- Tim tvOne - Tim tvOne
Pencurian Data Elektronik dan Serangan Siber Terjadi Setiap Hari, Begini Penjelasan Kepala BSSN
Yogyakarta - Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Letjen TNI (Purn) Nugroho Sulistyo Budi mengungkapkan, saat ini tantangan dunia siber jauh lebih kompleks dan membutuhkan perhatian serius.
Ia menyebutkan ruang siber saat ini banyak mendapat serangan dalam berbagai bentuk, seperti pencurian, manipulasi, penghancuran hingga pengambilalihan data diberbagai sistem elektronik.
" Saya selalu mengingatkan kepada jajaran saya di BSSN, bahwa kita saat ini bagian dari mereka yang sedang berperang, karena ruang siber saat ini banyak menghadapi serangan." kata Nugroho, saat melepas pesertas Napak Tilas Persandian di Rumah Sandi Dukuh, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), pada Selasa (31/3/2026).
"Pencurian dan pengambilalihan data elektronik selalu terjadi setiap hari, baik itu yang dilakukan oleh perorangan, kelompok, entitas usaha, bahkan dalam konteks geopolitik global kepentingan antar negara" lanjutnya.
Nugroho menegaskan pihaknya terus memonitor, mengamankan dan menjaga dengan menjalin kerjasama dengan berbagai pihak yang ada di Indonesia.
Ia menyebutkan situasinya makin kompleks karena sistem elektronik yang ada tersebar diseluruh entitas yang ada. Menurutnya BSSN telah menetapkan norma, standar, prosedur dan kriteria yang harus dipatuhi demi keamanan.
"Sekarang ini orang perorang sudah memiliki sistem elektronik, kalau kita tidak menerapkan perilaku aman, tidak menerapkan norma standar keamanan, tentu pencurian dan manipulasi data akan terjadi," jelasnya.
Sementara itu terkait wacana dibuatkan matra khusus dibidang siber, diluar tiga matra dalam institusi militer yang telah ada, Kepala BSSN menyebutkan bahwa dalam perkembangan saat ini BSSN berharap setiap Kementerian dan Lembaga, termasuk dunia usaha memiliki tim tanggap insiden siber yang mampu mengidentifikasi titik rawan di sistem elektroniknya masing-masing.
"Kemudian dapat melakukan proteksi atau perlindungan pada sistem elektroniknya agar tidak mudah diretas. Kemudian dapat mengambi tindakan saat terjadi insiden, serta melakukan pemulihan agar sistemnya kembali normal." imbaunya.
BSSN menurutnya mengambil peran sebagai tim tanggap insiden siber nasional, kemudian ada tim tanggal di sektor pemerintahan, begitupun di sektor pertahanan dimana institusi militer dan kepolisian memiliki tim siber masing-masing sesuai dengan bidang tugasnya.
"Sekarang persoalan keamanan siber merupakan ekosistem yang besar, sehingga harus dikolaborasikan dan disinergikan. BSSN disini membantu melaksanakan monitoring dan melakukan peringatan dini" pungkas Nugroho.
Nugroho berada di Yogyakarta dalam rangkaian kegiatan Napak Tilas Persandian yang melibatkan ratusan peserta yang menelusuri rute yang dahulu digunakan para kurir untuk mendistribusikan pesan rahasia pada masa perjuangan kemerdekaan di wilayah Kulon Progo, DIY.
Dalam Napak Tilas tersebut para peserta melintasi rute perbukitan dan lahan pertanian yang menggambarkan tantangan dalam menjaga keamanan informasi pada masa perang kemerdekaan, sebelum hadirnya teknologi komunikasi modern.
Selain menyusuri rute sejarah persandian, para peserta juga melihat berbagai koleksi benda bersejarah, seperti alat penulisan sandi, media penyimpanan pesan rahasia, hingga dokumentasi sistem persandian masa lalu.
Kegiatan napak tilas persandian dengan tema "Jejak Sandi, Pilar Siber Mengabdi untuk Negeri" merupakan bagian dari rangkaian peringatan hari ulang tahun ke-80 Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN). (buz)