- Tangkapan layar instagram 20detik
Viral Kucing Berkostum di Tunjungan Terlihat Lemas, Pemilik Bantah Diberi Obat Tidur
tvOnenews.com - Kucing-kucing berkostum yang tertidur di tengah ramainya Jalan Tunjungan, Surabaya, mendadak menjadi perbincangan di media sosial. Bukan karena kostumnya, melainkan kondisi sejumlah kucing yang terlihat sangat tenang bahkan terlelap saat berada di tengah kerumunan pengunjung.
Dari video yang beredar, muncul pertanyaan apakah kondisi tersebut merupakan perilaku normal atau ada sesuatu yang membuat kucing menjadi terlalu pasif.
Sorotan kemudian berkembang menjadi dugaan bahwa kucing-kucing tersebut sengaja diberi obat tidur atau obat penenang agar tetap tenang ketika dipakaikan kostum dan dibawa ke lokasi ramai.
Dugaan itu datang dari pengunjung yang mengaku melihat langsung kondisi kucing di Tunjungan. Perbincangan di media sosial pun melebar hingga muncul tudingan mengenai kemungkinan eksploitasi hewan karena aktivitas tersebut juga disertai open donasi.
Pemilik kucing, Bimo, akhirnya memberikan klarifikasi. Ia membantah kucing-kucing yang dibawanya ke Tunjungan diberi obat tidur. Menurut dia, kucing yang terlihat lemas atau tertidur memang memiliki karakter berbeda-beda dan beberapa di antaranya sudah terbiasa berada di dekat dirinya.
Bimo juga menjelaskan alasan membawa kucing ke ruang publik serta penggunaan uang donasi yang diberikan pengunjung.
Kucing Disebut Memang Terbiasa Tidur di Tengah Keramaian
Bimo mengatakan kondisi kucing yang tampak santai di tengah keramaian tidak otomatis menunjukkan adanya pemberian obat. Menurutnya, sebagian kucing memiliki karakter tenang dan dapat tertidur dalam berbagai situasi.
"Kalau lagi males, males. Dia di manapun kondisinya, apapun, seramai apapun dia akan tidur," kata Bimo, dikutip dari instagram 20detik, Rabu (23/9/2026).
Ia juga menjelaskan kedekatan antara dirinya dan kucing menjadi salah satu faktor yang membuat hewan tersebut tetap tenang. Bimo mengaku memahami karakter masing-masing kucing yang dirawatnya.
"Kalau kucing udah percaya sama owner-nya, dia itu merasa aman," ujarnya.
- Tangkapan layar instagram 20detik
Bimo menyebut dirinya memiliki pengalaman melatih kucing, termasuk untuk kebutuhan kontes. Karena itu, ia mengaku sudah terbiasa membiasakan kucing berada di lingkungan tertentu, termasuk ketika mengenakan kostum dan bertemu banyak orang.
Ia juga mengatakan tidak semua kucing yang dipeliharanya selalu dibawa ke Tunjungan. Dari sekitar 19 kucing yang dirawat di rumah, biasanya hanya enam hingga tujuh ekor yang dibawa secara bergantian.
"Setiap kucing itu beda-beda. Beda ras, beda tipe, beda kelamin, beda apapun. Beda semua," kata Bimo.
Dokter Hewan Soroti Kondisi dan Kesejahteraan Kucing
Di tengah perdebatan tersebut, dokter hewan ikut memberikan pandangan. Pemerhati satwa dari Divisi Klinik Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga, Dr Boedi Setiawan, MP., Drh, mengatakan kondisi kucing yang terlihat tidur perlu dilihat secara lebih menyeluruh sebelum dikaitkan dengan dugaan pemberian obat.
Menurut Boedi, kucing memang memiliki pola tidur yang cukup panjang. Dalam kondisi normal, kucing dapat tidur sekitar 12 hingga 16 jam dalam sehari. Namun, ia menegaskan kondisi yang terlihat dalam video tetap perlu diklarifikasi untuk mengetahui apakah kucing memang sedang tidur atau terdapat faktor lain.
"Kucing itu memang pola tidurnya lama, yang normal itu 12 sampai 16 jam kucing itu tidur," kata Boedi.
Ia juga menekankan aspek animal welfare atau kesejahteraan hewan. Menurutnya, pemilik perlu memastikan kebutuhan dasar hewan terpenuhi, termasuk terbebas dari rasa lapar, haus, penyakit, tekanan, dan rasa takut.
"Kalau kita memelihara itu kan diperhatikan aspek kesejahteraan hewannya ya, animal welfare-nya harus kita perhatikan. Apa yang dibutuhkan hewan itu harus tahu," ujarnya.
Boedi juga menyoroti alasan kucing dibawa ke ruang publik, terutama ketika aktivitas tersebut berkaitan dengan penggalangan dana. Ia mengingatkan agar kegiatan semacam itu tidak bergeser menjadi eksploitasi terhadap hewan.
Donasi Kucing dan Aturan di Jalan Tunjungan
Bimo membantah anggapan bahwa aktivitas membawa kucing ke Tunjungan semata-mata dilakukan untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Ia mengatakan donasi yang diterima digunakan kembali untuk kebutuhan kucing.
"Pokoknya uang ini tuh uangnya mereka. Kembalikan ke pakannya, bulanannya mereka, vitaminnya mereka, dokternya mereka," tuturnya.
Menurut Bimo, donasi tersebut merupakan bonus dari aktivitas yang juga ia anggap sebagai sarana edukasi. Ia mengatakan telah membuka aktivitas donasi tersebut sejak sekitar Mei tahun sebelumnya dan kerap menjelaskan kepada pengunjung mengenai makanan, perawatan, serta cara membangun kedekatan dengan hewan.
"Kalau donasi, kita sudah buka lapak itu sudah hampir setahun. Dari per Mei tahun lalu. Petama, aku memang tujuannya edukasi kak. Karena donasi gini loh. itu donasi hanya part bonus. menurutku ya karena tujuan pertamaku di edukasi karena kucingku bisa tenang," tutur Bimo.
Namun, persoalan lain muncul terkait penggunaan ruang publik. Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menegaskan bahwa kawasan pedestrian Tunjungan Romansa pada dasarnya diperuntukkan bagi pejalan kaki.
Aktivitas lain, termasuk kegiatan dengan kucing dan penggalangan donasi, harus mengikuti ketentuan serta mengantongi izin dari dinas terkait.
"Yang namanya di Jalan Tunjungan, saya sudah panggil Satpol PP, harus aman dan tidak boleh ada yang jualan atau apapun di pedestrian," kata Eri. "Kecuali dia mendapatkan izin. Contoh tiba-tiba kayak kucing wingi, yo nggak boleh!"
Eri juga meminta pengawasan di kawasan tersebut diperketat agar aktivitas di pedestrian tidak mengganggu kenyamanan pejalan kaki.
Dengan demikian, viralnya kucing berkostum di Tunjungan tidak hanya memunculkan pertanyaan soal dugaan obat tidur.
Perdebatan juga menyentuh kesejahteraan hewan, penggunaan ruang publik, serta mekanisme open donasi. Sementara Bimo telah memberikan bantahan, kondisi sebenarnya dari kucing-kucing tersebut tetap menjadi perhatian, terutama dari sisi kesehatan dan kesejahteraan hewan. (udn)