news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Tim peneliti UGM melakukan pemetaan di rumah Agus Yani yang menjadi lokasi munculnya api misterius menggunakan alat georadar..
Sumber :
  • Tim tvOne - Sri Cahyani Putri

Peneliti UGM Temukan Rekahan Sedalam 20 Meter di Bawah Rumah, Diduga Jadi Saluran Migrasi Gas Pemicu Api Misterius di Sleman

Tim peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta menemukan adanya rekahan bawah permukaan sedalam kurang lebih 20 meter di bawah rumah milik Agus Yani. 
Kamis, 11 Juni 2026 - 20:26 WIB
Reporter:
Editor :

Sleman, tvOnenews.com - Tim peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta menemukan adanya rekahan bawah permukaan sedalam kurang lebih 20 meter di bawah rumah milik Agus Yani. 

Untuk diketahui, Agus merupakan warga Dusun Kasuran, Kalurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta yang sejak akhir Mei lalu mengalami fenomena keluarnya ratusan api secara misterius. 

Rekahan tersebut diduga menjadi jalur migrasi gas dari lapisan bawah tanah menuju permukaan yang kemudian memicu kemunculan api. 

Temuan itu diperoleh setelah tim melakukan pemetaan menggunakan alat georadar atau geoscanner di lokasi kejadian. 

Peneliti Laboratorium Geofisika Eksplorasi, Departemen Teknologi UGM, Saptono Budi Samudro mengatakan bahwa fungsi alat tersebut digunakan untuk mendeteksi kemungkinan lokasi jalan keluar gas menuju permukaan. 

"Georadar ini untuk melihat apa yang ada di bawah permukaan baik objek terpendam, lapisan-lapisan tanah maupun kalau ada retakan-retakan akan bisa dideteksi dengan alat ini," katanya saat dikonfirmasi, Kamis (11/6/2026). 

Lebih lanjut, hasil pemetaan dari georadar sekaligus menjawab keresahan masyarakat dengan fenomena kemunculan api yang kini masih misteri ini.

Apalagi, secara proses dinamika bumi, wilayah ini berada di zona aktif tektonik sehingga bisa saja terdapat retakan pada lapisan bumi. 

Meski demikian, peneliti masih perlu mendalami karakteristik retakan yang ditemukan, termasuk luas penyebaran dan kerapatannya.

Hasil sementara yang didapat oleh peneliti, ditemukan beberapa titik retakan di bawah tanah pada kedalaman hingga 20 meter yang diduga sebagai jalan keluarnya gas.

Akan tetapi, temuan tersebut perlu diolah lebih lanjut antara adanya retakan dengan senyawa pemicu api. 

"Kita masih melihat sekilas, belum diolah lebih lanjut. Memang ada beberapa keterkaitan antara titik api dengan terlihat retakan di bawah sampai ke kedalaman sekitar 15-20 meter. Ini masih belum kita olah terkait kerapatan antara retakan dan kemunculan titik api yang selama ini muncul," ucap Saptono. 

Lebih lanjut, tim juga menyebutkan perlu tindak lanjut penelitian dengan menggunakan alat geolistrik, seperti yang dilakukan oleh UPN Veteran Yogyakarta beberapa hari lalu. 

Pada awal Juni ini, tim geofisika UPN Veteran Yogyakarta memasang alat geolistrik di sekitar rumah Agus Yani untuk melihat lapisan tanah yang menjadi tempat akumulasi gas.

Cara kerjanya, alat tersebut hanya menginjeksikan arus listrik ke dalam tanah untuk membaca resistivitas bantuannya. 

Berdasarkan simpulan sementara dari hasil pengamatan dan kajian di lapangan sebelumnya, tim peneliti UGM mempercayai kemunculan api dipicu oleh gas hidrogen.

Mereka berasumsi gas itu terbentuk dari proses fermentasi limbah pemotongan ayam yang menjadi usaha Agus Yani. 

"Kami mempercayai bahwa api itu berasal dari gas hidrogen. Asumsi kami yang memungkinkan jadi sumber gas hidrogen dari limbah organik. Kebetulan disana (rumah Agus Yani) itu, jadi satu antara kotoran air yang bercampur darah dan bulu-bulu ayam. Itu mengindikasikan bahwa ada kemungkinan gas hidrogen sekaligus gas fosfin," terang Sarju Winardi, dosen Departemen Teknik Geologi dan Lingkungan UGM ditemui di Kantor Kapanewon Seyegan, Kamis (4/6/2026). 

Menurutnya, limbah organik dari aktivitas pemotongan ayam yang menumpuk dalam kurun waktu belasan tahun memicu proses fermentasi alami. 

Secara ilmiah, fenomena serupa yang sering dijumpai di daerah bekas pembuangan sampah yang mana banyak material organisme hewan mati, tulang belulang termasuk daerah pemakaman. 

"Daerah-daerah di mana ada banyak kuburan itu sering kita ketemu ada gas hidrogen yang melayang-layang. Kejadian bahwa gas hidrogen terpicu terbakar oleh gas fosfin di dunia scientific sudah ada," kata Sarju.

Untuk menekan gas hidrogen bermunculan, UGM merekomendasikan bagaimana caranya menekan pertumbuhan bakteri dengan memasukkan cairan yang sifatnya basa berupa air kapur.

Hal ini bertujuan untuk menekan aktivitas bakteri yang cukup intens sehingga menghasilkan gas ke sumber munculnya api. 

Sarju menyebut, sedikitnya ada empat titik di dekat sumber keluarnya api. Dari jumlah tersebut, tiga titik di antaranya berada di luar rumah dekat tangga ke lantai dua, dapur luar dekat sumur dan dekat pohon pisang. Dimungkinkan, jumlahnya bertambah bila ada retakan-retakan di tempat lain. (scp) 

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

01:39
05:01
09:20
06:52
03:24
01:04

Viral