news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Pedagang membakar pucuk rotan pakat..
Sumber :
  • Ahmidal Yauzar

Pakat, Kuliner Pucuk Rotan Khas Mandailing Jadi Buruan Warga Medan Saat Ramadan

Selama bulan Ramadan, pedagang pakat mudah ditemui di pinggir jalan Kota Medan. Salah satunya di kawasan Jalan Sisingamangaraja. Sejak pukul 15.00 WIB, para pedagang mulai menjajakan pakat kepada masyarakat yang melintas.
Kamis, 5 Maret 2026 - 14:20 WIB
Reporter:
Editor :

Medan, tvOnenews.com - Kuliner menjadi bagian yang tak terpisahkan dari bulan Ramadan. Menjelang waktu berbuka puasa, masyarakat biasanya mencari beragam menu makanan yang dapat dinikmati bersama keluarga.

Di Kota Medan, Sumatra Utara, salah satu kuliner yang banyak diburu saat Ramadan adalah pucuk rotan atau pakat, makanan khas Mandailing Natal yang diyakini dapat menambah nafsu makan.

Selama bulan Ramadan, pedagang pakat mudah ditemui di pinggir jalan Kota Medan. Salah satunya di kawasan Jalan Sisingamangaraja. Sejak pukul 15.00 WIB, para pedagang mulai menjajakan pakat kepada masyarakat yang melintas.

Kepulan asap dari proses pembakaran pakat terlihat hingga ke jalan. Bara api yang menyala membuat pedagang harus bekerja di tengah panasnya api sambil menyiapkan pesanan pembeli.

Proses pengolahan pakat terbilang sederhana. Pedagang terlebih dahulu menyiapkan pucuk rotan yang telah dipotong sepanjang satu meter, lalu membakarnya hingga bagian luar menghitam. Setelah itu, bagian dalam pakat yang menyerupai umbi-umbian diambil untuk dikonsumsi.

Sekilas pakat tampak seperti batang bambu kecil. Namun sebenarnya, pakat merupakan pucuk rotan yang memiliki tekstur lembut saat dimakan.

Pedagang pakat, Putra Haris Nasution, menjelaskan bahwa pakat merupakan makanan tradisional khas Mandailing yang biasanya disajikan sebagai lalapan. Rasa pahitnya dipercaya dapat meningkatkan selera makan.

Ia mengatakan, pada awalnya pakat hanya dikonsumsi oleh masyarakat Mandailing. Namun seiring waktu, makanan ini semakin dikenal luas dan diminati masyarakat umum di Kota Medan.

“Pakat ini sebagai takjil. Kalau peminatnya sudah luas, bukan hanya orang Mandailing saja, tapi semua,” kata Putra Haris, Kamis (5/3/2026).

Menurutnya, bahan baku pakat didatangkan dari sejumlah daerah seperti Pekanbaru, Gunung Tua, dan Mandailing Natal. Pucuk rotan tersebut kemudian dikirim menggunakan bus menuju Kota Medan.

Untuk satu batang pakat dijual seharga Rp5 ribu. Namun jika membeli lima batang sekaligus, pedagang menjualnya dengan harga Rp20 ribu.

Haris Nasution mengaku telah puluhan tahun berjualan pakat. Ia dibantu oleh istri dan anaknya dalam menjalankan usaha tersebut. Selain pakat, ia juga menjual ikan asap atau ikan sale dengan berbagai jenis seperti ikan baung, gabus, dan lele.

Berita Terkait

1
2 Selanjutnya

Topik Terkait

Saksikan Juga

05:07
01:05
06:20
04:24
03:25
06:09

Viral