- Gambar ilustrasi AI
Toleransi Saja Tak Cukup, Mengapa Partisipasi Pemuda Penting untuk Merawat Keberagaman di Daerah?
tvOnenews.com - Keberagaman tidak selalu menjadi persoalan ketika masyarakat mampu hidup berdampingan. Tantangan yang lebih besar justru muncul ketika perbedaan belum diikuti kesempatan untuk bekerja sama, menyampaikan aspirasi, dan terlibat dalam kehidupan sosial.
Karena itu, menjaga kerukunan tidak cukup hanya dengan menghindari konflik. Masyarakat juga membutuhkan ruang untuk membangun hubungan yang setara melalui kegiatan bersama.
Di Indonesia, upaya tersebut masih relevan untuk terus diperkuat. Kementerian Agama mencatat Indeks Kerukunan Umat Beragama (IKUB) 2025 mencapai 77,89, menjadi angka tertinggi sejak pengukuran dimulai pada 2015.
Meski menunjukkan perkembangan positif, capaian ini tetap perlu dibaca bersama indikator pembentuknya. Dimensi toleransi tercatat 88,82, kesetaraan 79,35, sedangkan kebersamaan berada di angka 65,49.
Data tersebut menunjukkan bahwa sikap menerima perbedaan perlu berjalan beriringan dengan upaya memperluas interaksi dan kolaborasi antarkelompok.
Di tengah situasi tersebut, generasi muda memiliki posisi strategis. Mereka tidak hanya menjadi kelompok yang akan mewarisi kondisi sosial pada masa depan, tetapi juga dapat mengambil bagian dalam membentuknya sejak sekarang.
Melalui pendidikan, kegiatan komunitas, kerja sukarela, hingga program pemberdayaan masyarakat, anak muda dapat membangun hubungan lintas latar belakang sekaligus merespons persoalan di lingkungan sekitarnya.
Kerukunan Membutuhkan Kerja Bersama, Bukan Sekadar Sikap Toleran
Toleransi merupakan fondasi penting dalam masyarakat majemuk. Namun, kehidupan yang rukun membutuhkan lebih dari kesediaan untuk menghormati keyakinan atau pandangan orang lain. Hubungan sosial juga perlu dibangun melalui pengalaman bekerja sama, berdialog, dan menyelesaikan persoalan yang menjadi kepentingan bersama.
Angka kebersamaan dalam IKUB 2025 yang lebih rendah dibandingkan dimensi toleransi dan kesetaraan dapat menjadi salah satu bahan refleksi. Perbedaan skor tersebut tidak serta-merta menjelaskan penyebabnya, tetapi memperlihatkan bahwa aspek kebersamaan layak mendapat perhatian lebih dalam upaya memperkuat kerukunan.
Dalam praktik sehari-hari, kerja bersama bisa diwujudkan melalui kegiatan yang dekat dengan kebutuhan warga. Misalnya, program pendidikan bagi anak-anak, penanganan persoalan lingkungan, pendampingan usaha kecil, kegiatan kebencanaan, atau pelayanan sosial.
Ketika warga dari latar belakang berbeda terlibat dalam tujuan yang sama, hubungan sosial dapat tumbuh melalui interaksi yang nyata.
Pendekatan ini juga membantu menghindari pemahaman bahwa keberagaman hanya berkaitan dengan identitas agama, suku, atau kelompok tertentu. Keberagaman menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang perlu dikelola melalui kesempatan berpartisipasi secara adil.
Mengapa Generasi Muda Perlu Dilibatkan?
Generasi muda mempunyai energi, gagasan, dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Namun, potensi tersebut tidak otomatis menghasilkan dampak sosial apabila tidak tersedia ruang untuk belajar, berorganisasi, dan terlibat dalam pengambilan keputusan.
Publikasi Statistik Pemuda Indonesia 2025 dari Badan Pusat Statistik dapat menjadi salah satu rujukan untuk memahami posisi pemuda dalam pembangunan nasional. Data kepemudaan penting bukan hanya untuk menggambarkan kondisi demografis, tetapi juga sebagai dasar melihat kebutuhan pendidikan, pemberdayaan, kesempatan kerja, serta dukungan bagi pengembangan kapasitas generasi muda.
Dalam konteks kehidupan bermasyarakat, organisasi kepemudaan dapat menjadi salah satu jalur partisipasi. Melalui organisasi, anak muda berkesempatan menyusun kegiatan, mengelola perbedaan pendapat, membangun jaringan, dan belajar bertanggung jawab terhadap keputusan bersama.
Meski demikian, keberadaan organisasi tidak dengan sendirinya menjamin terciptanya kerukunan. Dampaknya bergantung pada cara organisasi bekerja, keterbukaannya terhadap kolaborasi, serta relevansi kegiatannya dengan kebutuhan masyarakat.
Organisasi yang hanya berputar pada agenda internal akan memiliki jangkauan berbeda dibandingkan organisasi yang aktif membangun kerja sama dengan warga dan kelompok lain.
