- tim tvOne - Sri Cahyani Putri
Haedar Nashir Kritik Fenomena Kampus yang Hanya Kejar Mahasiswa: Jangan Seperti Bus Kota Kejar Omprengan!
Bantul, tvOnenews.com - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir mengkritik fenomena perguruan tinggi yang terkesan terjebak pada persaingan mengejar jumlah mahasiswa baru.
Menurutnya, kampus harus tetap menjaga marwah institusi pendidikan yang mengedepankan kualitas.
Hal tersebut disampaikan Haedar saat meresmikan Gedung Muhammadiyah Sapen Universal School (MSUS) di Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, Sabtu (4/7/2026).
Melihat fenomena ini, Haedar lantas mengibaratkan perguruan tinggi yang berlomba-lomba mencari mahasiswa seperti bus kota sedang mengejar penumpang omprengan.
"Kalau kemudian, (perguruan tinggi) semata-mata ngejar mahasiswa, kayak bus kota ngejar omprengan, itu hati-hati," katanya.
Lebih lanjut, Haedar berpandangan bahwa nantinya, akan terjadi kesenjangan bila ratusan mahasiswa menumpuk di sebuah universitas, tetapi kemampuan pendidikan dalam menyelenggarakan pembelajaran tidak bagus.
"Misalkan universitas itu berbasis pada bisnis, itu kalau negeri hati-hati juga. Karena apa? Tujuan utamanya kan mencerdaskan kehidupan bangsa tanpa pilih kasih, tanpa pandang bulu, harus untuk semua," ucap Haedar.
Oleh sebab itu, arah pendidikan Indonesia perlu diperbarui. Dalam hal ini, pemerintah tidak bisa sendiri dalam menyelenggarakan pendidikan sehingga diperlukan organisasi massa (ormas).
Muhammadiyah sebagai gerakan Islam berkemajuan memiliki tanggung jawab kebangsaan, salah satunya mencerdaskan kehidupan bangsa. Komitmen tersebut bisa dilihat dalam pembangunan MSUS, TK Abad Semesta, UMY, UAD, UNISA, Universitas Siber, bahkan rumah sakit di kawasan Tertinggal, Terdepan dan Terluar (3T).
Dalam menyelenggarakan pendidikan, Haedar pun mengingatkan bukan hanya urusan jabatan, kekuasaan, maupun uang, melainkan tanggung jawab kemanusiaan dalam mendidik anak manusia supaya tumbuh menjadi manusia yang utuh. Mulai dari Iman takwanya, rohaninya, kecerdasan ilmunya, keahliannya, juga sikap sosialnya.
Sikap sosial menurutnya penting juga dipertahankan karena Indonesia adalah masyarakat yang tetap berpijak pada kultur gotong royong dan kultur homo sapiens.
"Boleh jadi, negara-negara lain atau ada kelompok masyarakat yang melakukan pendidikan hanya melahirkan yang sifatnya anak-anak cerdas, tapi tumpul sikap dan empati sosialnya," ungkap Haedar.
Dalam perkembangannya, dunia pendidikan memerlukan pendekatan yang holistik, baik dari aspek ekosistemnya, sarana-prasarana hingga proses pembelajaran secara keseluruhan. (scp/ard)