- Tim tvOne
Kertas Harapan Anak Pengungsi Banjir Aceh Tamiang Siap Dikirim ke Presiden
Aceh Tamiang, tvOnenews.com – Di tengah sisa banjir yang masih menggenangi sejumlah wilayah Aceh Tamiang, tawa anak-anak sesekali terdengar dari sudut posko pengungsian. Di balik tawa itu, tersimpan kisah kehilangan, kerinduan, sekaligus harapan sederhana agar kehidupan mereka kembali pulih.
Minggu (18/1/2026), sejumlah relawan asal Kota Medan mendatangi Posko Sumur Cincin Kampung Durian dan Posko Kota Lintang Bawah, Kuala Simpang. Selain menyalurkan bantuan logistik, para relawan menggelar kegiatan trauma healing bagi anak-anak korban banjir melalui aktivitas bermain, bercerita, hingga menulis harapan di selembar kertas.
Melalui kertas sederhana itu, anak-anak diminta menuliskan impian mereka. Bukan permintaan mewah, melainkan harapan tentang rumah, sekolah, orang tua, dan kota yang kembali hidup seperti sediakala.
Salah satu anak pengungsi, Aulia Pertiwi, siswi kelas VII, menuliskan harapan agar keadaan segera kembali normal. Banjir tidak hanya merusak rumah dan sekolahnya, tetapi juga menghentikan aktivitas sang ibu yang biasa berdagang demi menghidupi keluarga.
“Ingin semuanya membaik, kota dan sekolah saya juga pulih seperti sebelumnya, supaya ibu bisa berdagang lagi,” ujar Aulia lirih.
Harapan lain datang dari Rafa. Dengan tulisan tangan polos, ia menyapa langsung Presiden. “Halo Pak Presiden, kami mau punya lapangan bola,” tulisnya.
Kalimat singkat itu mencerminkan kerinduan anak-anak untuk kembali bermain, berlari, dan tertawa bersama teman-temannya tanpa bayang-bayang bencana.
Salah seorang relawan, Andrey Saragih, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya pemulihan trauma agar anak-anak dapat menyalurkan perasaan dan harapan mereka. Menurutnya, banyak anak tidak hanya memikirkan diri sendiri, tetapi juga masa depan keluarga dan lingkungan sekitar.
“Ada yang berharap punya rumah lagi, ada yang ingin sekolahnya dibangun kembali, ada juga yang berharap orang tuanya bisa bekerja seperti dulu. Harapan mereka beragam, tapi semuanya tentang pemulihan,” kata Andrey Saragih.
Ratusan lembar surat harapan itu rencananya akan dikemas dan dikirim ke Istana Presiden di Jakarta sebagai simbol suara anak-anak korban banjir Aceh Tamiang. Para relawan berharap, surat-surat tersebut dapat dibaca dan menjadi pengingat bahwa di balik angka dan data bencana, ada anak-anak yang menanti masa depan mereka kembali utuh.
“Mudah-mudahan harapan kecil ini bisa sampai dan mencerahkan kehidupan mereka,” ujar Andrey.
Di tengah banjir yang memisahkan rumah, sekolah, dan ruang bermain, anak-anak Aceh Tamiang memilih menitipkan harapan. Lewat selembar kertas, mereka percaya suatu hari nanti kota mereka akan pulih, dan kehidupan kembali berjalan seperti sebelumnya.