan dan Umum Petrokimia Gresik, Adityo Wibowo, mengatakan pemupukan berimbang, teknologi, serta teknik budidaya yang tepat diarahkan untuk membantu petani meningkatkan produktivitas sekaligus memperoleh hasil ekonomi yang lebih baik.

“Terbukti menunjukkan hasil positif melalui demonstration plot (demplot), hasil panen mencapai 11,5 ton per hektare, atau meningkat sekitar 13 hingga 15 persen dibandingkan hasil panen sebelumnya yang mencapai 10 ton per hektare,” ujar Adityo, melansir dari ANTARA.

Program tersebut tidak hanya berbentuk pelatihan. Petani juga mengikuti kompetisi Groo Field Creation dengan menerapkan paket budidaya sejak penanaman hingga panen. Penilaian didasarkan pada berat total 54 buah cabai dengan bobot 80 persen, sementara dokumentasi proses budidaya memiliki bobot 20 persen.

Dari Uji Lahan hingga AI untuk Petani

Pendekatan teknologi dalam program tersebut juga diperkenalkan melalui AgrooFertile, sebuah aplikasi yang menggabungkan kecerdasan buatan, layanan agronomi, dan basis data.

Selain aplikasi, petani diperkenalkan dengan Buku Kesuburan Tanah sebagai referensi untuk memahami kondisi tanah, pentingnya pengujian tanah, pemupukan berimbang, serta penerapan pertanian berbasis data.

Adityo mengatakan teknologi seharusnya tidak berhenti sebagai perangkat, tetapi digunakan untuk membantu petani mengambil keputusan.

“Kami ingin teknologi hadir bukan sekadar sebagai alat, tetapi menjadi solusi yang benar-benar membantu petani mengambil keputusan, mengelola lahannya dengan lebih baik, dan menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi,” ujar Adityo.

Pendekatan tersebut sejalan dengan perkembangan pertanian modern di berbagai negara. FAO menilai digitalisasi dan otomasi dapat meningkatkan efisiensi, produktivitas, kualitas hasil, sekaligus keberlanjutan. Namun, adopsinya tidak otomatis mudah karena membutuhkan konektivitas, infrastruktur, biaya yang terjangkau, serta peningkatan kemampuan digital petani. 

Di Jawa Timur, program ini juga melibatkan 270 pegiat urban farming dari 27 provinsi melalui Groo Plant Creator. Mereka membagikan pengalaman budidaya cabai melalui media sosial, mulai dari penanaman sampai panen.

Salah satu peserta, Sumarno dari Kelompok Tani Tresno Tani Gembongan, Blitar, mengatakan dirinya mengikuti rekomendasi pemupukan yang diberikan dalam program tersebut.

“Pengaplikasian pupuknya saya mengikuti rekomendasi yang diberikan oleh Petrokimia Gresik. Hasilnya sangat optimal, saya dan teman-teman petani antusias sekali mengikuti program ini,” pungkasnya.

Dengan luas panen cabai rawit Jawa Timur mencapai 85.759 hektare dan rata-rata produktivitas 7,04 ton per hektare, pemanfaatan teknologi dapat menjadi salah satu jalan untuk meningkatkan efisiensi budidaya. 

Tantangannya bukan hanya menghadirkan teknologi, tetapi memastikan teknologi tersebut benar-benar mudah digunakan, terjangkau, dan mampu menjawab kebutuhan petani di lapangan. (udn)

 
 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

01:17
05:07
01:30
06:26
01:12
01:16

Viral