- tim tvOne/Sri Wanasari
Tekanan Terhadap IHSG Mereda, Rupiah dan Harga Emas Berbalik Menguat
Medan, tvOnenews.com - Rilis data surplus perdagangan kemarin merealisasikan angka yang lebih rendah dibandingkan dengan realisasi sebelumnya. Demikian halnya dengan inflasi yang secara tahunan sebesar 3.55 persen, lebih rendah dari proyeksi dikisaran 3.7 persen. Data tersebut memang tidak merubah banyak kinerja pasar keuangan secara menyeluruh.
Karena pelaku pasar lebih merespon mundurnya sejumlah pejabat OJK, seraya menanti hasil pertemuan MSCI (Morgan Stanley Capital International) dengan SRO (Self-Regulatory Organization) Indonesia. Dimana setelah pasar ditutup, ada kabar positif dari hasil pertemuan tersebut, yang setidaknya bisa meredam tekanan pada pasar keuangan.
IHSG pada sesi pembukaan perdagangan hari ini melemah ke level 7.888. IHSG masih alami tekanan meskipun hasil pertemuan dengan MSCI dinilai memiliki progres yang baik untuk menyelesaikan sejumlah isu penting seperti free float, atau kepastian regulasi secara menyeluruh. Sejauh ini perlahan tekanan pada IHSG mereda dan sudah mulai mencoba kembali diperdagangkan di atas level 7.900.
Selanjutnya mata uang Rupiah ditransaksikan menguat ke level 16.765 per US Dolar pada sesi perdagangan pagi ini. Kinerja Rupiah membaik disaat imbal hasil US Treasury 10 tahun naik ke level 2.58 persen, dan USD Index alami tekanan sedikit ke level 97.46. Kinerja mata uang rupiah diproyeksikan akan bergerak stabil dalam kisaran 16.740 hingga 16.780 selama sesi perdagangan berlangsung.
Pelaku pasar masih terus mempertimbangkan sikap Presiden AS yang telah menunjukan pengganti Gubernur Bank Sentral AS Jerome Powell. Sikap pelaku pasar terbelah namun masih dengan ekspektasi bahwa kebijakan yang diambil Gubernur Bank Sentral AS yang baru nantinya akan lebih bernada hawkish dibandingkan dengan harapan Presiden AS.
“Pada perdagangan pagi ini harga emas kembali naik di kisaran level $4.800 per ons troy, atau sekitar 2.6 juta per gram. Harga emas menguat ditengah kekuatiran akan memburuknya tensi geopolitik di Timur Tengah. Secara fundamental harga emas masih punya kesempatan untuk lanjutkan penguatan, selama masih ada ketidakpastian yang berkecamuk di pasar," kata Ekomon Sumut, Gunawan Benjamin, Selasan (3/2/2026). (Tim tvOne/wna)