- Tim tvOne
Ponpes Annuqayah Perkuat Sektor Pertanian, Combine Harvester Tingkatkan Efisiensi Panen
Sumenep, tvOnenews.com - Kemandirian ekonomi Pondok Pesantren Annuqayah, Kabupaten Sumenep, terus dikembangkan melalui berbagai unit usaha produktif. Salah satu yang menjadi andalan adalah sektor pertanian, dengan lahan sawah seluas sekitar 40 hektare yang tersebar di empat wilayah desa.
Saat musim panen, lahan tersebut mampu menghasilkan hingga 200 ton padi. Hasilnya tidak hanya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi para santri, tetapi juga didistribusikan kepada masyarakat sekitar.
Pengelolaan pertanian tersebut juga melibatkan berbagai unsur dalam ekosistem pesantren, mulai dari santri, alumni hingga masyarakat lokal. Keterlibatan ini menjadi bagian dari upaya Annuqayah memberikan pengalaman dan keterampilan praktis kepada santri, sekaligus membuka ruang pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Namun, pengelolaan pertanian di kawasan Annuqayah menghadapi tantangan karena sebagian besar lahan merupakan sawah tadah hujan. Untuk meningkatkan produktivitas sekaligus efisiensi proses panen, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur memberikan dukungan sarana dan prasarana berupa combine harvester atau mesin pemanen padi.
Deputi Kepala Perwakilan BI Jawa Timur, Rifky Ismal, mengatakan, bantuan tersebut merupakan bagian dari upaya mendorong pengembangan usaha pesantren agar dapat berkembang dalam skala yang lebih besar.
“Nah ini combine harvester salah satu sarana prasarana yang diberikan Bank Indonesia kepada Pondok Pesantren Annuqoyah untuk meningkatkan efisiensi proses produksi pertaniannya. Tadi kami disuksi dengan pengasuh ponpes, alhamdulillah sudah 30 persen lebih efisien. Tentu ini pastinya kan mengurangi penggunaan tenaga manusia, lebih cepat, lebih efisien, dan nanti proses produksi outputnya juga lebih banyak,” ujarnya.
Menurut Rifky, pendampingan BI tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga efisiensi dan tata kelola usaha. Dengan dukungan teknologi, potensi unit usaha pesantren diharapkan dapat terus ditingkatkan.
Dukungan serupa juga diberikan kepada unit usaha lain milik Annuqayah. Pada sektor air minum dalam kemasan, BI membantu pengadaan mesin pengemasan galon untuk mempercepat proses produksi AMDK Suci. Unit usaha ini kini mampu mencatat omzet hingga sekitar Rp800 juta per bulan dan melibatkan santri, alumni, serta masyarakat sekitar dalam operasionalnya.
Sementara di sektor kuliner, BI turut mendukung Esemka Bakery melalui bantuan oven. Peralatan tersebut membuat waktu produksi pesanan dalam jumlah besar menjadi lebih singkat, dari sebelumnya sekitar lima hari menjadi tiga hari untuk memproduksi 1.500 roti. Unit usaha ini juga menjadi ruang bagi santri dan siswa SMK Annuqayah untuk belajar langsung mengelola proses bisnis, mulai dari produksi hingga pemasaran.
Pengembangan berbagai unit usaha tersebut menunjukkan bahwa kemandirian ekonomi Annuqayah tidak hanya bertumpu pada satu sektor. Pertanian, perkebunan, peternakan, AMDK hingga bakery dikembangkan sebagai ekosistem yang saling menopang, sekaligus menjadi ruang pembelajaran bagi santri dan pemberdayaan bagi alumni serta masyarakat. (far)