- Tim tvOne - Sri Cahyani Putri
6 Gunung Erupsi Bersamaan Bukan Konspirasi, Pakar Vulkanologi UGM: Proses Alami Geologi
Disinggung terkait aktivitas erupsi yang terjadi akan membangun tubuh baru Anak Krakatau, Agung menyebut karena VEI direntang 1-3 sehingga lontarannya juga lokal. Dengan demikian, menumpuk di sekitar pusat erupsinya sehingga morfologinya akan terbangun.
Namun, yang menjadi permasalahan adalah di mana tubuh gunung api itu berdiri. Menurut studi yang sudah dilakukan, Gunung Anak Krakatau berdiri di atas tepi kaldera dari erupsi 1883, sehingga di bawah itu bukan suatu dataran yang stabil, tapi mungkin karena kaldera mesti ada tebing yang cukup terjal.
"Kemungkinan itu yang juga menyebabkan mudahnya longsor seperti di 2018. Itu sudah terbukti longsorannya cukup besar bisa menimbulkan ikutan, yaitu tsunami," ucap Agung.
Repotnya, BMKG dalam membangun peringatan tsunami berdasarkan gempa, karena yang dipantau adalah tsunami ikutan dari gempa bumi. Sedangkan, fenomena yang terjadi pada 2018 adalah tsunami ikutan dari longsoran gunung api.
Disini, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) juga tidak mempunyai data akan ada erupsi besar, karena memang erupsinya hanya berupa longsor.
Maka, harapannya ke depan bahwa perubahan morfologi dari gunung api yang harus dipantau juga untuk menghitung potensi adanya longsoran.
Terkait dengan sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang mengarah ke Samudra Hindia ketimbang Pulau Jawa dan Sumatera, Agung menjelaskan bahwa partikel abu vulkanik yang berukuran halus kemudian terbang karena pengaruh arah angin.
"Kalau bisa dicek juga di situsnya BMKG yang memantau arah anginnya itu ternyata tidak seragam. Di satu titik itu di ketinggian tertentu juga akan berbeda. Ketika abu vulkanik itu erupsinya ke atas sudah mencapai zona tertentu, maka arah anginlah yang akan mempengaruhi ke mana abu itu akan terbang," pungkas Agung. (scp/buz)