- Gambar ilustrasi AI / Gemini
Apa Itu Ekoteologi? Gerakan Santri Menanam 1.000 Pohon Ini Ternyata Punya Makna Lebih Dalam
Artinya, agama dapat menjadi pintu masuk pendidikan lingkungan karena pesan mengenai menjaga alam diterjemahkan ke dalam kebiasaan sehari-hari. Pendekatan ini juga membuka ruang bagi generasi muda untuk tidak hanya mengetahui persoalan lingkungan, tetapi ikut mengambil tindakan.
Ketika Santri Turun Langsung Merawat Lingkungan
Melansir dari laman Dispora Malang, konsep tersebut memiliki relevansi kuat dengan kehidupan pesantren. Pesantren bukan hanya tempat mempelajari ilmu agama, tetapi juga ruang pembentukan karakter, kedisiplinan dan kebiasaan hidup bersama.
Di Indonesia, gagasan pesantren sebagai bagian dari gerakan lingkungan bahkan mulai mendapatkan perhatian dalam kebijakan. Kementerian Agama telah menetapkan Keputusan Menteri Agama Nomor 442 Tahun 2025 tentang Pedoman Pesantren Ramah Lingkungan. Pedoman tersebut menjadi acuan bagi para pemangku kepentingan dalam menerapkan konsep pesantren ramah lingkungan.
Keterlibatan peserta didik dalam kegiatan ekologis juga telah dilakukan melalui berbagai program. Pada 2025, Kementerian Agama melibatkan 4.085 madrasah negeri dan 714 madrasah swasta penerima Adiwiyata dalam gerakan penanaman pohon.
Penelitian mengenai pesantren ath-Taariq di Jawa Barat juga menemukan praktik konservasi yang menggabungkan pendidikan ekologi dengan nilai sufistik. Para santri antara lain mempelajari ekologi, memproduksi bibit tanaman dan mengolah limbah menjadi pupuk organik. Upaya penghijauan dan konservasi alam dikaitkan dengan nilai seperti zuhud, rasa syukur, gotong royong dan tafakkur.
Model semacam ini membuat aksi lingkungan tidak berdiri sendiri. Menanam pohon, misalnya, dapat menjadi bagian dari proses pendidikan karakter sekaligus pembelajaran mengenai tanggung jawab manusia terhadap alam.
1.000 Pohon dan Makna “Sedekah Oksigen” di Malang
Semangat tersebut kemudian terlihat dalam rangkaian Perkemahan Pramuka Santri Nusantara (PPSN) VI Tahun 2026 di Pesantren An-Nur II Al-Murtadlo, Malang, Jawa Timur.
Sebanyak 1.000 pohon ditanam pada Sabtu (3/10/2026) dengan melibatkan santri dan peserta PPSN. Jenis pohon yang dipilih meliputi Pule, Mangga, Maja dan Tabebuya. Pemilihannya disesuaikan dengan kondisi tanah di kawasan pesantren agar tanaman dapat tumbuh dan memberikan manfaat dalam jangka panjang.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan persiapan penanaman dilakukan dengan mempertimbangkan jenis pohon, lokasi hingga teknis pelaksanaan.