- Tim tvOne - Sri Cahyani Putri
Ancaman Banjir dan Tanah Longsor, BPBD DIY Perpanjang Status Siaga Darurat Bencana hingga Awal Maret 2026
Yogyakarta, tvOnenews.com - BPBD DI Yogyakarta resmi memperpanjang status siaga darurat bencana hingga awal Maret 2026.
Perpanjangan status tersebut dilakukan menyusul curah hujan yang masih tinggi dan berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi.
Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), curah hujan di DIY pada Dasarian II masuk dalam kategori menengah hingga tinggi. Puncaknya, terjadi pada Januari-Februari 2026.
"Status siaga darurat bencana hidrometeorologi diperpanjang sampai nanti awal Maret 2026. Ini sebagai langkah antisipatif kita bagaimana menghadapi potensi bencana hidrometeorologi," kata Agustinus Ruruh Haryata, Kepala Pelaksana BPBD DIY, Senin (12/1/2026).
Tentunya, BPBD DIY selalu berkomunikasi dengan kabupaten/kota terkait kesiapsiagaannya dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi di daerah ini. Pasalnya, banjir dan tanah longsor berpotensi mengintai DIY, khususnya Kabupaten Gunungkidul, Kulon Progo dan Bantul.
Cuaca ekstrem yang melanda Gunungkidul di awal 2026 telah mengakibatkan puting beliung dan tanah ambles di wilayah Panggang. Peristiwa tanah ambles juga terjadi di Imogiri, Bantul. Sementara, tanah longsor melanda Kulon Progo.
"Kami melalui Pusdalops selalu meminta masyarakat segera melapor bila terjadi bencana hidrometeorologi di wilayahnya masing-masing. Kami pun memerintahkan kepada TRC untuk membackup teman-teman di kabupaten/kota," tutur Ruruh.
Oleh karena itu, BPBD DIY mengajak masyarakat baik mandiri maupun komunal agar lebih peduli terhadap lingkungan di sekitarnya. Semisal ada pohon yang tinggi dan rawan roboh segera dilakukan pruning. Sebab, beberapa kali kejadian pohon tumbang justru yang merenggut korban jiwa.
Kemudian, pembersihan saluran drainase. Pun, daerah yang memiliki tekstur dataran tinggi maupun rendah dan sudah mulai timbul rekahan bisa dilaporkan.
Ruruh juga mengatakan, bencana di Aceh dan Sumatera bisa menjadi pembelajaran untuk menjaga vegetasi alam agar tetap mampu menahan air dan longsoran.
Selanjutnya, normalisasi sungai. Setelah itu, pembuatan sumur resapan dan bila diperlukan membuat kolam retensi yang dapat menampung air dengan volume besar.
"Jadi, semua air hujan yang meresap ke dalam tanah kemudian terhalang oleh bangunan, bisa disalurkan ke kolam retensi sehingga tidak menimbulkan permasalahan bagi lingkungan di sekitarnya," ucap Ruruh.