- tvOneNews
Kesaksian Ketua RT saat DBM Pelaku Mutilasi Istri Siri dan Anak di Madiun Sembunyi di Rumah Dukun Jombang, Sempat Ikut Yasinan
Jakarta, tvOnenews.com - Ketua RT 04 Dusun Cangkringan, Desa Mejoyolosari, Kecamatan Gudo, Jombang, Jawa Timur, Akhodi turut menyikapi kasus mutilasi istri siri, DH (30) dan anak, AGF (4) yang dilakukan oleh suami siri sendiri, Dwi Bagus Martono alias DBM (40) di Madiun.
Akhodi tidak menampik bahwa DBM sempat bersembunyi di sebuah gubuk area padepokan di Dusun Cangkringan, Desa Mejoyolosari, Kecamatan Gudo, Jombang, Jawa Timur, selama 12-15 hari setelah mutilasi istri siri dan anaknya.
Akhodi mengungkapkan gubuk tersebut milik seorang dukun bernama Bapak Munir. Ia pun menceritakan keseharian sosok DBM selama bersembunyi sebelum diringkus oleh pihak kepolisian.
Akhodi mulanya mengaku dirinya tidak mengetahui kedatangan DBM. Ia baru mendengar setelah pelaku pembunuhan istri siri dan anak tersebut menginap selama beberapa hari.
"Saya tidak tahu karena tidak laporan sama Pak RT maupun Pak RW. Saya baru mendengar diduga setelah 2-3 hari," ujar Akhodi saat dihubungi tvOne, Jumat (30/10/2026).
Bertemu DBM di Acara Pengajian
Lebih lanjut, Akhodi baru melihat sosok DBM saat berada di lokasi pengajian yang biasa digelar pada hari Jumat dan Sabtu. Di momen ini, Ketua RT 04 itu dan pelaku sempat saling bersalaman.
Selaras dengan pengakuan Kepala Dusun Cangkringan, DBM tidak hanya mengikuti pengajian berupa yasinan, namun juga kerap ikut menjalani aktivitas ibadah shalat berjamaah.
Namun, Akhodi tidak sempat bertanya-tanya mengenai identitas sosok pria yang baru hadir di wilayahnya. Kondisi ini mendorong dirinya bertanya-tanya dengan sosok Hadi, salah satu pengikut Munir.
"Saya bertemu Pak Hadi di ladang. Saya tanya, 'Pak, kok ada tamu baru ya?', dia jawab, 'iya dari Madiun, Pak'. Saya di situ masih belum ngerti dia berapa hari di sana dan tadinya enggak tahu dia asal Madiun," tuturnya.
Rumah Dukun Jadi Tempat Persembunyian
Akhodi mengabarkan bahwa, bangunan milik dukun tersebut tidak hanya menjadi tempat persembunyian bagi DBM. Untuk area padepokan, tempat itu kerap difungsikan sebagai wadah bagi para pendatang yang berasal dari Nganjuk, Malang, dan sebagainya.