news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Pembaretan 1334 Taruna-Taruni Jatim.
Sumber :
  • tim tvone - tim tvone

Gubernur Khofifah Pimpin Pembaretan 1334 Taruna-Taruni Jatim, Tekankan Displin dan Tanggungjawab sebagai Kader Bela Negara

1334 taruna dan taruni dari enam SMAN Taruna Jawa Timur resmi menyandang baret setelah menuntaskan masa basis ketarunaan selama kurang lebih tiga bulan.
Kamis, 8 Oktober 2026 - 15:43 WIB
Reporter:
Editor :

Pasuruan, tvOnenews.com – Sebanyak 1334 taruna dan taruni dari enam SMAN Taruna Jawa Timur resmi menyandang baret setelah menuntaskan masa basis ketarunaan selama kurang lebih tiga bulan.

Prosesi pembaretan dipimpin langsung Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa selaku Inspektur Upacara di Pusdik Brimob Watukosek, Pasuruan, Kamis (8/10).

Sebanyak 1334 peserta tersebut terdiri atas 201 taruna-taruni SMAN Taruna Nala Jawa Timur, 270 SMAN 3 Taruna Angkasa Jawa Timur, 245 SMAN 2 Taruna Bhayangkara Jawa Timur, 270 SMAN 5 Taruna Brawijaya Jawa Timur, 135 SMAN Taruna Madani Jawa Timur, dan 213 SMAN 2 Taruna Pamong Praja Jawa Timur.

Prosesi pembaretan ditandai dengan penyiraman air bunga, penyematan baret serta lencana bela negara oleh Gubernur Khofifah didampingi Direktur Jenderal Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan RI.

Di hadapan ribuan taruna-taruni dan wali taruna, Gubernur Khofifah menegaskan bahwa pembaretan bukan sekadar seremoni ataupun pergantian atribut. Baret yang dikenakan merupakan simbol keberhasilan melewati sebuah proses sekaligus awal dari tanggung jawab yang lebih besar.

“Pembaretan hari ini bukan sekadar seremoni. Baret yang kalian kenakan adalah simbol proses, perjuangan, disiplin sekaligus tanggung jawab. Mulai hari ini, kalian tidak hanya membawa nama diri dan sekolah, tetapi juga membawa nama Taruna-Taruni Jawa Timur sebagai kader bela negara untuk menjaga NKRI,” tegas Khofifah.

Menurutnya, masa basis selama kurang lebih tiga bulan telah memberikan pengalaman penting bagi para taruna dan taruni. Mereka dilatih menjalani kehidupan yang lebih teratur, disiplin dan mandiri, termasuk dengan pembatasan penggunaan gadget dan komunikasi dengan keluarga sebagai bagian dari proses pembentukan karakter.

Namun demikian, Khofifah mengingatkan bahwa keberhasilan masa basis tidak semata-mata diukur dari kemampuan menjalankan rutinitas ketarunaan.

Lebih penting dari itu adalah perubahan cara berpikir, cara bersikap, kemampuan mengendalikan diri, membangun solidaritas, serta tumbuhnya tanggung jawab terhadap diri sendiri maupun orang lain.

“Tiga bulan masa basis bukan hanya melatih fisik kalian. Proses ini harus mengubah cara berpikir dan cara bersikap. Kalian harus tumbuh menjadi pribadi yang disiplin, mandiri, tangguh, bertanggung jawab, religius serta memiliki jiwa kepemimpinan,” ujarnya.

Secara khusus, Gubernur Khofifah berpesan agar pendidikan ketarunaan di Jawa Timur senantiasa dibangun dalam ekosistem pendidikan yang humanis.

Ia menegaskan tidak boleh ada ruang bagi kekerasan, perundungan atau bullying, maupun praktik senioritas yang merendahkan martabat peserta didik.

Menurutnya, kedisiplinan tidak boleh diterjemahkan sebagai kekerasan. Demikian pula ketegasan harus selalu berjalan bersama keteladanan.

“Disiplin tidak identik dengan kekerasan. Ketegasan harus berjalan bersama keteladanan, dan kepemimpinan harus tumbuh bersama rasa hormat kepada sesama,” tegasnya.

Khofifah meminta nilai tersebut benar-benar dijaga, terutama ketika para taruna dan taruni kelak menjadi senior bagi adik kelasnya.

Ia berharap budaya ketarunaan yang dibangun di enam SMAN Taruna Jawa Timur menjadi budaya yang saling menguatkan, saling menjaga dan saling menghormati.

