- Tim tvOne - Sri Cahyani Putri
Pakar Pastikan Tak Ada Hubungan Gas Alam dengan Kemunculan Api Berulang di Seyegan Sleman, Apakah Direkayasa?
Sleman, tvOnenews.com - Misteri kemunculan api di wilayah Seyegan, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta yang sempat menyita perhatian publik akhirnya mendapat penjelasan dari tim peneliti.
Hasil kajian final yang dilakukan oleh para pakar menyimpulkan bahwa fenomena tersebut tidak memiliki keterkaitan dengan keberadaan gas alam di lokasi kejadian.
Kesimpulan tersebut diperoleh setelah tim peneliti melakukan serangkaian pengujian lapangan dan analisis laboratorium terhadap sampel gas hingga residu pembakaran yang ditemukan di area kemunculan api.
"Hasilnya, tidak ditemukan bukti kuat bahwa api muncul secara alami. Untuk penelitian terkait dengan fenomena (api) Seyegan ini sudah selesai hari ini," kata Bambang Kuntoro, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sleman, Senin (15/6/2026).
Penelitian sebelumnya dilakukan oleh sejumlah unsur dari pemerintahan dan akademisi mulai dari BRIN, BPPTKG, Gegana Polda DIY, UGM dan UPN Veteran Yogyakarta.
Berdasarkan hasil pengamatan geologi lapangan dan kajian geofisika yang dilakukan oleh UPN Veteran Yogyakarta, tidak menemukan hubungan antara peristiwa kebakaran berulang dengan kondisi geologi sekitar dan keterdapatan gelembung gas di Sungai Nepen.
Selanjutnya, menurut hasil uji dari BPPTKG, belum ditemukan adanya indikasi gas dari alam yang membahayakan pengukuran suhu serta belum ditemukan anomali suhu yang signifikan yang menunjukkan pemicu timbulnya api.
Kemudian, dari hasil uji sampel dari residu bekas kebakaran yang ada di lokasi kejadian oleh UGM, setelah dianalisis berasosiasi dengan adanya resin Polyvinyl Chloride (PVC) yang mudah terbakar jika bertemu dengan sumber api.
Penelitian-penelitian tersebut dilakukan dengan mengerahkan beragam alat mulai dari geomagnetic, geothermal, geolistrik hingga drone.
Bambang menegaskan bahwa keberadaan macam-macam gas yang ditemukan oleh para peneliti di lokasi tidak bisa memantik kemunculan api.
"Kandungan gas baik metana, hidrogen, fosfin maupun gas rawa (yang terdapat di lokasi) itu tidak bisa (memicu kemunculan api) atau di bawah ambang batas untuk bisa menimbulkan api," tegasnya.
Begitu pula, hasil observasi di lapangan yang dilakukan oleh BPBD Sleman, Polresta Sleman, Satpol PP Sleman, Polsek Seyegan dan Koramil Seyegan, didapatkan bahwa tidak pernah melihat secara langsung bagaimana awal mula api muncul secara alami.
Untuk diketahui, kemunculan api berulang di rumah Agus Yani terjadi pada 23 Mei 2026 lalu. Selama 22 hari sejak awal kemunculan api, tercatat ada 126 kali kejadian. Dalam dua hari terakhir ini, belum ada lagi kejadian tersebut.
"Terakhir adalah Sabtu malam ya, tidak ada sama sekali. Malam Jumat kan ada yasinan disana, kemudian habis itu malam Sabtunya sekali, itu yang terakhir," ungkap Bambang.
Dengan hasil final ini, pihaknya menyerahkan kepada aparat kepolisian untuk menyelidiki peristiwa ini. Ditanya, apakah ada faktor kesengajaan atau rekayasa, Bambang enggan berkomentar.
"(mengenai) apa toh penyebabnya, nanti itu dari pihak kepolisian yang akan membuktikan. Tugasnya satreskrim dengan timnya yang akan mencari penyebab munculnya api," ucapnya.
Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa pemasangan kamera CCTV di lokasi kejadian digunakan sebagai alat untuk mengetahui secara visual bagaimana awal mula munculnya api yang diharapkan bisa sebagai bahan tambahan untuk penelitian lanjutan.
Di lokasi yang sama, Kasatreskrim Polresta Sleman, AKP Mateus Wiwit Kustiyadi mengatakan, kepolisian tengah mengumpulkan fakta-fakta di lapangan ditambah dukungan data dari para peneliti tersebut.
"Hari ini, kita masih mencari atau mengumpulkan fakta yang ada di lapangan. Tentunya, ada data dukung yang disampaikan Pak Bambang (Kepala BPBD Sleman) tadi untuk membantu kami mengumpulkan fakta apa yang sebenarnya terjadi," ucap Wiwit.
Terkait CCTV, Wiwit menjelaskan bahwa pemasangan kamera pengintai di lokasi kejadian bertujuan untuk mencari atau mengetahui sumber api yang sebenarnya.
Sebab, petugas tidak mungkin berjaga di lokasi selama 24 jam. Pun, untuk tujuan pengamanan aset si pemilik rumah.
"Makanya kita pasang CCTV. Dari rekaman CCTV, kami akan melakukan penelitian juga nanti apakah ada hal-hal yang keluar fenomena itu. Kami akan kumpulkan sehingga fakta akan terungkap setelah ini," kata Wiwit. (scp/buz)