- Antara
Akademisi: Perubahan Iklim Tantangan Multidimensi Ketahanan Pangan
Medan, tvOnenews.com - Perubahan iklim menjadi tantangan multidimensi yang berdampak langsung terhadap ketahanan pangan, keberlanjutan ekosistem, serta penyediaan jasa lingkungan. Dampak tersebut turut memengaruhi produktivitas sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan, sekaligus meningkatkan kerentanan masyarakat terhadap krisis pangan dan bencana ekologis.
Hal itu disampaikan Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara, Arida Susilowati, pada Selasa (30/6/2026).
Menurut Arida, meningkatnya suhu global, perubahan pola curah hujan, cuaca ekstrem, kekeringan, banjir, kebakaran hutan dan lahan, serta degradasi ekosistem menjadi faktor yang memperbesar ancaman terhadap ketahanan pangan.
Ia menjelaskan, dalam konteks ketahanan pangan, perubahan iklim tidak hanya berdampak pada penurunan produktivitas komoditas pangan akibat terganggunya musim tanam dan meningkatnya serangan hama serta penyakit, tetapi juga mengancam stabilitas pasokan, distribusi, dan akses masyarakat terhadap pangan yang aman dan bergizi.
Karena itu, ketahanan pangan harus dipandang sebagai bagian dari ketahanan ekosistem, di mana keberlanjutan sumber daya alam menjadi fondasi utama sistem produksi pangan nasional.
Arida mengatakan, Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri 2026 yang baru-baru ini digelar menekankan bahwa ekosistem hutan memiliki peran sentral dalam menjaga stabilitas iklim dan mendukung ketahanan pangan melalui berbagai jasa lingkungan yang dihasilkannya.
Menurutnya, hutan berfungsi sebagai penyerap dan penyimpan karbon, pengatur siklus hidrologi, pelindung daerah aliran sungai, penjaga kesuburan tanah, pengendali erosi, habitat keanekaragaman hayati, serta penyedia hasil hutan bukan kayu yang menjadi sumber pangan, obat-obatan, dan mata pencaharian masyarakat.
Ia menambahkan, degradasi hutan dan alih fungsi lahan tidak hanya meningkatkan emisi gas rumah kaca, tetapi juga menurunkan kapasitas ekosistem dalam menyediakan jasa lingkungan yang sangat penting bagi keberlanjutan kehidupan.
Sarasehan tersebut juga menyoroti pentingnya penerapan Nature-based Solutions sebagai pendekatan yang mampu menjawab tantangan perubahan iklim secara simultan.
Pengelolaan hutan lestari, rehabilitasi lahan kritis, restorasi gambut dan mangrove, konservasi keanekaragaman hayati, serta pengembangan sistem agroforestri dinilai mampu meningkatkan penyerapan karbon, memperbaiki kualitas lingkungan, menjaga ketersediaan air, sekaligus meningkatkan produktivitas lahan dan kesejahteraan masyarakat.
Pendekatan tersebut menjadi bagian penting dalam mendukung pembangunan rendah karbon serta memperkuat ketahanan sosial-ekologis di tingkat lokal maupun nasional.
Dari perspektif akademisi, Arida menilai perubahan iklim juga harus dipandang sebagai peluang untuk mentransformasi arah penelitian, pendidikan, dan pengabdian kepada masyarakat.
Ia mengatakan, perguruan tinggi perlu memperkuat riset transdisipliner yang mengintegrasikan kehutanan, pertanian, lingkungan, ekonomi, teknologi, dan kebijakan publik guna menghasilkan solusi yang aplikatif.
Menurutnya, penelitian tidak hanya diarahkan pada publikasi ilmiah, tetapi juga pada inovasi yang dapat diadopsi pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat, seperti model agroforestri adaptif, rehabilitasi lanskap berbasis masyarakat, sistem peringatan dini kebakaran hutan, teknologi pemantauan karbon, serta pengembangan bioekonomi berbasis hasil hutan bukan kayu.
Arida menambahkan, perguruan tinggi juga perlu berperan sebagai penyedia bukti ilmiah (science-based policy) dalam mendukung penyusunan kebijakan nasional mengenai ketahanan pangan, pengelolaan hutan, dan adaptasi terhadap perubahan iklim.