“Jangan pernah merasa bahwa menjadi senior memberikan hak untuk melakukan kekerasan kepada junior. Justru semakin senior, semakin besar tanggung jawab untuk memberikan teladan, melindungi dan membimbing,” pesannya.

Lebih lanjut, Khofifah mengatakan tantangan yang akan dihadapi generasi muda saat ini jauh berbeda dibandingkan generasi sebelumnya.

Perkembangan teknologi informasi dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) telah mengubah cara manusia belajar, bekerja, berkomunikasi bahkan mengambil keputusan.

Karena itu, pendidikan ketarunaan tidak cukup hanya menghasilkan generasi yang kuat secara fisik dan disiplin. Para taruna juga harus memiliki kemampuan berpikir kritis, adaptif, menguasai teknologi serta memiliki kompas moral yang kuat.

“Teknologi boleh berkembang semakin cepat, tetapi integritas tidak boleh tertinggal. Pengetahuan boleh semakin tinggi, tetapi karakter harus tetap menjadi fondasi,” tuturnya.

Menurut Khofifah, di tengah derasnya perubahan tersebut, nilai keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, nasionalisme, integritas, kepedulian serta kemampuan membedakan yang benar dan salah justru semakin penting.

Terlebih, para taruna dan taruni saat ini merupakan bagian dari generasi yang akan menerima tongkat estafet kepemimpinan ketika Indonesia memasuki usia satu abad pada 2045.

“Kalian adalah generasi yang kelak menerima tongkat estafet kepemimpinan bangsa. Karena itu, persiapkan diri bukan hanya untuk menjadi orang yang sukses, tetapi menjadi pemimpin yang memiliki integritas, kompetensi, kepedulian dan kecintaan kepada bangsa dan negara,” katanya.

Gubernur Khofifah menegaskan, enam SMAN Taruna Jawa Timur dikembangkan bukan semata-mata untuk menghasilkan peserta didik dengan prestasi akademik tinggi.

Lebih dari itu, sekolah taruna diharapkan menjadi ekosistem pembentukan calon pemimpin masa depan yang memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual, karakter, kedisiplinan, kepemimpinan, wawasan kebangsaan dan spiritualitas.

Karena itu, Khofifah menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang selama ini terbangun bersama TNI Angkatan Laut, TNI Angkatan Udara, Kodam V/Brawijaya, Polda Jawa Timur, Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), serta Pondok Pesantren Darullughah Wadda'wah Pasuruan.

Kolaborasi tersebut, menurutnya, merupakan kekuatan penting dalam membangun model pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik, tetapi juga pembentukan karakter, kepemimpinan, kedisiplinan, wawasan kebangsaan, bela negara dan spiritualitas.

“Jawa Timur ingin anak-anak kita tumbuh menjadi generasi unggul yang cerdas sekaligus berkarakter. Mereka harus mampu berdiri tegak menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri, nilai kebangsaan dan kompas moralnya,” ungkapnya.

Kepada para orang tua, Khofifah juga menyampaikan apresiasi atas kepercayaan dan keikhlasan mendampingi putra-putrinya menjalani proses pendidikan ketarunaan.

Menurutnya, pembaretan menjadi momentum emosional bagi keluarga setelah selama masa basis para taruna dan taruni ditempa untuk tumbuh lebih mandiri.

“Hari ini Bapak dan Ibu melihat putra-putrinya mengenakan baret. Tetapi yang jauh lebih penting adalah kelak kita melihat mereka tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, berintegritas, menghormati sesama, membanggakan keluarga serta siap mengabdi kepada bangsa dan negara. Itulah sesungguhnya makna pendidikan ketarunaan,” tuturnya.

Mengakhiri pesannya, Khofifah meminta para taruna dan taruni menjadikan baret yang dikenakan bukan sebagai simbol kebanggaan semata, tetapi sebagai pengingat atas tanggung jawab yang harus dijaga dalam kehidupan sehari-hari.

“Selamat atas pembaretan SMAN Taruna Jawa Timur Tahun 2026. Jaga kehormatan baret kalian dengan prestasi, integritas dan keteladanan. Jadilah kebanggaan orang tua, sekolah, Jawa Timur, bangsa dan negara. Teruslah melangkah dengan keyakinan dan persiapkan diri mengambil peran terbaik untuk menjemput Indonesia Emas 2045,” pungkasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Khofifah juga menyerahkan piagam penghargaan kepada 12 taruna dan taruni atas capaian selama masa basis. Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penampilan drum corps serta defile taruna-taruni dari enam SMAN Taruna Jawa Timur. (hen)

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

08:50
02:47
06:54
06:16
06:20
07:15

Viral