- Tim tvOne - Sri Cahyani Putri
Biaya Hidup Menipis Pascagempa, Mahasiswa NTT di Yogyakarta Bertahan Hidup dengan "Ngebon" Hingga Cari Nasi Gratis di Warung
Yogyakarta, tvOnenews.com - Gempa bumi berkekuatan 7,7 magnitudo yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak hanya meninggalkan kekhawatiran bagi warga di daerah terdampak.
Sejumlah mahasiswa asal NTT yang sedang menempuh pendidikan di wilayah DI Yogyakarta turut merasakan dampaknya, terutama ketika dukungan biaya hidup dari keluarga mulai tersendat.
Jauh dari kampung halaman, mereka harus bertahan di tengah ketidakpastian kondisi keluarga. Komunikasi dengan orang tua menjadi salah satu hal yang paling dinantikan karena mereka ingin memastikan keluarga di NTT berada dalam kondisi aman.
Kondisi tersebut dialami oleh Vansianus Pasir. Mahasiswa STPMD "APMD" Yogyakarta mengaku hilang kontak dengan sang ibu beberapa hari usai gempa bumi melanda kampung halamannya pada 15 Agustus 2026 lalu. Hingga kini, dirinya masih menanti kabar dari sang ibu.
"Belum bisa komunikasi untuk kebutuhan saya disini (Yogyakarta). Kemungkinan besar ada dua, belum beli paketan atau belum nyala listrik," ujar Vansianus ditemui seusai penyerahan bantuan oleh Pemda DIY di Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Rabu (19/8/2026).
Selama menempuh pendidikan di Yogyakarta, Vansianus tinggal di sebuah indekos. Pascagempa, ia harus memutar otak demi bertahan hidup lantaran biaya hidup yang seharusnya sudah dikirim oleh sang ibu tak kunjung diterimanya.
Demi bertahan hidup, ia kemudian terpaksa berutang makanan bahkan mencari warung-warung yang menyediakan nasi gratis.
"Harusnya sudah (dapat kiriman biaya hidup). Untuk bisa nyambung (hidup) disini (Yogyakarta), saya ngebon ke warmindo-warmindo gitu. Kemarin, saya pesan nasi darurat. Itu saya sangat terbantu karena mama (komunikasi) belum aktif," ucap Vansianus.
Dia mengungkap bila sang ibu tinggal seorang diri di kampung halamannya NTT. Sementara, bapaknya sudah tidak ada dan kedua adiknya juga merantau di daerah lain.
"Mama sendirian di rumah. Bapak sudah tidak ada, adik-adik juga kuliah. Kami ada tiga bersaudara. Satunya di Malaysia, saya di Yogyakarta dan satunya di Surabaya," ungkap Vansianus.
Selain dari Pemda DIY, Vansianus mengaku sejauh ini belum ada bantuan dari manapun termasuk kampus tempat ia menempuh pendidikan di Yogyakarta.