Karena itu, ukuran keberhasilan partisipasi pemuda semestinya tidak berhenti pada jumlah anggota atau kegiatan seremonial. Hal yang juga perlu diperhatikan ialah siapa yang mendapat manfaat, persoalan apa yang berhasil ditangani, dan apakah kegiatan tersebut membuka ruang keterlibatan yang lebih luas.
Tantangan Mengubah Organisasi Menjadi Kontribusi Nyata
Partisipasi pemuda menghadapi sejumlah tantangan. Keterbatasan sumber daya, kesinambungan kepengurusan, perbedaan pandangan, serta minimnya kesempatan bekerja sama dapat memengaruhi keberlanjutan program.
Organisasi juga perlu memastikan bahwa kegiatan sosial tidak hanya berlangsung ketika ada momentum tertentu. Kolaborasi lintas komunitas dapat menjadi salah satu cara untuk memperluas dampak. Organisasi pemuda dapat bekerja bersama sekolah, perguruan tinggi, komunitas lingkungan, kelompok usaha, lembaga sosial, maupun pemerintah daerah sesuai kebutuhan.
Dengan begitu, kegiatan tidak hanya berpusat pada identitas kelompok, tetapi juga menjawab persoalan yang dirasakan masyarakat.
Prinsip tersebut relevan di berbagai wilayah Indonesia, termasuk daerah dengan karakter sosial dan keagamaan yang khas. Kehadiran organisasi dari kelompok tertentu perlu dipahami dalam kerangka partisipasi warga, dengan tetap menghormati hukum, budaya setempat, serta hak dan tanggung jawab seluruh masyarakat.
Salah satu perkembangan terkait hal itu terjadi di Aceh. Dewan Pimpinan Daerah Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (DPD GAMKI) Aceh resmi dibentuk melalui konferensi daerah pertama yang berlangsung di Lima Cafe dan Resto, Banda Aceh. Kegiatan tersebut dihadiri perwakilan DPC Aceh Tenggara, Banda Aceh, dan Aceh Besar, serta perwakilan DPP.
“Aceh ini tidak seperti bayangan kita di luar. Bahwa organisasi non-Muslim akan sulit berdiri di provinsi ini. Kami sudah membuktikan pemuda Kristen juga punya ruang yang sama untuk membangun Aceh,” kata Andar Saragih, Sekretaris Bidang Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Fungsi organisasi sebagai ruang bagi pemuda lintas gereja untuk memperluas kontribusi di luar lingkungan internal mereka.
“Organisasi ini merupakan wadah bagi para pemuda lintas gereja. Dari organisasi ini, kami pemuda kristen bisa bergerak untuk memberikan dampak bagi daerah. Pada akhirnya, pelayanan para pemuda ini bisa lebih luas lagi. Tidak hanya di dalam tembok gereja,” tegasnya.
Dalam konferensi tersebut, Evin Davinci terpilih sebagai Ketua DPD GAMKI Aceh. Ia menyebut pembentukan kepengurusan sebagai langkah awal yang masih membutuhkan konsolidasi dan kerja bersama. “Ini awal. Perjalanan kita masih panjang dan berat. Kita harus tetap solid,” ucapnya.
Kehadiran organisasi tersebut bukan untuk menunjukkan keunggulan kelompok, melainkan menyediakan ruang berkarya bagi pemuda gereja.
“Kami hadir di Aceh bukan menunjukkan kehebatan kami. Tetapi, kami ingin memberikan wadah dan ruang yang luas bagi para pemuda gereja untuk berkarya lebih lagi. Melaksanakan pelayanan tidak hanya di dalam gereja saja. Tapi di luar,” tegasnya.
Setelah pembentukan DPD, agenda berikutnya mencakup pelantikan serta konsolidasi internal dan eksternal. Jeremia Marbun terpilih sebagai Ketua DPC GAMKI Banda Aceh, sedangkan Gilbert Pakpahan terpilih memimpin DPC GAMKI Aceh Besar. Evin juga menyampaikan apresiasi kepada Sahat Martin Philip Sinurat dan Alan Christian Singkali atas dukungan selama masa kepemimpinan mereka di tingkat pusat.
Pembentukan kepengurusan tersebut menjadi awal bagi organisasi untuk menentukan bentuk kontribusinya di Aceh. Dampaknya kelak tidak hanya ditentukan oleh keberadaan struktur, tetapi juga oleh program yang dijalankan, hubungan yang dibangun dengan masyarakat, serta manfaat yang dapat dirasakan bersama.
Pada akhirnya, keberagaman tidak cukup dirawat melalui pernyataan saling menghormati. Diperlukan kesempatan yang setara untuk berpartisipasi, kemauan bekerja sama, dan kegiatan yang menjawab kebutuhan warga. Di titik inilah keterlibatan pemuda dapat menjadi bagian penting dari upaya membangun kehidupan sosial yang lebih inklusif. (udn)