- tim tvone - tim tvone
Gubernur Khofifah Pimpin Pembaretan 1334 Taruna-Taruni Jatim, Tekankan Displin dan Tanggungjawab sebagai Kader Bela Negara
Secara khusus, Gubernur Khofifah berpesan agar pendidikan ketarunaan di Jawa Timur senantiasa dibangun dalam ekosistem pendidikan yang humanis.
Ia menegaskan tidak boleh ada ruang bagi kekerasan, perundungan atau bullying, maupun praktik senioritas yang merendahkan martabat peserta didik.
Menurutnya, kedisiplinan tidak boleh diterjemahkan sebagai kekerasan. Demikian pula ketegasan harus selalu berjalan bersama keteladanan.
“Disiplin tidak identik dengan kekerasan. Ketegasan harus berjalan bersama keteladanan, dan kepemimpinan harus tumbuh bersama rasa hormat kepada sesama,” tegasnya.
Khofifah meminta nilai tersebut benar-benar dijaga, terutama ketika para taruna dan taruni kelak menjadi senior bagi adik kelasnya.
Ia berharap budaya ketarunaan yang dibangun di enam SMAN Taruna Jawa Timur menjadi budaya yang saling menguatkan, saling menjaga dan saling menghormati.
“Jangan pernah merasa bahwa menjadi senior memberikan hak untuk melakukan kekerasan kepada junior. Justru semakin senior, semakin besar tanggung jawab untuk memberikan teladan, melindungi dan membimbing,” pesannya.
Lebih lanjut, Khofifah mengatakan tantangan yang akan dihadapi generasi muda saat ini jauh berbeda dibandingkan generasi sebelumnya.
Perkembangan teknologi informasi dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) telah mengubah cara manusia belajar, bekerja, berkomunikasi bahkan mengambil keputusan.
Karena itu, pendidikan ketarunaan tidak cukup hanya menghasilkan generasi yang kuat secara fisik dan disiplin. Para taruna juga harus memiliki kemampuan berpikir kritis, adaptif, menguasai teknologi serta memiliki kompas moral yang kuat.
“Teknologi boleh berkembang semakin cepat, tetapi integritas tidak boleh tertinggal. Pengetahuan boleh semakin tinggi, tetapi karakter harus tetap menjadi fondasi,” tuturnya.
Menurut Khofifah, di tengah derasnya perubahan tersebut, nilai keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, nasionalisme, integritas, kepedulian serta kemampuan membedakan yang benar dan salah justru semakin penting.
Terlebih, para taruna dan taruni saat ini merupakan bagian dari generasi yang akan menerima tongkat estafet kepemimpinan ketika Indonesia memasuki usia satu abad pada 2045.
“Kalian adalah generasi yang kelak menerima tongkat estafet kepemimpinan bangsa. Karena itu, persiapkan diri bukan hanya untuk menjadi orang yang sukses, tetapi menjadi pemimpin yang memiliki integritas, kompetensi, kepedulian dan kecintaan kepada bangsa dan negara,” katanya.